Tampilkan postingan dengan label Al Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Qur'an. Tampilkan semua postingan

13 Oktober 2009

Hukum: Berlaku untuk Siapa?

Jadi emut carita ti kapi raka sebat wae Aa(nama disamarkan ), suatu hari aya salah sawios palaputra sebat wae Kang akung(nama disamarkan oge), ngobrol sareng anjeunna, obrolana kirang langkung sapertos kieu:

Kang akung: "A, di daerah nyahnyehnyoh(nama tempat disamarkan) diajarkeun pemahaman teu ngalakonan puasa dina waktu ramadhan teu nanaon, malahan mah cenah teu perlu"

Aa: "nya enya atuh"

Kang Akung: "Maksudna A?" (nanya bari bingung)

Aa: "nya enya apanan mun ti magrib nepi ka subuh, urang sok dahar jeung nginum"

Kang Akung: "eh sanes kitu, maksad teh, ti subuh nepi ka magrib, atawa beurang bulan puasa"

Aa: "nyata pisan nya, obrolan ti mama mos(embos prawira(alm)), yen Hukum/Qur'an teh berlaku keur nu manurut"

Kang Akung: "Maksudna A?"(bari kerung-kerung tarangna teh)

Aa: "Enya, Hukum ku nu manurut mah bakal diturut dan berlaku, pikeun nu teu manurut mah bororaah di turut atawa digugu malahan mah teu berlaku sama sakali ceuk maranehanana mah, da nu berlakuna keur nu teu manurut mah sakahayang maranehanana, sanajan akuanana mah palaputra mama"

Sim kuring anu ngadangu carita siga diluhur, merasakan diri, apakah saya ini termasuk orang-orang yang memberlakukan AlQur'an sebagai pedoman hidup atau termasuk orang-orang yang tidak memberlakukan AlQur'an untuk jadi pedoman hidup?? (masih mikir-mikir, sieun ku bisi, rempan ku sugan, jangan2..... wuih... jangan2... Semoga...)

Ayat AlQur'an yang Menyelamatkan

Suka ada-ada saja yang terlintas dalam diri ketika membaca sebuah statement atau pernyataan dan pertanyaan dari orang lain seperti membaca tulisan dari seorang sahabat yang katanya begini:
Cobi terangkeun ayat mana wae di Al Quran anu bakal nyalametkeun urang....?? jeung saha anu bakal nyalametkeun diri urang.teh.???
di kitab mama sepuh aya sok buka..tah nu gaduh koleksi buku nu lengkap..mangga
Ayat Qur'an anu bakal nyalametkeun nyaeta ayat Qur'an nu teu nyilakakeun.
Mun nu bakal nyalametkeun diri, nya urang pisan. Urang diterapan elmu jeung akal, diterapan budi pamilih. Resep kana pisalameteun atawa picilakaeun? mangga dipilih, di timbang timbang. Resep wungkul kana pisalameteun can tangtu bakal salamet, sabab kudu dipigawe mun hayang salamet mah, eta tata cara pisalameten teh. Carana Kumaha? pan tadi disebutkeun, urang diterapan ku elmu jeung akal, naha dipake naon wae eta elmu jeung akal teh? naha dipake mempelajari kana hukumna Alloh Ta'alla atawa henteu? Sigana... sigana ieu mah... mun saeutikna diajar mah, apal tata carana.
(endone-maneh: Ayat Qur'an yang akan menyelamatkan yaitu ayat Qur'an yang tidak mencelakakan.
Kalo yang akan menyelamatkan Diri, ya Kita. Kita disertai ilmu dan akal, disertai hak memilih. Suka pada yang Menyelamatkan atau yang mencelakakan? Silahkan pilih, ditimbang-timbang. Jika Hanya Suka pada yang menyelamatkan belum tentu akan selamat, sebab harus dikerjakan kalo ingin selamat mah, itu tata cara keselamatan. Gimana caranya? kan tadi disebutkan, Kita disertai ilmu dan akal, Dipakai apa saja ilmu dan akal itu? apakah dipake mempelajari hukum-hukum nya Alloh Ta'alla atau tidak? Kayaknya... ini mah kayaknya... kalau sedikitnya mempelajari mah, akan hapal tata caranya.)

Mun teu kaharti kumaha?

Tertarik pada sebuah pertanyaan dari seorang teman yang katanya:
Betul belajar Al Quran..tidak sesat mun kaharti..mun teu kaharti kumaha..???

