Tampilkan postingan dengan label Mama Amilin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mama Amilin. Tampilkan semua postingan

04 Januari 2010

Gelar Abdul Jabbar

Dari tulisan yang saya baca pada sebuah thread membuat tertarik untuk menuangkan apa-apa yang didapat. Salah satunya seperti yang dikutip di bawah ini.

Abdul jabbar adalah hamba allah yg gagah perkasa...
kita-kita disini juga termasuk abdul jabbar....

Kalo boleh bertanya, kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya bagaimana, apakah saya dan anda dan semua orang, atau bagaimana?(pertanyaan ini perlu sekali dipertanyakan untuk mempermudah memahami kalimat selanjutnya)

Diasumsikan saja bahwa kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya adalah saya dan anda dan semua orang.

Jika kita merujuk kalimah "Lahaola Walaquwata ilabillahi aliyul adzim"(mohon maaf jika salah nulis transliterasinya), Tidak ada daya dan kekuatan milik saya yang menyertai saya, hanya lah daya dan kekuatan milik Allah lah yang menyertai saya.

Dari ayat tersebut di atas, bisa di ambil petikan, bahwa
- tidak ada daya dan kekuatan selain milik Allah
- saya(atau siapapun atau kita-kita) sangatlah tidak berdaya dan berkekuatan tanpa daya dan kekuatan milik Allah

Pembuktian bahwa kita tidak berdaya dan berkekuatan, jangankan untuk menumbuhkan badan untuk bisa tinggi dan besar, satu helai rambutpun, kita tidak pernah tahu, bagaimana proses membuatnya ataupun menghitamkannya ataupun memutihkannya, yang kita tahu hanyalah pada waktunya kita menghampiri tukang cukur untuk memotong rambut atau mendatangi salon untuk menyemir rambut. atau, pernahkah kita menyadari bahwa sesungguhnya kita ini dilayani 100% oleh kekuasaan Allah?

Ambil contoh saja saya(karena saya yang mengalaminya, kalo orang lain bukan saya yang mengalaminya), Ketika makan saja, saya dibantu oleh sendok, dan sendok diangkat oleh tangan lalu memasukan makanan yang berada disedok ke dalam mulut, lalu dikunyah di dalam mulut oleh gigi dan ditelan melalui tenggorokan, sampai proses itu saja banyak sekali yang melayani saya, seperti sendok, tangan, mulut, gigi, tenggorokan, kunyahan(gerakan di mulut), gerakan pada tangan. lebih jauh dari itu jika flashback, saya tidak perlu berabe membuat sendok, saya hanya tinggal pake sendok yang sudah tersedia di rumah, makanan pun saya tidak usah masak dulu, atau kalaupun harus masak dulu saya dilayani oleh badan ini, alat masak dan bahan masakan untuk memasak. (wuih... gak kehitung pokoknya yang ngelayanin saya hanya untuk proses makan), jika ditelusuri pada proses setelah menelan makanan, saya tidak perlu berabe misahin mana yang bakal dijadikan daging atau darah merah atau darah putih atau kulit atau rambut atau jaringan syaraf atau kuku atau hati atau antibodi atau kotoran dll. pokoknya mah saya terima beres semua, bukan kah itu ciri bukti kalo saya dilayani 100% oleh pangawasana Allah? (Alhamdulillah)

Jika "abdul jabbar ialah hamba allah yg gagah perkasa....", Nah Kita-kita ini siapa sih sebenarnya?? dimana letak gagah perkasa-nya kalo masih 100% dilayani oleh pangawasana Allah ta'alla?

Dari Riwayat yang diriwayatkan oleh salah satu sepuh, Mama Sepuh teu pernah ngaku mun mama teh Abdul Jabbar, malahan mah mun aya nu tos ti mama, di wawadian ku mama sepuh teh kieu "ulah nyebat tos ti Mama atawa tos ti Guru komo deui nyebat tos ti Mama Abdul Jabbar, sebat wae tos ti rerencangan atanapi tos ti wargi"
(Mama Sepuh gak pernah mengaku kalo mama itu Abdul Jabbar, malahan mah kalau ada yang sudah dari Mama, diperingati oleh mama sepuh itu begini "Jangan bilang udah dari Mama atau udah dari Guru apalagi bilang udah dari Mama Abdul Jabbar, bilang saja sudah dari teman atau sudah dari saudara")

Dari cerita di atas, sangat jelas Mama di sebut Mama atau Guru saja gak mau, apalagi disebut dengan gelarnya, pada cerita di atas, Mama menjelaskan sebuah pelajaran yang sangat berharga, menjelaskan bahwa Abdul Jabbar bukanlah Mama, Beliau hanyalah Manusia biasa. Mama ialah Mama, Abdul Jabbar ialah Abdul Jabbar, Namun oleh kehendakNya lah Mama digelari Abdul Jabbar. (ceuk urang sunda mah Teu Hayang-hayang komo embung, teu embung-embung komo hayang, estu sakersaNa kagungan Allah bae Mama kagelaran Abdul Jabbar).

