Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

28 Oktober 2011

Amis teh lain dina Gula wungkul

..bismillahirrohmaanirrohiim..

"Amis teh lain dina gula wungkul"
("manis bukan hanya pada Gula")

Kalimat "AMIS teh lain dina gula wungkul", mun diteuleuman lewih jero, lain ukur ngadongengkeun gula, boh gula bodas atawa gula beureum, sumawona ngadongengkeun madu atawa tiwu.

Kalimat nu siga kalimat eta loba pisan. Saperti "ASIN teh lain dina uyah wungkul", "LADA teh lain dina cengek wungkul", "HASEUM teh lain dina asem wungkul", "HEJO teh lain dina daun wungkul", jeung rea rea deui.

Leuwih ti eta mun dilebarkeun deui, khususna nyangkut paut kana diri pribadi, "PINTER teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "BODO teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "KEDUL teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "RAJIN teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "HARIWANG teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "SIEUN teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "ADIGUNG KUMULUHUNG teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", jeung rea rea deui.

Dina belajar netral, urang "balikeun" kalimatna, "PINTER teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "BODO teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "KEDUL teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "RAJIN teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "HARIWANG teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "SIEUN teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "ADIGUNG KUMULUHUNG teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak".

PINTER teh lain di urang jepang wungkul, di Urang Indonesia ge nyampak. Naha bade dianggo naon PINTER nu Alloh nu tumiba ka urang teh?

RAJIN teh lain di urang jepang wungkul, di Urang Indonesia ge nyampak. Naha bade dianggo naon RAJIN nu Alloh nu tumiba ka urang teh?

Mangga diteraskeun bae.. kana BODO sareng saterasna, tafakuraneun pikeun urang masing-masing.

Hal ieu diguar, utamana pikeun pribadi sanes bade mapatahan batur, ngarumasakeun diri loba keneh omeaneun, masih didikeun, binaeun, bejaaneun.

{(B. Indonesia)
"Manis itu tidak hanya dalam Gula"

Kalimat "Manis itu tidak hanya dalam Gula saja", klo difahami lebih dalam lagi, bukan hanya menceritakan gula saja, baik gula putih atau gula merah, begitupula menceritakan madu atau tebu.

Kalimat yang mirip seperti itu cukup banyak. Seperti:

"ASIN itu bukan hanya pada Garam saja",
"Pedas itu bukan hanya pada cabe rawit saja",
"ASAM itu bukan hanya pada buah Asem saja",
"HIJAU itu bukan hanya pada daun saja", dan sebagainya.

Lebih dari itu jika diperluas lagi, khususnya berkaitan dengan diri pribadi,

"PINTER itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai PINTAR / kePINTARan",

"BODOH itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai BODOH / keBODOHan",

"MALAS itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai MALAS / keMALASan",

"RAJIN itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai RAJIN / keRAJINan",

"KHAWATIR itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai KHAWATIR / keKHAWATIRan",

"TAKUT itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai TAKUT / keTAKUTan",

"SOMBONG itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai SOMBONG / keSOMBONGan", dan masih banyak lagi.

Dalam pembelajaran netral, kita "balikan" kalimatnya menjadi:,

"PINTER itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai PINTAR / kePINTARan",

"BODOH itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai BODOH / keBODOHan",

"MALAS itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai MALAS / keMALASan",

"RAJIN itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai RAJIN / keRAJINan",

"KHAWATIR itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai KHAWATIR / keKHAWATIRan",

"TAKUT itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai TAKUT / keTAKUTan",

"SOMBONG itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai SOMBONG / keSOMBONGan", dan masih banyak lagi.

(adapaun contoh lain seperti:)

PINTER itu tidak hanya pada orang-orang jepang saja, di orang-orang Indonesia-pun disertai PINTAR. Lantas mau dipakai apa PINTAR milik Alloh yang menyertai kita itu?

RAJIN itu tidak hanya pada orang-orang jepang saja, di orang-orang Indonesia-pun disertai RAJIN. Lantas mau dipakai apa RAJIN milik Alloh yang menyertai kita itu?

Silahkan lanjutkan.. pada contoh kalimat BODOH dan sebagainya, itu merupakan salah satu bahan tafakur kita masing-masing.

Hal ini dikemukakan, terutama untuk pribadi, bukan untuk menasihati orang lain, merasakan diri masih banyak yang harus diperbaiki, masih banyak butuh pembelajaran, masih butuh dibina, dan dinasihati.