Dan saya "tergelitik" untuk menuliskan sesuatu walaupun dengan keterbatasan penguasaan materi :D
Dumasar kana pelajaran nu didapatkeun mah kieu, Nya Mun teu kaharti mah taroskeun deui, Antosan nepi kadongkap eta HARTI/NGARTI. sabab HARTI teh lain DIRI PRIBADI. Mun DIRI PRIBADI eta HARTI, atuh teu kudu tunya tanya deui da geus kaharti. eta cirining diri butuh ku NGARTI atawa HARTI, oge butuh ku nu sejenna deui.
(endone-maneh: Ikutan ah... mohon maaf sebelumnya, berdasakan pada pelajaran yang saya dapatkan, Ya Kalo gak ngerti mah tanyain lagi, Tunggu sampai datangnya NGERTI/PENGERTIAN. Sebab Ngerti bukan Lah DIRI PRIBADI, kalau DIRI PRIBADI adalah NGERTI. ya nggak usah Nanya Lagi karena sudah Mengerti. Itu Ciri DIRI butuh NGERTI/PENGERTIAN, juga Butuh yang lainnya Juga)

Pangalaman yang teralami ku sim kuring, dimana suatu pernyataan teu kaharti/tidak mengerti, suka ditanyakan ulang kepada nara sumber atau seseorang yang diperkirakan mengetahui jawabannya, dimana jawaban masih tidak dimengerti, cukup sudah sampai disitu, namun setiap perbincangan mengenai pertanyaan dan jawaban yang tersebut tadi, akan selalu diingat-ingat / dicatat, dan Alhamdulillah selalu datang itu HARTI/PENGERTIAN, meskipun waktunya tidak tentu, bisa jadi 2 menit atawa 2 jam atawa 2 hari atawa 2 minggu atawa 2 tahun atawa atawa lainnya. yang penting bersyukur, jawaban yang dulu pernah diterima dapat dimengerti pada waktunya.. Amien...

15 September 2009

Kifarat

Dari pengetahuan yang saya pelajari, selama saya mempelajari pengetahuan dari berbagai sumber, Kifarat bukan merupakan suatu cara penghapusan dosa tapi merupakan suatu denda, dari apa-apa yang telah kita lakukan selama ini. Kalau yang namanya denda berarti ada kelakuan yang kita lakukan yang melenceng dari aturan. karena jika tidak keluar dari aturan, mana mungkin kita kena denda.

Kalau pada jaman dulu mama sepuh masih ada, perhitungan jumlah denda, dapat langsung ditanyakan sama mama sepuh melalui proses tertentu, dan ada beberapa orang yang ditaukan caranya. Dan melalui cara tertentu tersebut dapat diketahui jumlahnya. Namun pengetahuan Allah tidak sama sekali hanya terbatas pada waktu itu saja, dari waktu ke waktu terjadi perkembangan cara perhitungan, yang tidak lain itu ialah perkembangan cara terdahulu, dan itu dapat dilakukan oleh setiap orang (mun ceuk kasarna mah, mama teh ngagehan, teu ukur mama wungkul nu dibisakeun cara ngitungna teh, palaputrana oge sadayana tiasa ngitungna, khususna pikeun pribadina sewang-sewangan, kumaha carana ngitung denda keur pribadina = kasarnya, mama sisakan(untuk bertafakur, mencari padanannya untuk saat ini), tidak hanya mama yang dibisakan cara berhitung, palaputranya juga semuanya bisa menghitungnya, khususnya untuk pribadinya masing-masing, bagaimana caranya menghitung denda untuk pribadinya).

Cara yang diketemukan dari perkembangan tadi, biasanya jika kita telah berniat untuk kifarat, senilai sekian akan diketahui oleh pribadi masing-masing(caranya bisa bervariasi ada yang lewat "bisikan" pada diri masing-masing, atau yang lainnya), sesuai perbuatan yang dikenai kifarat/denda tersebut. Jika kita memang telah menyanggupinya dan rezeki untuk membayarnya telah siap, tidak ada salahnya kita berikan langsung sejumlah denda tersebut kepada yang berhak menerimanya. Yang berhak menerimanya ialah sama dengan yang berhak menerima zakat fitrah, shodakoh dll yaitu yang termasuk 9 lapangan. dengan memberikanya langsung kepada yang berhak, setidaknya kita telah mencontoh apa yang telah mama lakukan, yaitu sebagai AMILIN.

Cara-cara yang biasa dilakukan dalam melaksanakan kifarat ialah dengan bertanya kepada sesepuh yang masih ada, atau kepada yang kita tuakan yang juga ditaukan cara perhitungannya, dan setelah tau jumlah yang harus kita keluarkan, kita menitipkannya kepada sesepuh itu. dan kalau ditafakuri yang mencontoh mama sepuh hanya sesepuh yang kita titipi denda tadi, mereka sebagai AMILIN, dan kita hanya sebagai penitip denda, Bagaimana jika kita ikut mencontoh sebagai AMILIN, dengan cara memberikan langsung Denda/kifarat tadi kepada yang berhak.

