Tampilkan postingan dengan label Abdul Jabbar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abdul Jabbar. Tampilkan semua postingan

04 Januari 2010

Gelar Abdul Jabbar

Dari tulisan yang saya baca pada sebuah thread membuat tertarik untuk menuangkan apa-apa yang didapat. Salah satunya seperti yang dikutip di bawah ini.

Abdul jabbar adalah hamba allah yg gagah perkasa...
kita-kita disini juga termasuk abdul jabbar....

Kalo boleh bertanya, kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya bagaimana, apakah saya dan anda dan semua orang, atau bagaimana?(pertanyaan ini perlu sekali dipertanyakan untuk mempermudah memahami kalimat selanjutnya)

Diasumsikan saja bahwa kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya adalah saya dan anda dan semua orang.

Jika kita merujuk kalimah "Lahaola Walaquwata ilabillahi aliyul adzim"(mohon maaf jika salah nulis transliterasinya), Tidak ada daya dan kekuatan milik saya yang menyertai saya, hanya lah daya dan kekuatan milik Allah lah yang menyertai saya.

Dari ayat tersebut di atas, bisa di ambil petikan, bahwa
- tidak ada daya dan kekuatan selain milik Allah
- saya(atau siapapun atau kita-kita) sangatlah tidak berdaya dan berkekuatan tanpa daya dan kekuatan milik Allah

Pembuktian bahwa kita tidak berdaya dan berkekuatan, jangankan untuk menumbuhkan badan untuk bisa tinggi dan besar, satu helai rambutpun, kita tidak pernah tahu, bagaimana proses membuatnya ataupun menghitamkannya ataupun memutihkannya, yang kita tahu hanyalah pada waktunya kita menghampiri tukang cukur untuk memotong rambut atau mendatangi salon untuk menyemir rambut. atau, pernahkah kita menyadari bahwa sesungguhnya kita ini dilayani 100% oleh kekuasaan Allah?

Ambil contoh saja saya(karena saya yang mengalaminya, kalo orang lain bukan saya yang mengalaminya), Ketika makan saja, saya dibantu oleh sendok, dan sendok diangkat oleh tangan lalu memasukan makanan yang berada disedok ke dalam mulut, lalu dikunyah di dalam mulut oleh gigi dan ditelan melalui tenggorokan, sampai proses itu saja banyak sekali yang melayani saya, seperti sendok, tangan, mulut, gigi, tenggorokan, kunyahan(gerakan di mulut), gerakan pada tangan. lebih jauh dari itu jika flashback, saya tidak perlu berabe membuat sendok, saya hanya tinggal pake sendok yang sudah tersedia di rumah, makanan pun saya tidak usah masak dulu, atau kalaupun harus masak dulu saya dilayani oleh badan ini, alat masak dan bahan masakan untuk memasak. (wuih... gak kehitung pokoknya yang ngelayanin saya hanya untuk proses makan), jika ditelusuri pada proses setelah menelan makanan, saya tidak perlu berabe misahin mana yang bakal dijadikan daging atau darah merah atau darah putih atau kulit atau rambut atau jaringan syaraf atau kuku atau hati atau antibodi atau kotoran dll. pokoknya mah saya terima beres semua, bukan kah itu ciri bukti kalo saya dilayani 100% oleh pangawasana Allah? (Alhamdulillah)

Jika "abdul jabbar ialah hamba allah yg gagah perkasa....", Nah Kita-kita ini siapa sih sebenarnya?? dimana letak gagah perkasa-nya kalo masih 100% dilayani oleh pangawasana Allah ta'alla?

Dari Riwayat yang diriwayatkan oleh salah satu sepuh, Mama Sepuh teu pernah ngaku mun mama teh Abdul Jabbar, malahan mah mun aya nu tos ti mama, di wawadian ku mama sepuh teh kieu "ulah nyebat tos ti Mama atawa tos ti Guru komo deui nyebat tos ti Mama Abdul Jabbar, sebat wae tos ti rerencangan atanapi tos ti wargi"
(Mama Sepuh gak pernah mengaku kalo mama itu Abdul Jabbar, malahan mah kalau ada yang sudah dari Mama, diperingati oleh mama sepuh itu begini "Jangan bilang udah dari Mama atau udah dari Guru apalagi bilang udah dari Mama Abdul Jabbar, bilang saja sudah dari teman atau sudah dari saudara")