04 Januari 2010

Gelar Abdul Jabbar

Dari tulisan yang saya baca pada sebuah thread membuat tertarik untuk menuangkan apa-apa yang didapat. Salah satunya seperti yang dikutip di bawah ini.

Abdul jabbar adalah hamba allah yg gagah perkasa...
kita-kita disini juga termasuk abdul jabbar....

Kalo boleh bertanya, kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya bagaimana, apakah saya dan anda dan semua orang, atau bagaimana?(pertanyaan ini perlu sekali dipertanyakan untuk mempermudah memahami kalimat selanjutnya)

Diasumsikan saja bahwa kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya adalah saya dan anda dan semua orang.

Jika kita merujuk kalimah "Lahaola Walaquwata ilabillahi aliyul adzim"(mohon maaf jika salah nulis transliterasinya), Tidak ada daya dan kekuatan milik saya yang menyertai saya, hanya lah daya dan kekuatan milik Allah lah yang menyertai saya.

Dari ayat tersebut di atas, bisa di ambil petikan, bahwa
- tidak ada daya dan kekuatan selain milik Allah
- saya(atau siapapun atau kita-kita) sangatlah tidak berdaya dan berkekuatan tanpa daya dan kekuatan milik Allah

Pembuktian bahwa kita tidak berdaya dan berkekuatan, jangankan untuk menumbuhkan badan untuk bisa tinggi dan besar, satu helai rambutpun, kita tidak pernah tahu, bagaimana proses membuatnya ataupun menghitamkannya ataupun memutihkannya, yang kita tahu hanyalah pada waktunya kita menghampiri tukang cukur untuk memotong rambut atau mendatangi salon untuk menyemir rambut. atau, pernahkah kita menyadari bahwa sesungguhnya kita ini dilayani 100% oleh kekuasaan Allah?

Ambil contoh saja saya(karena saya yang mengalaminya, kalo orang lain bukan saya yang mengalaminya), Ketika makan saja, saya dibantu oleh sendok, dan sendok diangkat oleh tangan lalu memasukan makanan yang berada disedok ke dalam mulut, lalu dikunyah di dalam mulut oleh gigi dan ditelan melalui tenggorokan, sampai proses itu saja banyak sekali yang melayani saya, seperti sendok, tangan, mulut, gigi, tenggorokan, kunyahan(gerakan di mulut), gerakan pada tangan. lebih jauh dari itu jika flashback, saya tidak perlu berabe membuat sendok, saya hanya tinggal pake sendok yang sudah tersedia di rumah, makanan pun saya tidak usah masak dulu, atau kalaupun harus masak dulu saya dilayani oleh badan ini, alat masak dan bahan masakan untuk memasak. (wuih... gak kehitung pokoknya yang ngelayanin saya hanya untuk proses makan), jika ditelusuri pada proses setelah menelan makanan, saya tidak perlu berabe misahin mana yang bakal dijadikan daging atau darah merah atau darah putih atau kulit atau rambut atau jaringan syaraf atau kuku atau hati atau antibodi atau kotoran dll. pokoknya mah saya terima beres semua, bukan kah itu ciri bukti kalo saya dilayani 100% oleh pangawasana Allah? (Alhamdulillah)

Jika "abdul jabbar ialah hamba allah yg gagah perkasa....", Nah Kita-kita ini siapa sih sebenarnya?? dimana letak gagah perkasa-nya kalo masih 100% dilayani oleh pangawasana Allah ta'alla?

Dari Riwayat yang diriwayatkan oleh salah satu sepuh, Mama Sepuh teu pernah ngaku mun mama teh Abdul Jabbar, malahan mah mun aya nu tos ti mama, di wawadian ku mama sepuh teh kieu "ulah nyebat tos ti Mama atawa tos ti Guru komo deui nyebat tos ti Mama Abdul Jabbar, sebat wae tos ti rerencangan atanapi tos ti wargi"
(Mama Sepuh gak pernah mengaku kalo mama itu Abdul Jabbar, malahan mah kalau ada yang sudah dari Mama, diperingati oleh mama sepuh itu begini "Jangan bilang udah dari Mama atau udah dari Guru apalagi bilang udah dari Mama Abdul Jabbar, bilang saja sudah dari teman atau sudah dari saudara")

Dari cerita di atas, sangat jelas Mama di sebut Mama atau Guru saja gak mau, apalagi disebut dengan gelarnya, pada cerita di atas, Mama menjelaskan sebuah pelajaran yang sangat berharga, menjelaskan bahwa Abdul Jabbar bukanlah Mama, Beliau hanyalah Manusia biasa. Mama ialah Mama, Abdul Jabbar ialah Abdul Jabbar, Namun oleh kehendakNya lah Mama digelari Abdul Jabbar. (ceuk urang sunda mah Teu Hayang-hayang komo embung, teu embung-embung komo hayang, estu sakersaNa kagungan Allah bae Mama kagelaran Abdul Jabbar).