Mungkin dari penjelasan mengenai perkembangan cara perhitungan ini masih banyak yang baru mendengar, dan di sini saya tidak dalam kapasitas untuk mempengaruhi siapapun, hanya berbagi pengetahuan bukan untuk mengubah ajaran yang sudah ada. Untuk yang masih nyaman/cocok dengan cara seperti biasa, boleh-boleh saja tidak ada larangan. Dan perkembangan apapun dalam proses menemukan, tidak hanya monoton seperti jaman dulu, sekarang jaman sudah berubah drastis, dan perkembangan mengikuti jamannya, namun tetap tidak keluar dari hukum yang tertentu yaitu AlQur'an. Semoga informasi ini bermanfaat, mohon maaf atas segala kekurangannya.

(info di atas disarikan dari obrolan dengan beberapa sesepuh, moal disebutkeun ah saha-sahana mah :) )

23 Maret 2009

Tasawuf atau Tak Sanggup?

Berikut sebuah dialog antara Asep dan Warya, Tokoh dalam cerita ini hanya fiktif belaka, nama dan kejadian telah disamarkan atas persetujuan yang bersangkutan: :D, semoga kita mendapat secerca ilmu yang bermanfaat di dunia maupun akhirat.
"Kang, Bagaimana nih keadaan negara kita ini?, sepertinya tambah ke sini malah tambah kacau", tanya Warya kepada kakak sepupunya, Asep.
"Negara yang mana?", Asep balik bertanya.
"Negara kita, Indonesia", jawab Warya. Beberapa waktu Asep temenung mendengar ucapan Warya sambil terus menghisap rokok yang mungkin sudah tinggal dua hisapan lagi.
"Negara kita, yah?", kata Asep dengan nada penuh pertanyaan, sambil tetap menerawang memandangi kepulan asap rokok yang dikepuskannya.
"Iyah, negara kita", kata Warya menegaskan, namun Warya telihat agak bingung melihat kelakuan sepupunya itu.
"Mana sertifikatnya, War?", tanya Asep sambil mematikan api pada rokok yang sudah sangat pendek.
Ditanya begitu Warya tambah bingung, yang tadinya cuma agak bingung sekarang sudah benar-benar bingung.
"Maksudnya, Kang?", tanya Warya. Asep cuma mengangguk-anggukkan kepala lalu mengambil bungkusan rokok keretek dan mengambilnya satu batang, kemudian menyalakannya dan terus melihat ke arah Warya.
"Iyah, mana sertifikatnya?", tanya Asep seperti mempermainkan Warya. Warya hanya termenung.
"Kamu tadi bilang negara kita, sedangkan kata kita sendiri menunjuk terhadap arah kepunyaan atau kata kepemilikan, terus kata negara diikuti kata kita yang berarti negara kepunyaan kita, nah Akang mau tahu, mana sertfikatnya, kalau memang negara itu milik kita?", kata Asep. Warya termenung sebentar.
"Yah enggak ada, Kang, ada juga KTP", kata Warya.
"Eh, tapi Kang maksudnya apaan sih ngomong kayak gitu?", tanya Warya lagi.
"Dalam Agama dijelaskan, bahwa tidak ada satupun milik kita, semuanya hanya milik Allah, termasuk kita. Nah kamu tadi bilang negara kita, sedangkan dari kalimat sebelumnya dapat diketahui bahwa negara Indonesia, atau negara lainpun tetap kepunyaan Allah. Jadi mungkin dalam berbahasa yang harus kita benahi jangan sampai maksud yang kita utarakan berbeda dengan pemahaman yang tiba pada orang lain, tapi bahasa yang keluar dari kita lain juga dengan maksudnya", jelas Asep pada Warya. Warya manggut-manggut tanda mengerti.
"Betul yah Kang, mungkin tadi tuh maksudnya negara yang kita diami yaitu Indonesia, kalau begitu gimana Kang?", tanya Warya.
"Nah kalau gitu tepat, tapi kamu juga lebih baik mengetahui dulu yang lebih kecil dari negara Indonesia yang kamu diami itu. Negara Indonesia itu terlalu luas untuk dipikirkan, sedangkan kita itu bukan aparat pemerintahan negara, nah kalau kita sekarang memikirkan Indonesia apa ada yang menggaji kita, mending jadi anggota DPR yang mikirin negara juga digaji, nah kalau kita?", kata Asep.
"Bukan begitu maksudnya Kang, kita kan sebagai warga negara apa salahnya sih memikirkan negara Indonesia ini, toh kita diami?", tanya Warya.