Jika secara kata Abdul Jabbar>> Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa, maka bisa disebut "Abdul Jabbar" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa", "Abdul Jabbar" bukanlah "Mama", namun "Mama" kagelaran/digelari Oleh Kehendak-Nya dengan gelar "Abdul Jabbar", jadi yang "gagah perkasa" bukanlah "Mama" tapi yang "Gagah Perkasa" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya" yang tadi disebutkan yaitu atas Nama "Abdul Jabbar".

Mungkin itu yang saya dapat, mohon maaf jika tidak berkenan.

13 Oktober 2009

Hukum: Berlaku untuk Siapa?

Jadi emut carita ti kapi raka sebat wae Aa(nama disamarkan ), suatu hari aya salah sawios palaputra sebat wae Kang akung(nama disamarkan oge), ngobrol sareng anjeunna, obrolana kirang langkung sapertos kieu:

Kang akung: "A, di daerah nyahnyehnyoh(nama tempat disamarkan) diajarkeun pemahaman teu ngalakonan puasa dina waktu ramadhan teu nanaon, malahan mah cenah teu perlu"

Aa: "nya enya atuh"

Kang Akung: "Maksudna A?" (nanya bari bingung)

Aa: "nya enya apanan mun ti magrib nepi ka subuh, urang sok dahar jeung nginum"

Kang Akung: "eh sanes kitu, maksad teh, ti subuh nepi ka magrib, atawa beurang bulan puasa"

Aa: "nyata pisan nya, obrolan ti mama mos(embos prawira(alm)), yen Hukum/Qur'an teh berlaku keur nu manurut"

Kang Akung: "Maksudna A?"(bari kerung-kerung tarangna teh)

Aa: "Enya, Hukum ku nu manurut mah bakal diturut dan berlaku, pikeun nu teu manurut mah bororaah di turut atawa digugu malahan mah teu berlaku sama sakali ceuk maranehanana mah, da nu berlakuna keur nu teu manurut mah sakahayang maranehanana, sanajan akuanana mah palaputra mama"

Sim kuring anu ngadangu carita siga diluhur, merasakan diri, apakah saya ini termasuk orang-orang yang memberlakukan AlQur'an sebagai pedoman hidup atau termasuk orang-orang yang tidak memberlakukan AlQur'an untuk jadi pedoman hidup?? (masih mikir-mikir, sieun ku bisi, rempan ku sugan, jangan2..... wuih... jangan2... Semoga...)

15 September 2009

Kifarat

Dari pengetahuan yang saya pelajari, selama saya mempelajari pengetahuan dari berbagai sumber, Kifarat bukan merupakan suatu cara penghapusan dosa tapi merupakan suatu denda, dari apa-apa yang telah kita lakukan selama ini. Kalau yang namanya denda berarti ada kelakuan yang kita lakukan yang melenceng dari aturan. karena jika tidak keluar dari aturan, mana mungkin kita kena denda.

Kalau pada jaman dulu mama sepuh masih ada, perhitungan jumlah denda, dapat langsung ditanyakan sama mama sepuh melalui proses tertentu, dan ada beberapa orang yang ditaukan caranya. Dan melalui cara tertentu tersebut dapat diketahui jumlahnya. Namun pengetahuan Allah tidak sama sekali hanya terbatas pada waktu itu saja, dari waktu ke waktu terjadi perkembangan cara perhitungan, yang tidak lain itu ialah perkembangan cara terdahulu, dan itu dapat dilakukan oleh setiap orang (mun ceuk kasarna mah, mama teh ngagehan, teu ukur mama wungkul nu dibisakeun cara ngitungna teh, palaputrana oge sadayana tiasa ngitungna, khususna pikeun pribadina sewang-sewangan, kumaha carana ngitung denda keur pribadina = kasarnya, mama sisakan(untuk bertafakur, mencari padanannya untuk saat ini), tidak hanya mama yang dibisakan cara berhitung, palaputranya juga semuanya bisa menghitungnya, khususnya untuk pribadinya masing-masing, bagaimana caranya menghitung denda untuk pribadinya).