Dari cerita di atas, sangat jelas Mama di sebut Mama atau Guru saja gak mau, apalagi disebut dengan gelarnya, pada cerita di atas, Mama menjelaskan sebuah pelajaran yang sangat berharga, menjelaskan bahwa Abdul Jabbar bukanlah Mama, Beliau hanyalah Manusia biasa. Mama ialah Mama, Abdul Jabbar ialah Abdul Jabbar, Namun oleh kehendakNya lah Mama digelari Abdul Jabbar. (ceuk urang sunda mah Teu Hayang-hayang komo embung, teu embung-embung komo hayang, estu sakersaNa kagungan Allah bae Mama kagelaran Abdul Jabbar).

Jika secara kata Abdul Jabbar>> Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa, maka bisa disebut "Abdul Jabbar" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa", "Abdul Jabbar" bukanlah "Mama", namun "Mama" kagelaran/digelari Oleh Kehendak-Nya dengan gelar "Abdul Jabbar", jadi yang "gagah perkasa" bukanlah "Mama" tapi yang "Gagah Perkasa" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya" yang tadi disebutkan yaitu atas Nama "Abdul Jabbar".

Mungkin itu yang saya dapat, mohon maaf jika tidak berkenan.

18 Februari 2009

Ungkapan Tauhid (lagi)

Banyak yang berpendapat "Eh.. Kalau Ajaran dari mama teh beda dari yang umum(red:kebanyakan orang mempelajarinya)", memang benar, tapi dari segi mana bedanya?, karena yang mama pelajari sama yaitu Al Qur'an. Masih dari pengetahuan yang menyertai saya, Bedanya yaitu pada penjelasan KeTauhidan. Ketika mama masih jumeneng(red:Ada secara jasmani/lahir), para ulama pada waktu itu merasa penjelasan tentang KeTauhidan dari sareat mama teh terlalu tinggi, atau/dan sangat bertolak belakang dari pemahaman ketauhidan kebanyakan pada waktu itu. Padahal bukan bertolak belakang, namun kejelasan tentang ketauhidan dijelaskan begitu eces jentre (red:jelas).

Contoh:
salah satu ungkapan Seorang Ulama mengenai ketauhidan:
Tangan kita ialah milik Allah, Mata Kita ialah milik Allah, badan kita ialah milik Allah, jadi sudah semestinya kita menta'ati aturan Allah.

Coba bandingkan dengan contoh ungkapan dari penjelasan ketauhidan oleh sareat mama amilin:
Tangan yang menyertai kita, Mata yang menyertai kita, badan yang menyertai kita dan Kita-nya sendiri ialah milik Allah, jadi sudah semestinya kita menta'ati aturan Allah.

Contoh Lain:
Dalam buku-buku atau tulisan-tulisan dari seorang ulama/kiai ternama biasanya tertulis begini: "Allah berfirman pada surat Sekian ayat sekian",

Coba bandingkan dengan tulisan-tulisan pada buku yang ditulis oleh sareat mama Amilin: "Allah Ta'alla geus ngadawuhkeun dina Al Qur'an"(red:"Allah Ta'alla sudah memfirmankan di/pada AlQur'an")

kata Berfirman dan ngadawuhkeun/Memfirmankan, Sangatlah berbeda maknanya. Karena tidak ingin terjuluk musrik, mama menulisnya ngadawuhkeun/Memfirmankan, Kalau mengatakan "Allah berfirman/berkata" berarti mempersamakan Allah dengan Manusia yang suka berkata-kata, berarti juga keterangan "Dzat Laesya kamislihi Syae'un" tidak dianggap/dianggap batal. (Sekedar untuk renungan, mangga bilih bade mikiran langkung tebih mah).

Pernah ada yang bilang "Berkata-nya Allah mah berbeda dengan Berkata-nya Manusia"
(Komen:Yang namanya berkata mah ya berkata, kalo basa sundanya mah ngadawuh/nyarios, kalo inggrisnya mah Says, kata indonesia yang lainnya mah berfirman, kalo bilang seperti di atas, kayaknya tidak ada bedanya Manusia dengan yang Memiliki Manusia, Kalo mempersamakan mahluk dengan yang memiliki Mahluk oleh Hukum/Al Qur'an disebut Apa yaaaa????)