"Iya Akang ngerti, itu merupakan perhatian dari warga negara yang baik, yang memikirkan negara yang dicintainya, tapi apa itu dapat menjadi kebaikan bagi dirinya. Gimana kalau gini, misalnya sekarang kita ngomongin negara ngalor ngidul, padahal dirumah ada tanggungan, seperti anak dan istri yang harus setiap harinya kita kasih uang yang istilahnya agar dapur tetap ngebul. Nah kita disini ngomong tidak menghasilkan apa-apa, malah uangpun tidak kita dapat, nah jika itu dijadikan perbandingan kita pilih yang mana apa akan ngomongin negara atau kita berusaha dalam mencukupi kebutuhan hidup?" jelas Asep.
"Ya lebih baik bekerja, Kang", jawab Warya.
"Nah itu jelas, kan," komentar Asep."Eh Kang, tadi akang bilang kita lebih baik tau negara yang lebih kecil dari Indonesia, negara mana lagi Kang?, propinsi, kota, kecamatan, kelurahan? yang mana kang?", tanya Warya seperti keheranan.
"Bukan itu, kalau itu mah sudah termasuk pada negara Indonesia, yang ini mah lebih kecil lagi namun lebih leluasa bergeraknya dari pada negara Indonesia sampai-sampai dapat menemui negara-negara yang lain, negara itu adalah Negara badan. Setiap diri dibarengi oleh negara badan, baik kamu, Akang, dan yang lainnya pun dibarengi juga oleh negara badan. Nah sekarang kita berbicara, bertemu karena adanya negara badan, jadi negara badan dan negara badan bertemu, malahan mah bisa langsung ngobrol", Asep menjelaskan pada Warya.
"Tapi Kang, kalau negara mah kan ada penghuninya, kalau negara badan apa saja penghuninya?" Warya terus bertanya.
"Negara badan sangat banyak penghuninya dari mulai anggota tubuh yang terlihat dan yang tidak terlihat, juga yang dirasakan seperti panca indra, tenaga, keinginan, kebutuhan, ketidakinginan, senang, gembira, sedih, rindu dan lainnya lagi yang mungkin sangat banyak dan kita tidak mungkin mengungkapnya dalam satu hari atau mungkin tidak terhitung jumlahnya oleh kita, nah apakah itu sudah kita syukuri? atau jangan-jangan kita baru disadarkan pada hal tersebut, tapi itu lebih baik dari pada yang belum menyadari", tegas Asep sambil tersenyum.
"Nah jika bicara negara Indonesia, sebenarnya Negara Indonesia itu tidak apa-apa, yang apa-apa itu isi dari pada negara Indonesia, tapi kita yakini bahwa hal itu tidak terlepas dari ketentuan kepunyaan Allah, yang lebih penting mah bagaimana setiap negara badan berbuat, bertingkah laku dalam negara yang luas seperti Indonesia, apakah banyak melakukan kebaikan atau kejelekan. Kayaknya mah jika setiap negara badan yang ada di negara Indonesia berbuat baik pasti di Indonesia tidak akan kacau", kata Asep.
"Oh, kesitu toh arahnya", kata Warya sambil tersenyum.
"Wah si Akang, nyampe kesitu yah pemikirannya", kata Warya kagum.
"Jadi War, akang tau akan sesuatu itu ditaukan oleh kehendak Allah, bukan akang tau sesuatu itu sok tau", Asep menjelaskan sambil tetap merokok.Warya tertawa ngakak mendengar ucapan Asep seperti itu. Warya manggut-manggut lagi, kemudian ia tersenyum.
"Kang, kalau kata orang mah akang teh termasuk ahli tasawuf, karena akang berpikiran sampai sejauh itu, yang saya rasa mah jarang diketemukan orang berpikir sampai sejauh itu", kata Warya sambil tetap manggut-manggut.
"Bukan tasawuf akang mah tapi tak sanggup", kata Asep sambil mengepuskan asap rokok yang dihisapnya.
"Wah si akang mah bisa aja. Iya yah, tak sanggup berbuat dosa, bukan begitu kang?" tanya Warya.
"Eh, akang mah tak sanggup itu karena akang ditaukan bahwa sanggup dan tak sanggup itu kepunyaan Allah, akang hanya menikmati saja dari sanggup dan tak sanggup kepunyaan Allah itu", kata Asep.
"Wah wah wah, si Akang", Warya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kang nanti saya mau belajar lagi ah sama Akang", pinta Warya pada Asep.
"Yah, kita sama-sama belajar, untuk menemukan kebenaran dan ketepatan dalam hal kita beribadah", kata Asep singkat.
"Iya yah Kang. Eh Kang saya mau pergi dulu ada urusan yang belum diselesaikan", kata Warya sambil menyodorkan tangan mengajak salaman pada Asep, kemudian keluar rumah dan pergi meninggalkan Asep.
"Asalamu'alaikum", kata Warya.
"Wa'alaikum salam", jawab Asep.