Jika secara kata Abdul Jabbar>> Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa, maka bisa disebut "Abdul Jabbar" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa", "Abdul Jabbar" bukanlah "Mama", namun "Mama" kagelaran/digelari Oleh Kehendak-Nya dengan gelar "Abdul Jabbar", jadi yang "gagah perkasa" bukanlah "Mama" tapi yang "Gagah Perkasa" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya" yang tadi disebutkan yaitu atas Nama "Abdul Jabbar".

Mungkin itu yang saya dapat, mohon maaf jika tidak berkenan.

12 Oktober 2009

Bismillah dan Perkara dari Nama-nama Allah

Di kutip lagi dari sini

Bismillahirohmannirohiim = Dengan menyebut Nama Allah, Arrohman dan Arrohim.

Jelasnya Yaa Allahu, Yaa Arrohmanu, Yaa Arrohimu ialah Nama-nama Allah.
Arrohmanu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Panjang dari Dunia Sampai Akhirat.
Arrohiimu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Pendek hanya di Dunia saja.

Tinggal Kita, bagaimana mensikapi atau berprilaku, apakah akan berbuat yang melanggar undang-undang/aturan/hukum yang akibatnya bisa panjang juga sampai ke akhirat.

Atau sebaliknya, Berbuat kebaikan yang akibatnya juga sampai ke akhirat.

Nikmat panjang dan nikmat pendek ialah perkara dari jenengan-jenengan Allah nyaeta Arrohmanu dengan Arrohiimu.

Dari pelajaran yang saya dapat, Jenengan-jenengan Allah mah gak artikan, namun makna & perkaranya bisa di pelajari.
Seperti tulisan di atas, atau Yaa 'Alimu maknana He Dzat Nu Kagungan UNINGA (Wahai Dzat Yang Memiliki TAHU/PENGETAHUAN)
He Dzat Nu Ng-UNINGA-keun (Wahai Dzat Yang Men-TAHU-kan)
Yaa 'Alimu ialah Nama Allah yang Perkaranya Mengetahui/Pengetahuan (ada di sini)

Mun ngungkap Dzat Allah mah kasengker ku Dzat Laesya Kamislihi Syae'un, DZat nu teu bisa diperumpamakeun, atawa di sapertikeun. Mangka Hade bisi nyapertikeun atawa ngumpamakeun.

23 Maret 2009

Tasawuf atau Tak Sanggup?