Penjelasan Hal ketauhidan inilah, yang sangat membuat tingkatan pengetahuan yang diperoleh mama Amilin begitu tinggi, yang kalau nggak salah, sesuai dengan penjelasan pada buku yang ditulis oleh mama Amilin yang berjudul KITAB TAUHID, bahwa "Ketauhidan ialah pengetahuan dasar agama islam yang sangat tinggi tingkatannya"
(Komen:Ongkoh Dasar, tapi tinggi, setau yang menyertai saya mah kalo Dasar mah di handap(red:di bawah), tapi ieu mah tinggi.....ccckkk... itulah perbadaannya dengan yang banyak dipelajari orang, hese kapikir mun teu dikersakeun mah)

Ajaran Mama Amilin dan Melebu

Setelah sekian lama tidak menuliskan sebuah postingan di thread, saya merasa tertarik dari pertanyaan seorang teman, "apakah mempelajari dan mengamalkan ajaran Mama Amilin hanya sekadar untuk melebu?", pertanyaan yang luar biasa, mengapa dikatakan luar biasa? karena hal tersebut membuat saya jadi berpikir keras untuk dapat memahaminya dan mengetahui jawaban yang pas dan pantas untuk pertanyaan tersebut. Berikut ialah tulisan yang dipost untuk menanggapi pertanyaan tersebut:
Di kersakeun Melebu atawa henteu, eta mah sanes karep urang, Eta mah teu beunang dihayang-hayang atawa diembung-embung. Ku kersana nu kagungan bae dikersakeun melebu atanapi henteuna mah. Mama kantos nyaurkeun kieu, "Kanggo nu teu dikersakeun melebu teu kedah alit manah, da biasana nu teu dikersakeun mah di ajar kana katerangan(red:Al Qur'an) teh leuwih apik tur soson-soson"
(endone-maneh:)
Dikehendaki melebu atau tidak, itu mah bukan kehendak kita, itu mah tidak dapat diminta atau tidak dapat ditolak, oleh kehendak Yang Maha Memiliki saja dikehendaki melebu atau tidaknya mah. Mama pernah berkata begini "Untuk yang tidak bisa melebu tidak usah berkecil hati, biasanya yang ditidak bisakan mah, belajar Keterangan(red:Al Qur'an) itu lebih apik dan sungguh-sungguh"
Kalimat ajaran Mama Amilin dari pertanyaan di atas tidak luput dari pemikiran, istilah Ajaran Mama Amilin memang timbul baru-baru ini, atau mungkin udah lama, namun yang saya ketahui, istilah itu kurang pas, karena yang mama Amilin sendiri pelajari dan amalkan adalah Ajaran Al Qur'an. Jadi kalo kita mengatakan ini adalah Ajaran Mama Amilin atau Ajaran Mama Amilin Abdul Jabbar, rasanya gimana gituh....??? Sepertinya Ada lagi ajaran baru selain AlQur'an. Padahal Setelah AlQur'an teh Tidak ada lagi yang dapat menggantikannya.

04 Februari 2009

Ilmu Syaefi

Dari cerita yang saya dengar, salah satu ilmu kegagahan yang dipelajari pada waktu dulu ialah ilmu syaefi. Bahkan sampai sekarang banyak sekali orang yang berminat untuk menekuni ilmu tersebut. Berikut definisi Ilmu syaefi yang di dapat dari hasil googling:

Dari segi terminologi syaefi adalah nama ilmu yang terdiri dari rentetan bacaan menurut bilangan dan waktu tertentu yang disandarkan pada Allah. Dari segi substansi saefi adalah doa yang dibaca terus menerus atau berulang-ulang menurut bilangan dan waktu tertentu. Cara memperoleh pengetahuan saefi sangat beragam, umumnya diperoleh melalui puasa atau hanya dengan melakukan wirid saja dengan bilangan tertentu, atau tidak memakan makanan yang bernyawa, tidak bersebadan. Umumnya saefi diperoleh dengan banyak dzikrullah dan menjauhi maksiat. Ada beberapa macam jenis syaefi yaitu syaefi dzulfaqar, syaefi mughni, syaefi umum, syaefi antazaman.