18 Februari 2009

Ungkapan Tauhid (lagi)

Banyak yang berpendapat "Eh.. Kalau Ajaran dari mama teh beda dari yang umum(red:kebanyakan orang mempelajarinya)", memang benar, tapi dari segi mana bedanya?, karena yang mama pelajari sama yaitu Al Qur'an. Masih dari pengetahuan yang menyertai saya, Bedanya yaitu pada penjelasan KeTauhidan. Ketika mama masih jumeneng(red:Ada secara jasmani/lahir), para ulama pada waktu itu merasa penjelasan tentang KeTauhidan dari sareat mama teh terlalu tinggi, atau/dan sangat bertolak belakang dari pemahaman ketauhidan kebanyakan pada waktu itu. Padahal bukan bertolak belakang, namun kejelasan tentang ketauhidan dijelaskan begitu eces jentre (red:jelas).

Contoh:
salah satu ungkapan Seorang Ulama mengenai ketauhidan:
Tangan kita ialah milik Allah, Mata Kita ialah milik Allah, badan kita ialah milik Allah, jadi sudah semestinya kita menta'ati aturan Allah.

Coba bandingkan dengan contoh ungkapan dari penjelasan ketauhidan oleh sareat mama amilin:
Tangan yang menyertai kita, Mata yang menyertai kita, badan yang menyertai kita dan Kita-nya sendiri ialah milik Allah, jadi sudah semestinya kita menta'ati aturan Allah.

Contoh Lain:
Dalam buku-buku atau tulisan-tulisan dari seorang ulama/kiai ternama biasanya tertulis begini: "Allah berfirman pada surat Sekian ayat sekian",

Coba bandingkan dengan tulisan-tulisan pada buku yang ditulis oleh sareat mama Amilin: "Allah Ta'alla geus ngadawuhkeun dina Al Qur'an"(red:"Allah Ta'alla sudah memfirmankan di/pada AlQur'an")

kata Berfirman dan ngadawuhkeun/Memfirmankan, Sangatlah berbeda maknanya. Karena tidak ingin terjuluk musrik, mama menulisnya ngadawuhkeun/Memfirmankan, Kalau mengatakan "Allah berfirman/berkata" berarti mempersamakan Allah dengan Manusia yang suka berkata-kata, berarti juga keterangan "Dzat Laesya kamislihi Syae'un" tidak dianggap/dianggap batal. (Sekedar untuk renungan, mangga bilih bade mikiran langkung tebih mah).

Pernah ada yang bilang "Berkata-nya Allah mah berbeda dengan Berkata-nya Manusia"
(Komen:Yang namanya berkata mah ya berkata, kalo basa sundanya mah ngadawuh/nyarios, kalo inggrisnya mah Says, kata indonesia yang lainnya mah berfirman, kalo bilang seperti di atas, kayaknya tidak ada bedanya Manusia dengan yang Memiliki Manusia, Kalo mempersamakan mahluk dengan yang memiliki Mahluk oleh Hukum/Al Qur'an disebut Apa yaaaa????)

Penjelasan Hal ketauhidan inilah, yang sangat membuat tingkatan pengetahuan yang diperoleh mama Amilin begitu tinggi, yang kalau nggak salah, sesuai dengan penjelasan pada buku yang ditulis oleh mama Amilin yang berjudul KITAB TAUHID, bahwa "Ketauhidan ialah pengetahuan dasar agama islam yang sangat tinggi tingkatannya"
(Komen:Ongkoh Dasar, tapi tinggi, setau yang menyertai saya mah kalo Dasar mah di handap(red:di bawah), tapi ieu mah tinggi.....ccckkk... itulah perbadaannya dengan yang banyak dipelajari orang, hese kapikir mun teu dikersakeun mah)