Cara yang diketemukan dari perkembangan tadi, biasanya jika kita telah berniat untuk kifarat, senilai sekian akan diketahui oleh pribadi masing-masing(caranya bisa bervariasi ada yang lewat "bisikan" pada diri masing-masing, atau yang lainnya), sesuai perbuatan yang dikenai kifarat/denda tersebut. Jika kita memang telah menyanggupinya dan rezeki untuk membayarnya telah siap, tidak ada salahnya kita berikan langsung sejumlah denda tersebut kepada yang berhak menerimanya. Yang berhak menerimanya ialah sama dengan yang berhak menerima zakat fitrah, shodakoh dll yaitu yang termasuk 9 lapangan. dengan memberikanya langsung kepada yang berhak, setidaknya kita telah mencontoh apa yang telah mama lakukan, yaitu sebagai AMILIN.

Cara-cara yang biasa dilakukan dalam melaksanakan kifarat ialah dengan bertanya kepada sesepuh yang masih ada, atau kepada yang kita tuakan yang juga ditaukan cara perhitungannya, dan setelah tau jumlah yang harus kita keluarkan, kita menitipkannya kepada sesepuh itu. dan kalau ditafakuri yang mencontoh mama sepuh hanya sesepuh yang kita titipi denda tadi, mereka sebagai AMILIN, dan kita hanya sebagai penitip denda, Bagaimana jika kita ikut mencontoh sebagai AMILIN, dengan cara memberikan langsung Denda/kifarat tadi kepada yang berhak.

Mungkin dari penjelasan mengenai perkembangan cara perhitungan ini masih banyak yang baru mendengar, dan di sini saya tidak dalam kapasitas untuk mempengaruhi siapapun, hanya berbagi pengetahuan bukan untuk mengubah ajaran yang sudah ada. Untuk yang masih nyaman/cocok dengan cara seperti biasa, boleh-boleh saja tidak ada larangan. Dan perkembangan apapun dalam proses menemukan, tidak hanya monoton seperti jaman dulu, sekarang jaman sudah berubah drastis, dan perkembangan mengikuti jamannya, namun tetap tidak keluar dari hukum yang tertentu yaitu AlQur'an. Semoga informasi ini bermanfaat, mohon maaf atas segala kekurangannya.

(info di atas disarikan dari obrolan dengan beberapa sesepuh, moal disebutkeun ah saha-sahana mah :) )

18 Februari 2009

Ungkapan Tauhid (lagi)

Banyak yang berpendapat "Eh.. Kalau Ajaran dari mama teh beda dari yang umum(red:kebanyakan orang mempelajarinya)", memang benar, tapi dari segi mana bedanya?, karena yang mama pelajari sama yaitu Al Qur'an. Masih dari pengetahuan yang menyertai saya, Bedanya yaitu pada penjelasan KeTauhidan. Ketika mama masih jumeneng(red:Ada secara jasmani/lahir), para ulama pada waktu itu merasa penjelasan tentang KeTauhidan dari sareat mama teh terlalu tinggi, atau/dan sangat bertolak belakang dari pemahaman ketauhidan kebanyakan pada waktu itu. Padahal bukan bertolak belakang, namun kejelasan tentang ketauhidan dijelaskan begitu eces jentre (red:jelas).

Contoh:
salah satu ungkapan Seorang Ulama mengenai ketauhidan:
Tangan kita ialah milik Allah, Mata Kita ialah milik Allah, badan kita ialah milik Allah, jadi sudah semestinya kita menta'ati aturan Allah.

Coba bandingkan dengan contoh ungkapan dari penjelasan ketauhidan oleh sareat mama amilin:
Tangan yang menyertai kita, Mata yang menyertai kita, badan yang menyertai kita dan Kita-nya sendiri ialah milik Allah, jadi sudah semestinya kita menta'ati aturan Allah.