Kira-kira waktu saya masih sekolah di SMA, ua(paman/kakak ibu)*saya bercerita ilmu syaefi, waktu itu ia bercerita, belajar ilmu syaefi gak perlu susah-susah, tapi susah-susah gampang. Dikatakan tidak susah karena inti dari saefi teh ialah SAE FIkiran(red: berfikir yang baik-baik/tidak berburuk sangka), tidak gampangnya yaitu karena untuk berfikir positif banyak sekali gangguan yang akan dihadapi baik dari dalam diri ataupun luar diri.
Namun baru-baru ini saya bertemu dengan seorang teman ia bercerita pula tentang syaefi yang nge-trend dikalangan penganut supranatural. Ia mengatakan, bahwa banyak sekali orang di Indonesia yang mempelajari Ilmu Syaefi, namun di Indonesia sangat tertinggal jauh oleh orang-orang di Jerman ataupun Jepang dan negara-negara maju lainnya, dalam hal praktek ilmu syaefi. Ia menjelaskan bahwa Syaefi disini mengandung makna "Pikiran Yang Tajam" berasal dari kata "Syaefulloh".(Ada yang tau apakah "Syaefulloh"?)
Hasil dari Ilmu Syaefi yang praktekkan oleh para Penemu/Ilmuwan dari negara-negara maju telah dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat manusia di dunia ini, tidak lain karena Pikiran Yang Tajam milik Allah lah yang menyertai mereka. Mulai dari MOBIL, KERETA API, PESAWAT TERBANG, KAPAL LAUT, PESAWAT RUANG ANGKASA, TEKNOLOGI KOMUNIKASI seperti SATELIT, HP, Telpon, Televisi, Internet dan masih banyak lagi.
Namun untuk kita yang belum bisa membuat alat-alat seperti tersebut(red:diterapan pikiran tak setajam mereka), tidak usah berkecil hati. Mengapa?? Geus dipanggihkeun jeung pangawasa Allah samodel MOBIL, KERETA API, PESAWAT TERBANG, KAPAL LAUT, PESAWAT RUANG ANGKASA, TEKNOLOGI KOMUNIKASI seperti SATELIT, HP, Telpon, Televisi, Internet geus untung. Masih untung dibisakeun syukuran ka Nu Kagungan, teu moyok naon-naon nu geus dipanggihkeun ka maranehanana(red:para ilmuwan/penemu).
(Indonemaneh: Sudah dipertemukan dengan kekuasaan Allah seperti MOBIL, KERETA API, PESAWAT TERBANG, KAPAL LAUT, PESAWAT RUANG ANGKASA, TEKNOLOGI KOMUNIKASI seperti SATELIT, HP, Telpon, Televisi, Internet kita sudah beruntung, Masih untung dibisakan bersyukur kepada Yang Maha Memiliki, tidak meledek apa-apa yang sudah dipertemukan kepada mereka(red:para ilmuwan/penemu)).
Pemanfaatan hasil/produk dari praktek ilmu syaefi tersebut bisa dalam 2 jalan, bisa di jalan yang baik bisa pula di jalan yang tidak baik. Hal itu tergantung dari pilihan masing-masing pribadi.
Sepertinya tidak ada jalan lain bagi kita selain untuk terus bersyukur dan bersyukur atas segala Nikmat milik Allah yang telah dinikmatkan kepada kita.
(NB:bersyukur atas nikmat yang dinikmatkan bisa dilihat contohnya di sini)

03 Februari 2009

Kegagahan & Technology

Dari cerita Saudara Sepupu, pada waktu mama sepuh masih ada, mama memang mengajarkan beberapa hal tentang kegagahan, dan memang waktu itu termasuk "masa"nya, di samping sebagai amalan, ada juga beberapa kalimah yang jika diamalkan akan membuat seseorang yang membacanya akan "begini" atau "begitu", dan memang begitu pada waktu itu (ceuk urang sunda mah geus ilaharna nalika harita mah), dan memang pada waktu itu yang berguru pada mama sepuh teh sangat patuh pada apa-apa yang dianjurkan oleh syareat mama. Jadi memang digunakan seperlunya jika diperlukan saja.