Ajaran Mama Amilin dan Melebu

Setelah sekian lama tidak menuliskan sebuah postingan di thread, saya merasa tertarik dari pertanyaan seorang teman, "apakah mempelajari dan mengamalkan ajaran Mama Amilin hanya sekadar untuk melebu?", pertanyaan yang luar biasa, mengapa dikatakan luar biasa? karena hal tersebut membuat saya jadi berpikir keras untuk dapat memahaminya dan mengetahui jawaban yang pas dan pantas untuk pertanyaan tersebut. Berikut ialah tulisan yang dipost untuk menanggapi pertanyaan tersebut:
Di kersakeun Melebu atawa henteu, eta mah sanes karep urang, Eta mah teu beunang dihayang-hayang atawa diembung-embung. Ku kersana nu kagungan bae dikersakeun melebu atanapi henteuna mah. Mama kantos nyaurkeun kieu, "Kanggo nu teu dikersakeun melebu teu kedah alit manah, da biasana nu teu dikersakeun mah di ajar kana katerangan(red:Al Qur'an) teh leuwih apik tur soson-soson"
(endone-maneh:)
Dikehendaki melebu atau tidak, itu mah bukan kehendak kita, itu mah tidak dapat diminta atau tidak dapat ditolak, oleh kehendak Yang Maha Memiliki saja dikehendaki melebu atau tidaknya mah. Mama pernah berkata begini "Untuk yang tidak bisa melebu tidak usah berkecil hati, biasanya yang ditidak bisakan mah, belajar Keterangan(red:Al Qur'an) itu lebih apik dan sungguh-sungguh"
Kalimat ajaran Mama Amilin dari pertanyaan di atas tidak luput dari pemikiran, istilah Ajaran Mama Amilin memang timbul baru-baru ini, atau mungkin udah lama, namun yang saya ketahui, istilah itu kurang pas, karena yang mama Amilin sendiri pelajari dan amalkan adalah Ajaran Al Qur'an. Jadi kalo kita mengatakan ini adalah Ajaran Mama Amilin atau Ajaran Mama Amilin Abdul Jabbar, rasanya gimana gituh....??? Sepertinya Ada lagi ajaran baru selain AlQur'an. Padahal Setelah AlQur'an teh Tidak ada lagi yang dapat menggantikannya.

29 Januari 2009

Sebenarnya Siapa BODOH teh?

BODOH ialah mahluk milik Allah yang menyertai mahluk lainnya yang juga milik Allah seperti menyertai manusia, tapi bukan hanya BODOH yang menyertai Manusia, mahluk milik Allah yang juga menyertai manusia yaitu PINTAR, SEDIH, GEMBIRA, KEINGINAN, HARAPAN, KESAL, RAJIN, GIAT, LUPA dll.(boleh ditambahkan jika berkenan).
Jika BODOH berkata, "Saya ini BODOH", kalimat tersebut sangat PAS, karena yang mengatakan kalimat tersebut ialah BODOH itu sendiri.
Jika Manusia berkata, "Saya ini BODOH", Kalimat tersebut Kurang PAS. Yang PAS menurut pengetahuan yang saya pelajari ialah "Abdi mah diterapan BODO"/"Saya mah disertai BODOH"
Maksudnya teh supaya kita lebih mengenal Anggota Negara badan yang kita tempati.
Jangan sampai kita ini Merasa Kalau : BODOH, PINTAR, SEDIH, GEMBIRA, BAGEUR, BENER, KASEP, GEULIS, CANTIK, GANTENG, KESAL, RAJIN, GIAT, LUPA dll itu adalah SAYA/Abdi
Tetapi: BODOH, PINTAR, SEDIH, GEMBIRA, BAGEUR, BENER, KASEP, GEULIS, CANTIK, GANTENG, KESAL, RAJIN, GIAT, LUPA dll itu menyertai Saya.
Itulah sebabnya pada postingan sebelumnya dibahas tentang Negara Badan.
Masih dari pengetahuan yang saya pelajari dikatakan:BODOH Selamanya BODOH, dari masa nabi adam hingga kini, BODOH tetaplah BODOH, BODOH tidak pernah PINTAR, dan PINTAR tidak pernah BODOH.
PINTAR Selamanya PINTAR, dari masa nabi adam hingga kini, PINTAR tetaplah PINTAR, PINTAR tidak pernah BODOH, dan BODOH tidak pernah PINTAR.
Tapi......Seseorang, Ia disertai PINTAR dan BODOH, kadang-kadang PINTAR kadang-kadang BODOH. Sebentar PINTAR sebentar BODOH. Disebut PINTAR dan BODOH hanya pada Waktunya Terjadi.
Contoh Saya Sendiri: Saya bisa dikatakan sedang PINTAR, jika berbicara tentang mengendarai sepeda motor(maksudnya Bisa mengendarai motor), tapi saya Bisa Dikatakan sedang BODOH, jika disuruh mengendarai Mobil.
Contoh lain: Albert Einstein Katanya seorang yang disertai dengan kejeniusan kata lainnya PINTAR. Tapi mungkin Ia akan disebut sedang mengalami keBODOHan, Jika ia disuruh Berbahasa INDONESIA.
BODOH mengandung makna "Tidak Tahu".
Masih dari pengetahuan yang saya dapat dan saya pelajari, dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW, menggunakan PINTAR dan BODOH yang menyertainya untuk melakukan Amal kebaikan.Bagaimana Menggunakan PINTAR yang menyertainya? Dengan Melaksanakan Apa-apa perintah yang dianjurkan seperti salah satunya memberi sodakoh, atau Zakat, membantu yang kurang dimampukan dari segi materi, Nabi Muhammad SAW akan menggunakan PINTAR milik Allah, yang menyertainya, untuk dapat sungguh-sungguh dalam menjalankannya.
Tapi....Beliau akan menggunakan BODOH, dalam melaksanakan Hal-hal yang dicegah untuk dilakukan. dengan kata lain beliau Tidak melaksanakan hal-hal yang dilarang berdasarkan Hukum yang tentu(ALQur'an).