Berikut sebuah dialog antara Asep dan Warya, Tokoh dalam cerita ini hanya fiktif belaka, nama dan kejadian telah disamarkan atas persetujuan yang bersangkutan: :D, semoga kita mendapat secerca ilmu yang bermanfaat di dunia maupun akhirat.
"Kang, Bagaimana nih keadaan negara kita ini?, sepertinya tambah ke sini malah tambah kacau", tanya Warya kepada kakak sepupunya, Asep.
"Negara yang mana?", Asep balik bertanya.
"Negara kita, Indonesia", jawab Warya. Beberapa waktu Asep temenung mendengar ucapan Warya sambil terus menghisap rokok yang mungkin sudah tinggal dua hisapan lagi.
"Negara kita, yah?", kata Asep dengan nada penuh pertanyaan, sambil tetap menerawang memandangi kepulan asap rokok yang dikepuskannya.
"Iyah, negara kita", kata Warya menegaskan, namun Warya telihat agak bingung melihat kelakuan sepupunya itu.
"Mana sertifikatnya, War?", tanya Asep sambil mematikan api pada rokok yang sudah sangat pendek.
Ditanya begitu Warya tambah bingung, yang tadinya cuma agak bingung sekarang sudah benar-benar bingung.
"Maksudnya, Kang?", tanya Warya. Asep cuma mengangguk-anggukkan kepala lalu mengambil bungkusan rokok keretek dan mengambilnya satu batang, kemudian menyalakannya dan terus melihat ke arah Warya.
"Iyah, mana sertifikatnya?", tanya Asep seperti mempermainkan Warya. Warya hanya termenung.
"Kamu tadi bilang negara kita, sedangkan kata kita sendiri menunjuk terhadap arah kepunyaan atau kata kepemilikan, terus kata negara diikuti kata kita yang berarti negara kepunyaan kita, nah Akang mau tahu, mana sertfikatnya, kalau memang negara itu milik kita?", kata Asep. Warya termenung sebentar.
"Yah enggak ada, Kang, ada juga KTP", kata Warya.
"Eh, tapi Kang maksudnya apaan sih ngomong kayak gitu?", tanya Warya lagi.
"Dalam Agama dijelaskan, bahwa tidak ada satupun milik kita, semuanya hanya milik Allah, termasuk kita. Nah kamu tadi bilang negara kita, sedangkan dari kalimat sebelumnya dapat diketahui bahwa negara Indonesia, atau negara lainpun tetap kepunyaan Allah. Jadi mungkin dalam berbahasa yang harus kita benahi jangan sampai maksud yang kita utarakan berbeda dengan pemahaman yang tiba pada orang lain, tapi bahasa yang keluar dari kita lain juga dengan maksudnya", jelas Asep pada Warya. Warya manggut-manggut tanda mengerti.
"Betul yah Kang, mungkin tadi tuh maksudnya negara yang kita diami yaitu Indonesia, kalau begitu gimana Kang?", tanya Warya.
"Nah kalau gitu tepat, tapi kamu juga lebih baik mengetahui dulu yang lebih kecil dari negara Indonesia yang kamu diami itu. Negara Indonesia itu terlalu luas untuk dipikirkan, sedangkan kita itu bukan aparat pemerintahan negara, nah kalau kita sekarang memikirkan Indonesia apa ada yang menggaji kita, mending jadi anggota DPR yang mikirin negara juga digaji, nah kalau kita?", kata Asep.
"Bukan begitu maksudnya Kang, kita kan sebagai warga negara apa salahnya sih memikirkan negara Indonesia ini, toh kita diami?", tanya Warya.
"Iya Akang ngerti, itu merupakan perhatian dari warga negara yang baik, yang memikirkan negara yang dicintainya, tapi apa itu dapat menjadi kebaikan bagi dirinya. Gimana kalau gini, misalnya sekarang kita ngomongin negara ngalor ngidul, padahal dirumah ada tanggungan, seperti anak dan istri yang harus setiap harinya kita kasih uang yang istilahnya agar dapur tetap ngebul. Nah kita disini ngomong tidak menghasilkan apa-apa, malah uangpun tidak kita dapat, nah jika itu dijadikan perbandingan kita pilih yang mana apa akan ngomongin negara atau kita berusaha dalam mencukupi kebutuhan hidup?" jelas Asep.
"Ya lebih baik bekerja, Kang", jawab Warya.
"Nah itu jelas, kan," komentar Asep."Eh Kang, tadi akang bilang kita lebih baik tau negara yang lebih kecil dari Indonesia, negara mana lagi Kang?, propinsi, kota, kecamatan, kelurahan? yang mana kang?", tanya Warya seperti keheranan.
"Bukan itu, kalau itu mah sudah termasuk pada negara Indonesia, yang ini mah lebih kecil lagi namun lebih leluasa bergeraknya dari pada negara Indonesia sampai-sampai dapat menemui negara-negara yang lain, negara itu adalah Negara badan. Setiap diri dibarengi oleh negara badan, baik kamu, Akang, dan yang lainnya pun dibarengi juga oleh negara badan. Nah sekarang kita berbicara, bertemu karena adanya negara badan, jadi negara badan dan negara badan bertemu, malahan mah bisa langsung ngobrol", Asep menjelaskan pada Warya.
"Tapi Kang, kalau negara mah kan ada penghuninya, kalau negara badan apa saja penghuninya?" Warya terus bertanya.
"Negara badan sangat banyak penghuninya dari mulai anggota tubuh yang terlihat dan yang tidak terlihat, juga yang dirasakan seperti panca indra, tenaga, keinginan, kebutuhan, ketidakinginan, senang, gembira, sedih, rindu dan lainnya lagi yang mungkin sangat banyak dan kita tidak mungkin mengungkapnya dalam satu hari atau mungkin tidak terhitung jumlahnya oleh kita, nah apakah itu sudah kita syukuri? atau jangan-jangan kita baru disadarkan pada hal tersebut, tapi itu lebih baik dari pada yang belum menyadari", tegas Asep sambil tersenyum.
"Nah jika bicara negara Indonesia, sebenarnya Negara Indonesia itu tidak apa-apa, yang apa-apa itu isi dari pada negara Indonesia, tapi kita yakini bahwa hal itu tidak terlepas dari ketentuan kepunyaan Allah, yang lebih penting mah bagaimana setiap negara badan berbuat, bertingkah laku dalam negara yang luas seperti Indonesia, apakah banyak melakukan kebaikan atau kejelekan. Kayaknya mah jika setiap negara badan yang ada di negara Indonesia berbuat baik pasti di Indonesia tidak akan kacau", kata Asep.
"Oh, kesitu toh arahnya", kata Warya sambil tersenyum.
"Wah si Akang, nyampe kesitu yah pemikirannya", kata Warya kagum.
"Jadi War, akang tau akan sesuatu itu ditaukan oleh kehendak Allah, bukan akang tau sesuatu itu sok tau", Asep menjelaskan sambil tetap merokok.Warya tertawa ngakak mendengar ucapan Asep seperti itu. Warya manggut-manggut lagi, kemudian ia tersenyum.
"Kang, kalau kata orang mah akang teh termasuk ahli tasawuf, karena akang berpikiran sampai sejauh itu, yang saya rasa mah jarang diketemukan orang berpikir sampai sejauh itu", kata Warya sambil tetap manggut-manggut.
"Bukan tasawuf akang mah tapi tak sanggup", kata Asep sambil mengepuskan asap rokok yang dihisapnya.
"Wah si akang mah bisa aja. Iya yah, tak sanggup berbuat dosa, bukan begitu kang?" tanya Warya.
"Eh, akang mah tak sanggup itu karena akang ditaukan bahwa sanggup dan tak sanggup itu kepunyaan Allah, akang hanya menikmati saja dari sanggup dan tak sanggup kepunyaan Allah itu", kata Asep.
"Wah wah wah, si Akang", Warya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kang nanti saya mau belajar lagi ah sama Akang", pinta Warya pada Asep.
"Yah, kita sama-sama belajar, untuk menemukan kebenaran dan ketepatan dalam hal kita beribadah", kata Asep singkat.
"Iya yah Kang. Eh Kang saya mau pergi dulu ada urusan yang belum diselesaikan", kata Warya sambil menyodorkan tangan mengajak salaman pada Asep, kemudian keluar rumah dan pergi meninggalkan Asep.
"Asalamu'alaikum", kata Warya.
"Wa'alaikum salam", jawab Asep.