Karena pada waktu itu masa penjajahan, ilmu pengetahuan yang syareatnya diajarkan oleh mama itu sangat berguna bagi perjuangan kemerdekaan yang intensitas penggunaannya begitu banyak/sering. Namun setelah masa penjajahan berakhir dan diteruskan masa mempertahankan kemerdekaan (kurang lebih sampai tahun 1965-an), pelajaran kegagahan sudah jarang digunakan (bukan tidak pernah). Pesan dari mama mengenai penggunaan ilmu kegagahan yang saya tahu dari saudara sepupu hanya "Digunakan jika sangat penting" (makna sebenarnya dari kalimat tersebut belum terlalu saya pahami).

Masih nyambung dengan tulisan tadi, saudara sepupu memaknainya begini: Dulu menggunakan ilmu kegagahan karena masa itu masa perjuangan, banyak orang yang berlatih ilmu kegagahan. namun kini masanya teknologi.

  • Jika mau ngasih tau orang dengan jarak yang jauh cukup telepon atau sms.
  • Jika ingin nyampai ke tempat yang jauh dengan waktu singkat gunakan kendaraan seperti sepeda motor, mobil, kapal laut, kapal terbang dll.
Untuk saat ini lebih baik temukan perkara ke-Jabbar-an milik Allah itu apa, nyata sekali PESAWAT TERBANG, MOBIL, MOTOR dll itu termasuk perkara ke-Jabbar-an milik Allah. Nyata sekali, TELEPON, HP, INTERNET, MOBIL, MOTOR dll itu termasuk perkara ke-Jabbar-an milik Allah.


Contoh, Mari kita tafakuri Pesawat terbang, hanya berupa lempengan logam berkolaborasi dengan bongkahan logam yang membentuk mesin pesawat terbang dan mungkin juga dengan air, udara, api dan minyak/bahan bakar bisa terbang dengan dikendarai oleh seorang pilot dan seorang kopilot. Kalau bukan karena Ijin Allah, benda-benda tersebut tidak akan bisa terbang, Jadi Hanya Karena Ke-jabbar-an Milik Allah lah dan Ijin Allah lah, benda tersebut(pesawat terbang) bisa ada dan juga terbang.

Menemukan perkara ke-Jabbar-an milik Allah, merupakan salah satu jalan kita untuk lebih banyak bersyukur.

  • Tanpa perlu membuat mobil kita bisa menikmatinya walupun hanya angkot atau taksi.
  • Tanpa perlu membuat sepeda motor kita bisa menikmatinya, meskipun itu hanya sebuah ojek.
  • Bagi yang pernah naik pesawat terbang, tanpa perlu membuat pesawat terbang tanpa perlu membuat tiketnya, tanpa perlu membuat uang untuk membeli tiketnya tanpa perlu belajar mengemudikannya kita bisa menikmatinya.
  • Bagi yang belum pernah naik pesawat terbang, tanpa perlu membuat pesawat terbang kita bisa menikmatinya, meskipun hanya melihatnya. Kalau mama mah dulu dibisakan mencapai jarak yang jauh hanya dalam waktu singkat sendirian, nah saat ini mah kita bisa rame-rame nyampai dengan waktu singkat meskipun jaraknya jauh, yah dengan teknologi pesawat terbang.
Jadi bisa dikatakan bahwa apa yang dilakukan mama waktu dulu dan teknologi pesawat terbang saat ini teh sama-sama perkaranya keJabbaran Milik Allah.

Untuk yang nggak/belum bisa Ilmu kegagahan Tidak usah berkecil hati, bersyukur atas nikmat yang telah Allah nikmatkan, bisa juga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita.
Begitulah kira-kira obrolan saya dengan saudara sepupu.

NB: Ilmu Kegagahan yang dimaksud dijelaskan pula di sini

21 Januari 2009

Tauhid dengan Bismillah

Berikut Kutipan yang dikutip dari buku yang ditulis oleh Mama H. Amilin. yang disampulnya berjudul "Kitab Tauhid". Buku Aslinya berupa tulisan tangan dengan huruf arab dan basa sunda. berikut transliterasinya kedalam tulisan latin:
ALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘ALAMIN, ASHOLAATU WASSALAMU ‘ALA ASYROFIL AN BIYAA I WAL MURSALIN, SYAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WASHOHBIHI AJMA’IIN, AMMA BA’DU

Tangtos pisan sadayana nu nganut kana agama Islam mah moal aya anu hanteu terang kana kalimah Al Basmallah malihan anu hanteu nganut kana agama Islam ogé, seueur anu terangeun.
(Sangatlah Tentu, semua yang menganut agama Islam tidak ada yang tidak tahu terhadap kalimah Al Basmallah, malahan yang tidak menganut agama islam juga banyak yang mengetahui)