03 November 2007

Pertanyaan seputar Aliran agama dan Fatwa

Aliran sesat

Akhir-akhir ini di Indonesia digegerkan berbagai berita mengenai "aliran sesat", yang difatwa SESAT oleh MUI(Majelis Ulama Indonesia). Baru-baru ini muncul aliran-aliran yang mengatasnamakan ISLAM, seperti AlQiyadah alislamiah, Alqur'an suci, bahkan ada yang menyebutkan bahwa JIL (Jaringan Islam Liberal) pun SESAT.

Sebelumnya ada baiknya menyimak pertanyaan-pertanyaan seperti berikut:

APA pengertian ISLAM?
ISLAM ialah salah satu nama ALLAH, jelasnya AL-ISLAMU, perkara tentang Nama Allah AL-ISLAMU yaitu selamat dan saling menyelamatkan.

Bagaimana dengan Agama yang disebut Agama Islam?
Agama Islam merupakan Agama yang didasari keislaman, selamat dan saling menyelamatkan.

BAGAIMANA pelaksanaan keislaman?
keterangan AlQur'an menjelaskan, "Tidak ada paksaan dalam agama islam", pelaksanaannya ialah dengan mengikuti perintah milik Allah yang tertulis dalam AlQur'an.

PANTASKAH kita sebagai manusia yang diperintah untuk melakukan Kebaikan oleh perintah milik Allah , memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan sesuai perintah Allah tersebut?

Keterangan AlQur'an menerangkan "Dzat laesa Kamislihi Sae'un">>Dzat yang tidak bisa diserupakan atau dipersamakan.
Apakah bisa dikatagorikan "mempersamaakan" jika kita Memerintahkan kembali kepada orang lain apa-apa Perintah milik Allah?
Menurut AlQur'an, mempersamakan Dzat Allah dengan "sesuatu"(yang merupakan milik Allah) termasuk pada Dosa musyrik (Dosa besar yang tidak akan diampuni).

Pantasnya kita sebagai manusia yang diperintah untuk melakukan Kebaikan oleh perintah milik Allah ialah dengan melaksanakannya.

Nabi Muhammad tidak pernah memerintahkan orang lain untuk berbuat baik ataupun berbuat jahat, namun ia hanya menjelaskan ("nabi"=yang menjelaskan) bagaimana perbuatan baik menurut keterangan AlQuran dan perbuatan jahat/buruk menurut keterangan AlQur'an.

PANTASKAH saya mengaku beragama Islam?
Sepantasnya bagi setiap manusia yang berkenan untuk memperbanyak amal kebaikan ialah dengan melaksanakan apa-apa dilandasi dengan keislaman.

Berkaitan dengan isu mengenai Aliran sesat yang marak belakangan ini, bagaimana sebagai pribadi mensikapinya??
Ajaran atasnama ke-Islam-an mengajarkan sikap netral dan tidak fanatik terhadap ajaran apapun, karena pada hakekatnya semua / segala sesuatu merupakan milik ALLAH, sesuai dengan keterangan AlQur'an bahwa Tujuh lapis langit beserta isinya dan Tujuh petala bumi beserta isinya ialah milik Allah. Apa-apa yang terjadi pada setiap orang, mulai dari kedip mata, hembusan napas kemudian keinginan, harapan dan lain-lain, bahkan keyakinan, semuanya merupakan milik Allah.