18 Februari 2009

Ungkapan Tauhid (lagi)

Banyak yang berpendapat "Eh.. Kalau Ajaran dari mama teh beda dari yang umum(red:kebanyakan orang mempelajarinya)", memang benar, tapi dari segi mana bedanya?, karena yang mama pelajari sama yaitu Al Qur'an. Masih dari pengetahuan yang menyertai saya, Bedanya yaitu pada penjelasan KeTauhidan. Ketika mama masih jumeneng(red:Ada secara jasmani/lahir), para ulama pada waktu itu merasa penjelasan tentang KeTauhidan dari sareat mama teh terlalu tinggi, atau/dan sangat bertolak belakang dari pemahaman ketauhidan kebanyakan pada waktu itu. Padahal bukan bertolak belakang, namun kejelasan tentang ketauhidan dijelaskan begitu eces jentre (red:jelas).

Contoh:
salah satu ungkapan Seorang Ulama mengenai ketauhidan:
Tangan kita ialah milik Allah, Mata Kita ialah milik Allah, badan kita ialah milik Allah, jadi sudah semestinya kita menta'ati aturan Allah.

Coba bandingkan dengan contoh ungkapan dari penjelasan ketauhidan oleh sareat mama amilin:
Tangan yang menyertai kita, Mata yang menyertai kita, badan yang menyertai kita dan Kita-nya sendiri ialah milik Allah, jadi sudah semestinya kita menta'ati aturan Allah.

Contoh Lain:
Dalam buku-buku atau tulisan-tulisan dari seorang ulama/kiai ternama biasanya tertulis begini: "Allah berfirman pada surat Sekian ayat sekian",

Coba bandingkan dengan tulisan-tulisan pada buku yang ditulis oleh sareat mama Amilin: "Allah Ta'alla geus ngadawuhkeun dina Al Qur'an"(red:"Allah Ta'alla sudah memfirmankan di/pada AlQur'an")

kata Berfirman dan ngadawuhkeun/Memfirmankan, Sangatlah berbeda maknanya. Karena tidak ingin terjuluk musrik, mama menulisnya ngadawuhkeun/Memfirmankan, Kalau mengatakan "Allah berfirman/berkata" berarti mempersamakan Allah dengan Manusia yang suka berkata-kata, berarti juga keterangan "Dzat Laesya kamislihi Syae'un" tidak dianggap/dianggap batal. (Sekedar untuk renungan, mangga bilih bade mikiran langkung tebih mah).