Ari margina kalimah Al Basmallah téh upami bangawan mah, lir ibarat sirahna atawa hulu wowotanana, ngan ari kalimah Al Basmallah mah sirahna kalimah Surat-Surat Al Qur'an. Barang ari Al Qur'an éta poko undang-undang dasar agama Islam, atuh kalimah Al Basmallah téh hulu wowotan agama Islam.
(alasannya kalimah Al Basmallah itu jika diibaratkan Sungai, ibarat Kepala atau Hulu/Sumber sungainya, hanya saja Kalimah Al Basmallah adalah Kepala Kalimah Surat-surat AlQur'an. Dan Al Qur'an itu adalah Pokok Undang-undang Dasar Agama Islam, Jadi Kalimah Al Basmallah itu ialah Sumber Agama Islam)

Lamun anu diajar agama Islam tina kalimah Al Basmallah heula, éta lir ibarat anu mapay bangawan ti girang ka hilirkeun, tangtu moal sasab, moal nyalahan kanu walungan kanu ngamuara, kana éta bangawan.
(Jika Belajar Agama Islam dari Kalimah Al Basmallah terlebih dahulu, itu seperti yang menyusuri Sungai dari Hulu ke Hilir, tentu tidak akan tersesat, tidak akan salah arah ke Sungai yang bermuara ke Sungai itu)

Tapi sabalikna anu mapay bangawan ti hilir kagirangkeun tangtu aya sasabna nyaéta dimana manggih muara, lamun hanteu aya nu nuduhkeun atawa aya nu nuduhkeun ogé dumadak hanteu percaya kanu nuduhkeun, lantaran walungan anu ngamuara téh sarua gedéna jeung bangawan anu dipapay téa atawa leuwih gedé. Atuh jadi kana sasabna baé.
(tapi Sebaliknya, yang menyusuri sungai dari hilir ke hulu, tentu akan tersesat seperti ketika menemukan muara, Jika tidak ada yang menunjukkan atau pun ada yang menunjukkan juga mendadak tidak akan percaya kepada yang menunjukkan jalan, sebab sungai yang bermuara tersebut sama lebarnya dengan Sungai yang disusuri sebelumnya malahan lebih lebar, tentulah Jadi tersesat)

Nya kitu nu diajar agama Islam, nyukcrukna tina hulu wowotanana heula, nyaéta tina kalimah Al Basmallah tangtu moal sasab margi ti girang ka hilirkeun, jadi dina nganyahokeun Tauhid ka Allah Ta'alla téh moal musrik, nyaéta nyasamakeun atawa nyarupakeun Allah Ta'alla jeung mahlukna, saperti itikadna jeung pangucapna nu hanteu nganut agama Islam.
(Begitu Juga yang belajar agama islam, menyusurinya dari hulu/sumbernya dahulu, yaitu dari kalimah Al Basmallah, tentu tidak akan tersesat sebab dari Hulu ke hilir, jadi dalam mengetahui Tauhid Kepada Allah Ta'alla itu tidak akan Musrik, yaitu menyamakan atau menyerupakan Allah Ta'allah dengan mahluk-Nya, Seperti Itikadnya dan Ucapannya yang tidak menganut agama islam)

Dari tulisan kutipan di atas ditegaskan bahwa untuk belajar agama islam, agar dimulai dengan mempelajari Kalimah Al-Basmalah karena merupakan sumber dari agama islam.
Bismillahirohmannirohiim = Dengan menyebut Nama Allah, Arrohman dan Arrohim.

Jelasnya Yaa Allahu, Yaa Arrohmanu, Yaa Arrohimu ialah Nama-nama Allah.
Arrohmanu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Panjang dari Dunia Sampai Akhirat.
Arrohiimu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Pendek hanya di Dunia saja.

Tinggal Kita, bagaimana mensikapi atau berprilaku, apakah akan berbuat yang melanggar undang-undang yang akibatnya bisa panjang juga sampai ke akhirat.