Yang terjadi pada setiap orang merupakan sebuah ketentuan milik Allah. Setiap manusia di sertai dengan "hak memilih", hak memilih yang menyertai para penganut agama tidak bisa dipaksakan oleh orang lain pada orang lain, hanya orang tersebutlah yang akan memilih, ia akan memilih untuk menjalankan ajaran agama "A" atau "B" atau "C".

Apa daya saya, ketika orang lain melaksanakan peribadatan sesuai keyakinan yang menyertainya. ??
Apa hak saya, melarang-larang orang lain ketika melaksanakan peribadatan sesuai keyakinan yang menyertainya. ??
NAbi Muhammad mengajarkan "LAHAOLA WALAQUWATA ILABILAHI ALIYUL ADZIM">> "Tidak ada daya dan kekuatan milik saya, melainkan daya dan kekuatan milik Allah lah daya dan kekuatan yang menyertai saya".

Menyadari diri pribadi tidak berdaya dan berkekuatan jika tidak disertai daya dan kekuatan milik Allah, maka akan lebih arif dan bijaksana mensikapi segala sesuatu terjadi dimuka bumi ini.

Keyakinan yang terjadi pada diri dan orang lain ialah sama-sama keyakinan milik Allah, apakah akan merugikan bagi diri jika menghormati orang lain (mahluk lain) yang juga milik Allah?

Pada mahluk lain seperti binatang, lingkungan, hutan, dan Bumi yang dipijak ini, semua orang sangat peduli dan sangat menyanginya, (yang notabene: mahluk-mahluk tersebut belum jelas apa agamanya), tapi mengapa dengan sesama manusia, sering terjadi permusuhan akibat perbedaan keyakinan?? pantaskah perbuatan demikian terkatagori KEISLAMAN?

APAKAH boleh seseorang/ lembaga/ perkumpulan mem-FATWA orang/lembaga/perkumpulan lainnya?
Boleh-boleh saja, tapi apakah arif dan bijaksan langkah tersebut? dasarnya apa?
Dan objektifkah seseorang/ lembaga/ perkumpulan tersebut dalam mengeluarkan fatwa?
Penjurian yang dilakukan seseorang/ lembaga/ perkumpulan biasanya subjektif, mungkin karena hubungan keluarga, atau karena takut, penilaian bisa diubah-ubah seenaknya.

Contoh:
Sebuah kelompok yang mengatasnamakan islam, bertindak "kurang" simpatik pada bulan ramadhan, dengan mendatangi warung-warung makan yang buka pada siang hari, malahan ada yang bertindak sampai merusak. Padahal dibalik itu,
- ada banyak orang yang menunggu orang tuanya yang pulang berdagang untuk membawa rezeki dari hasil berdagang tersebut.
- tidak semua orang berpuasa pada waktu bulan ramadhan.(biasanya orang sakit, wanita yang sedang haid, anak-anak yang tidak puasa, orang yang dalam perjalanan dll.)
- para pedagang itu sedang melakukan ikhtiar dalam menempuh mendapatkan rizki milik Allah.

Pertanyaannya, apakah pantas kelompok yang mengatasnamakan islam tersebut disebut kelompok yang berlandaskan keislaman?
**Jika pantas, apakah dibenarkan oleh ajaran atas nama islam, untuk merusak, menghalangi orang lain untuk berusaha?

**Jika tidak pantas, pantas disebut apa kelompok tersebut? apakah pantas disebut dengan aliran sesat?

Bagaimana tindakan yang dilakukan oleh seseorang/ lembaga/ perkumpulan lain, yang "katanya" biasa mengeluarkan Fatwa terhadap kelompok yang mengatasnamakan islam tersebut?

Entah karena saudara, atau karena takut, atau mungkin karena merasa itulah ajaran atas nama islam yang mereka pelajari, sehingga terjadi proses subjektif terhadap sesuatu?

Penjurian pada sesuatu hanya Hukum(AlQur'an)lah yang menjuri baik/buruknya sesuatu itu dilakukan. Dengan mengeluarkan Fatwa, bisa diartikan seseorang/ lembaga/ perkumpulan menyaingi Hukum yang sudah tentu.

Jika Arif dan bijaksana yang dilakukan, mungkin akan menyatakan bahwa sebaiknya mempelajari ajaran atas nama islam lebih teliti lagi. Dan gali lebih dalam lagi kandungan isi AlQur'an, karena Ilmu milik Allah Ta'ala tidak hanya yang ada sampai detik ini, melainkan tidak terukur oleh hitungan dan tanpa batas ruang dan waktu.