Pernah ada yang bilang "Berkata-nya Allah mah berbeda dengan Berkata-nya Manusia"
(Komen:Yang namanya berkata mah ya berkata, kalo basa sundanya mah ngadawuh/nyarios, kalo inggrisnya mah Says, kata indonesia yang lainnya mah berfirman, kalo bilang seperti di atas, kayaknya tidak ada bedanya Manusia dengan yang Memiliki Manusia, Kalo mempersamakan mahluk dengan yang memiliki Mahluk oleh Hukum/Al Qur'an disebut Apa yaaaa????)

Penjelasan Hal ketauhidan inilah, yang sangat membuat tingkatan pengetahuan yang diperoleh mama Amilin begitu tinggi, yang kalau nggak salah, sesuai dengan penjelasan pada buku yang ditulis oleh mama Amilin yang berjudul KITAB TAUHID, bahwa "Ketauhidan ialah pengetahuan dasar agama islam yang sangat tinggi tingkatannya"
(Komen:Ongkoh Dasar, tapi tinggi, setau yang menyertai saya mah kalo Dasar mah di handap(red:di bawah), tapi ieu mah tinggi.....ccckkk... itulah perbadaannya dengan yang banyak dipelajari orang, hese kapikir mun teu dikersakeun mah)

Ajaran Mama Amilin dan Melebu

Setelah sekian lama tidak menuliskan sebuah postingan di thread, saya merasa tertarik dari pertanyaan seorang teman, "apakah mempelajari dan mengamalkan ajaran Mama Amilin hanya sekadar untuk melebu?", pertanyaan yang luar biasa, mengapa dikatakan luar biasa? karena hal tersebut membuat saya jadi berpikir keras untuk dapat memahaminya dan mengetahui jawaban yang pas dan pantas untuk pertanyaan tersebut. Berikut ialah tulisan yang dipost untuk menanggapi pertanyaan tersebut:
Di kersakeun Melebu atawa henteu, eta mah sanes karep urang, Eta mah teu beunang dihayang-hayang atawa diembung-embung. Ku kersana nu kagungan bae dikersakeun melebu atanapi henteuna mah. Mama kantos nyaurkeun kieu, "Kanggo nu teu dikersakeun melebu teu kedah alit manah, da biasana nu teu dikersakeun mah di ajar kana katerangan(red:Al Qur'an) teh leuwih apik tur soson-soson"
(endone-maneh:)
Dikehendaki melebu atau tidak, itu mah bukan kehendak kita, itu mah tidak dapat diminta atau tidak dapat ditolak, oleh kehendak Yang Maha Memiliki saja dikehendaki melebu atau tidaknya mah. Mama pernah berkata begini "Untuk yang tidak bisa melebu tidak usah berkecil hati, biasanya yang ditidak bisakan mah, belajar Keterangan(red:Al Qur'an) itu lebih apik dan sungguh-sungguh"
Kalimat ajaran Mama Amilin dari pertanyaan di atas tidak luput dari pemikiran, istilah Ajaran Mama Amilin memang timbul baru-baru ini, atau mungkin udah lama, namun yang saya ketahui, istilah itu kurang pas, karena yang mama Amilin sendiri pelajari dan amalkan adalah Ajaran Al Qur'an. Jadi kalo kita mengatakan ini adalah Ajaran Mama Amilin atau Ajaran Mama Amilin Abdul Jabbar, rasanya gimana gituh....??? Sepertinya Ada lagi ajaran baru selain AlQur'an. Padahal Setelah AlQur'an teh Tidak ada lagi yang dapat menggantikannya.

28 Januari 2009

Bodoh Karena Apa?

Ada yang bertanya begini:
"kebodohan manusia apakah karena kesalahan Allah SWT ?"
Bingung Juga jawabnya.
Malah muncul pertanyaan dalam diri "Bagaimana Jika begini?"

"keBODOHan manusia karena BODOH milik Allah SWT"
"kePINTARan manusia karena PINTAR milik Allah SWT"
"keLUPAan manusia karena LUPA milik Allah SWT"
"keRAJINan manusia karena RAJIN milik Allah SWT"
"keCANTIKn manusia karena CANTIK milik Allah SWT"
"keTELEDORan manusia karena TELEDOR milik Allah SWT"
"keSALAHANan manusia karena SALAH milik Allah SWT"
"keBAIKan manusia karena BAIK milik Allah SWT"
DLL..

mmmmmm...????