Atau sebaliknya, Berbuat kebaikan yang akibatnya juga sampai ke akhirat.

nb:
Dari pengalaman yang saya alami, setiap saya berkumpul dengan baraya di Bandung, jika membahas suatu topik, pembahasan tidak pernah lepas dari Bismillah, malahan hampir setiap pertemuan, setiap pembahasan, kembali dan kembali lagi pada bismillah, memang apa yang tertulis dalam kitab itu terbukti pada saya.

20 Januari 2009

Amilin dan Abdul Jabbar

Mun ngadangu carios ti pun bapa, nu kantos tepang sareng mama sepuh waktos aya keneh dikieuna. harita pun bapa nuju alit keneh kirang langkung yuswa 11-12 taun, anjeuna ningali yen tamu nu sumping ka teun mama sepuh di lengkong sok seueur, mun saur kapi lanceuk mah, aya nu butuh ku bubutuh, aya oge nu butuh ku pangaweruh. Di caket tempat mama linggih, aya hiji wadah sebut wae baskom, eta baskom ku mama dieusian amplop anu katampi ku mama ti para tamu nu marasihan, eta amplop teh ku mama tara di anggo kanggo ngagindingan anjeuna komo deui kulawargana. estu eta eusi baskom atawa amplop teh ku mama di pasihkeun deui ka tamu nu memang peryogieun nu katawis dina obrolan anu memang tos bagianana, eta margina mama kagelaran "amilin" sanes ka gelaran "ambilin". Gelar Amilin eta sanes gelar Jore-jore. Estu gelar ti kersana Nu Kagungan Gelar, eta mama ka gelaran ku lantaran ngalakonan sakumaha gawena eta Gelar. Matakna Mama kasohorna Mama Amilin, nu osok masihkeun sodakoh ti saha bae ka saha-saha nu tos bagianana.

Kapetik pelajaran dina eta carios, yen urang cobi pisahkeun antawis Mama, gelar Amilin sareng Gelar Abdul Jabbar, eta masing-masing terpisah. Eta ku dua gelar mama kagelaran, sesuai sareng naon-naon anu dilakukeunana. Tah dumugi urang anu simpati ka Mama, tiasa ngalakonan sakumaha lalakon anu kaalaman ku sareat mama .


(Indone-maneh)
Jika mendengar cerita Ayah, yang pernah bertemu dengan mama sepuh semasa dia masih ada. Waktu itu ayah masih kecil kurang lebih berumur 11-12 tahun, dia melihat bahwa tamu yang datang ke mama sepuh di lengkong sangat banyak, kalau kata sepupu mah ata yang butuh sama kebutuhan sehari-hari, ada juga yang butuh dengan pengetahuan. di dekat tempat mama duduk, ada sebuah wadah sebut saja baskom, baskom tersebut oleh mama diisi amplop yang mama terima dari para tamu yang memberikan kepadanya, amplop tersebut oleh mama tidak pernah dipergunakan untuk kesenangan pribadinya apalagi keluarganya. Tetapi isi baskom tersebut atau amplop itu oleh mama di berikan kepada tamu yang memang membutuhkannya yang terlihat dalam pembicaraan sebelumnya dan memang sudah bagiannya, itu sebabnya mama kagelaran "Amilin" bukan kagelaran "Ambilin". Gelar amilin tersebut bukan gelar sembarang gelar, tapi gelar dari kehendak Yang Maha Memiliki Gelar, Mama Kagelaran oleh karena melakukan sesuai pekerjaan gelar tersebut. Oleh sebab itu mama terkenal dengan sebutan Mama Amilin, yang suka memberikan sodakoh dari siapa saja kepada siapasaja yang memang bagiannya.

Terpetik sebuah pelajaran dari cerita tersebut, bahwa kita mencoba memisahkan antara Mama, Gelar Amilin dan Gelar Abdul Jabbar, masing-masih terpisah. Oleh Dua Gelar Tersebut mama Kagelaran, sesuai apa-apa yang dilakukannya. Semoga bagi kita yang simpati kepada MAma, bisa melakukan seperti yang teralami oleh Sareat Mama.

(NB: Kata Saudara mah nama Aslinya teh Mama Iming)

Politikus Ulung

Aya hiji carita ngenaan Mama H. Amilin nu kagelaran Abdul Jabbar, anu ku sim kuring kadangu diriwayatkeun ku kapilanceuk sababiah sim kuring.