21 Januari 2009

Tauhid dengan Bismillah

Berikut Kutipan yang dikutip dari buku yang ditulis oleh Mama H. Amilin. yang disampulnya berjudul "Kitab Tauhid". Buku Aslinya berupa tulisan tangan dengan huruf arab dan basa sunda. berikut transliterasinya kedalam tulisan latin:
ALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘ALAMIN, ASHOLAATU WASSALAMU ‘ALA ASYROFIL AN BIYAA I WAL MURSALIN, SYAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WASHOHBIHI AJMA’IIN, AMMA BA’DU

Tangtos pisan sadayana nu nganut kana agama Islam mah moal aya anu hanteu terang kana kalimah Al Basmallah malihan anu hanteu nganut kana agama Islam ogé, seueur anu terangeun.
(Sangatlah Tentu, semua yang menganut agama Islam tidak ada yang tidak tahu terhadap kalimah Al Basmallah, malahan yang tidak menganut agama islam juga banyak yang mengetahui)

Ari margina kalimah Al Basmallah téh upami bangawan mah, lir ibarat sirahna atawa hulu wowotanana, ngan ari kalimah Al Basmallah mah sirahna kalimah Surat-Surat Al Qur'an. Barang ari Al Qur'an éta poko undang-undang dasar agama Islam, atuh kalimah Al Basmallah téh hulu wowotan agama Islam.
(alasannya kalimah Al Basmallah itu jika diibaratkan Sungai, ibarat Kepala atau Hulu/Sumber sungainya, hanya saja Kalimah Al Basmallah adalah Kepala Kalimah Surat-surat AlQur'an. Dan Al Qur'an itu adalah Pokok Undang-undang Dasar Agama Islam, Jadi Kalimah Al Basmallah itu ialah Sumber Agama Islam)

Lamun anu diajar agama Islam tina kalimah Al Basmallah heula, éta lir ibarat anu mapay bangawan ti girang ka hilirkeun, tangtu moal sasab, moal nyalahan kanu walungan kanu ngamuara, kana éta bangawan.
(Jika Belajar Agama Islam dari Kalimah Al Basmallah terlebih dahulu, itu seperti yang menyusuri Sungai dari Hulu ke Hilir, tentu tidak akan tersesat, tidak akan salah arah ke Sungai yang bermuara ke Sungai itu)

Tapi sabalikna anu mapay bangawan ti hilir kagirangkeun tangtu aya sasabna nyaéta dimana manggih muara, lamun hanteu aya nu nuduhkeun atawa aya nu nuduhkeun ogé dumadak hanteu percaya kanu nuduhkeun, lantaran walungan anu ngamuara téh sarua gedéna jeung bangawan anu dipapay téa atawa leuwih gedé. Atuh jadi kana sasabna baé.
(tapi Sebaliknya, yang menyusuri sungai dari hilir ke hulu, tentu akan tersesat seperti ketika menemukan muara, Jika tidak ada yang menunjukkan atau pun ada yang menunjukkan juga mendadak tidak akan percaya kepada yang menunjukkan jalan, sebab sungai yang bermuara tersebut sama lebarnya dengan Sungai yang disusuri sebelumnya malahan lebih lebar, tentulah Jadi tersesat)

Nya kitu nu diajar agama Islam, nyukcrukna tina hulu wowotanana heula, nyaéta tina kalimah Al Basmallah tangtu moal sasab margi ti girang ka hilirkeun, jadi dina nganyahokeun Tauhid ka Allah Ta'alla téh moal musrik, nyaéta nyasamakeun atawa nyarupakeun Allah Ta'alla jeung mahlukna, saperti itikadna jeung pangucapna nu hanteu nganut agama Islam.
(Begitu Juga yang belajar agama islam, menyusurinya dari hulu/sumbernya dahulu, yaitu dari kalimah Al Basmallah, tentu tidak akan tersesat sebab dari Hulu ke hilir, jadi dalam mengetahui Tauhid Kepada Allah Ta'alla itu tidak akan Musrik, yaitu menyamakan atau menyerupakan Allah Ta'allah dengan mahluk-Nya, Seperti Itikadnya dan Ucapannya yang tidak menganut agama islam)

Dari tulisan kutipan di atas ditegaskan bahwa untuk belajar agama islam, agar dimulai dengan mempelajari Kalimah Al-Basmalah karena merupakan sumber dari agama islam.
Bismillahirohmannirohiim = Dengan menyebut Nama Allah, Arrohman dan Arrohim.

Jelasnya Yaa Allahu, Yaa Arrohmanu, Yaa Arrohimu ialah Nama-nama Allah.
Arrohmanu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Panjang dari Dunia Sampai Akhirat.
Arrohiimu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Pendek hanya di Dunia saja.