Kieu caritana:
Hiji waktos dihiji tempat aya hiji awewe anu pagaweana kurang hade, sebut wae ku jaman kiwari mah PSK, manehna geus sababaraha peuting teu "beubeunangan", manehna menang info "cenah mun hayang payu deui mah datang wae ka teun Mama Amilin", nya, eta awewe teh ngagugu kana omongan eta teh. manehna ngajugjug ka padumukan mama Amilin di daerah lengkong bandung, pas panggih manehna nyaritakeun naon-naon anu tumiba ka manehna, yen manehna ampir sabaraha peuting "Dagang"na tiiseun. Mama ngan ukur ngadangukeun. beres eta awewe nyarita, mama ngasongkeun tulisan kalimah "Bismillahhirohmaniirohim" bari nyarita "yeuh nyai, paragi meh heneuteun, aos bae 13 kali samemeh damel, 13 kali samemeh kulem". eta awewe atoheun di asongan eta kalimah. isukna manehna ngalakonan naon-naon anu di obrolkeun samemehna.

sababara poe tiharita, eta awewe datang deui ka mama amilin, manehna nyaritakeun deui pangalaman nu tiba ka manehna, yen cenah samulihna ti mama, manehna ngalakukeun nu diucapkeun ku mama, tapi bororaah haneuteun, malah mah taya nu ngalieuk-lieuk acan ka manehna, manehna sababara poe ieu jadi sering kapikiran, "naha bet kieu?","salah kitu nu dilakonan teh?", "Salah meureun", jeung loba-loba deui pikiran anu ahirna manehna tobat tina kalakuan nu teu saluyu jeung hukum. Mama ngan ukur gumujeung bari nyarios "Alhamdulillah, nyai, pitulung eta teh, bagja... barokahna bae".

Dina carita diluhur, ka petik ku simkuring yen mama teh "Politikus Ulung", teu make panyarek, teu nganggo sosorongot boh popolotot, tapi ngangge basa sareng budi pekerti nu luhur, saha bae tiasa kengeng hidayah ku kersana anu Kagungan arurang.


(indone-maneh)
ada sebuah cerita tentang Mama H. Amilin yang bergelar Abdul Jabbar, yang Saya dengar dan diriwayatkan oleh saudara sepupu*saya:

Begini ceritanya:
Suatu hari di sebuah tempat ada seorang perempuan yang kerjanya kurang baik, sebut saja pada jaman sekarang dengan sebutan PSK, ia sudah beberapa malam tidak dapat pelanggan, Dia mendapat informasi "Jika ingin Laku lagi mah datang saja ke mama Amilin", Ya, perempuan tersebut nurut saja pada ucapan itu, dia pergi ke rumah mama Amilin di daerah lengkong bandung, ketika bertemu dia bercerita apa yang ia alami, bahwa ia hampir beberapa malam "Dagang"nya gak laku. Mama hanya mendengarkan. Setelah perempuan itu selesai bercerita, mama menyerahkan tulisan kalimah "Bismillahhirohmaniirohim" sambil berkata "Nih Nyai, untuk supaya rame, baca saja 13 kali sebelum bekerja dan 13 kali sebelum tidur", perempuan tersebut gembira disodori kalimah tersebut. besoknya ia mulai melaksanakan apa-apa yang dibicarakan sebelumnya.

Beberapa hari setelah itu, perempuan tersebut datang lagi ke mama Amilin, ia menceritakan lagi pengalaman yang ia alami, bahwa sepulang dari mama, ia melakukan sesuai ucapan dari mama, tapi bukannya rame/laku, malahan tidak ada satupun yang mau menoleh kepadanya, beberapa hari itu selalu terpikir "Kenapa begini?", "Salahkan yang saya lakukan ini?", "kemungkinan Salah"
dan banyak lagi pikiran yang akhirnya ia bertobat dari kelakuan yang tidak sejalur dengan hukum. Mama Hanya tersenyum sambil berkata "Alhamdulillah, nyai, pertolongan itu teh, bahagia... barokahNya saja".

Dari cerita di atas, terpetik pelajaran oleh saya pribadi bahwa mama seorang "Politikus Ulung", tanpa Melarang, tanpa Memaksa dan marah, tetapi dengan bahasa dan budi pekerti yang Luhur, siapa saja bisa mendapat Hidayah oleh Kehendak Yang Maha Memiliki Kita semua.