Tinggal Kita, bagaimana mensikapi atau berprilaku, apakah akan berbuat yang melanggar undang-undang yang akibatnya bisa panjang juga sampai ke akhirat.

Atau sebaliknya, Berbuat kebaikan yang akibatnya juga sampai ke akhirat.

nb:
Dari pengalaman yang saya alami, setiap saya berkumpul dengan baraya di Bandung, jika membahas suatu topik, pembahasan tidak pernah lepas dari Bismillah, malahan hampir setiap pertemuan, setiap pembahasan, kembali dan kembali lagi pada bismillah, memang apa yang tertulis dalam kitab itu terbukti pada saya.

06 Juli 2008

Kutipan mengenai KeTauhidan

Sedikit kutipan mengenai hal "ketauhidan dalam ajaran atas nama islam"

Dzat Allah ialah dzat mutlak, "Dzat Laesa Kamislihi sae'un" Dzat yang tidak bisa diperumpamakan atau dipersamakan. Dalam surat Al Ikhlas, dikatakan bahwa tidak satupun yang menyamai-Nya. Dzat Allah ialah yang memiliki Semua mahluk baik yang di langit maupun di Bumi (Q.S Anissa,126).

"Ada" ataupun "Tidak Ada" ialah milik Allah SWT, bagaimana mungkin Allah dikenai Sifat Milik Allah??,
sedangkan dikatakan bahwa "Dzat Allah ialah Dzat yang tidak bisa diperumpamakan atau dipersamakan.", jika kita mempersamakan Dzat Allah dengan Dzat MAhluk, apa sebutannya untuk yang mempersamakan Dzat Allah tersebut??

"Ada" ataupun "Tidak Ada" ialah milik Allah SWT yang menyertai Mahluk-mahluk Lainnya, seperti mahluk yang disebut jasad manusia disertai oleh sifat "ADA" karena terlihat oleh pandangan, dan teraba oleh rabaan, sedangkan "pandangan/penglihatan" disertai oleh sifat "tidak ada" karena tidak terlihat dan tidak teraba, namun ternikmati oleh yang menikmatinya(seperti oleh atas nama manusia)

Jika ada pertanyaan, "apakah Allah itu Ada atau tidak??", bagaimana menjawabnya?? sedangkan Dzat Allah yang memiliki mahluk dengan Sebutan "Ada" dan "tidak Ada"??

Tadi disebutkan bahwa Dzat Allah lah yang memiliki semua mahluk di Bumi dan di langit, Apa sebutannya bagi seseorang yang mengambil alih kepemilikan dengan menyebut bahwa ia memiliki Allah/TUHAN??? dengan mengatakan "bahwa Tuhan saya berbeda dengan Tuhan anda" sedangkan ia sendiri Adalah mahluk Milik Allah yang disertai dengan daya dan kekuatan milik Allah?? dan apa sebutannya bagi yang mengambil Alih kepemilikan dengan menyebut bahwa surga adalah miliknya, sedangkan ia dan surga ialah milik Allah??

pada Surat AlIkhlas menjelaskan
"Katakan (oleh kamu Muhammad): Allah Itu Satu (Nama)"
penjelasannya: ALLAH ialah satu nama dzat yang pasti ada namanya.
satu disini menyebutkan terhadap nama, bukan kepada Dzat Allah, karena dzat Allah tidak dikenai sifat bilangan baik satu ataupun banyak, minus ataupun nol, Dzat Allah ialah yang memiliki sifat bilangan. sifat bilangan tiba pada mahluknya.
contoh sifat satu tiba pada mahluk Allah yang bernama Matahari, namun sifat banyak tiba pada mahluk seperti manusia.

masih pada Surat AlIkhlas diterangkan
"Tidak ada satupun yang dapat menyamainya", jelas sekali dalam ayat lain pada penjelasan alQur'an disebutkan "Dzat Laesa Kamislihi Sae un", Dzat yang tidak bisa diperumpamakan/dipersamakan. Jadi Dzat Allah tidak dikenai oleh sifat - sifat milik Allah. Sifat-sifat milik Allah menyertai mahluk-mahluk Allah.

masih penjelasan AlQur'an,
"Wa La tafakaru fil kholqi wala tatafakaru fil Kholiqi"
jangan berfikir bagaimana Allah, tatapi berpikirlah tentang apa-apa yang sudah dijadikanNya.

Berpikir bagaimana Allah, tidaklah akan terpikir, segala sesuatu yang berpikir mengenai bagaimana Allah tentulah akan melenceng karena segala macam pikiran (baik ataupun buruk) adalah milik Allah.

Sok ah... kumaha tah??