Contoh Lain:
Dalam buku-buku atau tulisan-tulisan dari seorang ulama/kiai ternama biasanya tertulis begini: "Allah berfirman pada surat Sekian ayat sekian",

Coba bandingkan dengan tulisan-tulisan pada buku yang ditulis oleh sareat mama Amilin: "Allah Ta'alla geus ngadawuhkeun dina Al Qur'an"(red:"Allah Ta'alla sudah memfirmankan di/pada AlQur'an")

kata Berfirman dan ngadawuhkeun/Memfirmankan, Sangatlah berbeda maknanya. Karena tidak ingin terjuluk musrik, mama menulisnya ngadawuhkeun/Memfirmankan, Kalau mengatakan "Allah berfirman/berkata" berarti mempersamakan Allah dengan Manusia yang suka berkata-kata, berarti juga keterangan "Dzat Laesya kamislihi Syae'un" tidak dianggap/dianggap batal. (Sekedar untuk renungan, mangga bilih bade mikiran langkung tebih mah).

Pernah ada yang bilang "Berkata-nya Allah mah berbeda dengan Berkata-nya Manusia"
(Komen:Yang namanya berkata mah ya berkata, kalo basa sundanya mah ngadawuh/nyarios, kalo inggrisnya mah Says, kata indonesia yang lainnya mah berfirman, kalo bilang seperti di atas, kayaknya tidak ada bedanya Manusia dengan yang Memiliki Manusia, Kalo mempersamakan mahluk dengan yang memiliki Mahluk oleh Hukum/Al Qur'an disebut Apa yaaaa????)

Penjelasan Hal ketauhidan inilah, yang sangat membuat tingkatan pengetahuan yang diperoleh mama Amilin begitu tinggi, yang kalau nggak salah, sesuai dengan penjelasan pada buku yang ditulis oleh mama Amilin yang berjudul KITAB TAUHID, bahwa "Ketauhidan ialah pengetahuan dasar agama islam yang sangat tinggi tingkatannya"
(Komen:Ongkoh Dasar, tapi tinggi, setau yang menyertai saya mah kalo Dasar mah di handap(red:di bawah), tapi ieu mah tinggi.....ccckkk... itulah perbadaannya dengan yang banyak dipelajari orang, hese kapikir mun teu dikersakeun mah)

Ajaran Mama Amilin dan Melebu

Setelah sekian lama tidak menuliskan sebuah postingan di thread, saya merasa tertarik dari pertanyaan seorang teman, "apakah mempelajari dan mengamalkan ajaran Mama Amilin hanya sekadar untuk melebu?", pertanyaan yang luar biasa, mengapa dikatakan luar biasa? karena hal tersebut membuat saya jadi berpikir keras untuk dapat memahaminya dan mengetahui jawaban yang pas dan pantas untuk pertanyaan tersebut. Berikut ialah tulisan yang dipost untuk menanggapi pertanyaan tersebut:
Di kersakeun Melebu atawa henteu, eta mah sanes karep urang, Eta mah teu beunang dihayang-hayang atawa diembung-embung. Ku kersana nu kagungan bae dikersakeun melebu atanapi henteuna mah. Mama kantos nyaurkeun kieu, "Kanggo nu teu dikersakeun melebu teu kedah alit manah, da biasana nu teu dikersakeun mah di ajar kana katerangan(red:Al Qur'an) teh leuwih apik tur soson-soson"
(endone-maneh:)
Dikehendaki melebu atau tidak, itu mah bukan kehendak kita, itu mah tidak dapat diminta atau tidak dapat ditolak, oleh kehendak Yang Maha Memiliki saja dikehendaki melebu atau tidaknya mah. Mama pernah berkata begini "Untuk yang tidak bisa melebu tidak usah berkecil hati, biasanya yang ditidak bisakan mah, belajar Keterangan(red:Al Qur'an) itu lebih apik dan sungguh-sungguh"
Kalimat ajaran Mama Amilin dari pertanyaan di atas tidak luput dari pemikiran, istilah Ajaran Mama Amilin memang timbul baru-baru ini, atau mungkin udah lama, namun yang saya ketahui, istilah itu kurang pas, karena yang mama Amilin sendiri pelajari dan amalkan adalah Ajaran Al Qur'an. Jadi kalo kita mengatakan ini adalah Ajaran Mama Amilin atau Ajaran Mama Amilin Abdul Jabbar, rasanya gimana gituh....??? Sepertinya Ada lagi ajaran baru selain AlQur'an. Padahal Setelah AlQur'an teh Tidak ada lagi yang dapat menggantikannya.

14 Februari 2009

Guru, Murid dan Saya

Berdasarkan pengalaman yang teralami oleh saya, Saudara sepupu*saya pernah berkata: "Panggihkeun Guru atawa murid nu marengan diri"(indonesia: Temukan Guru atau murid yang menyertai diri).

berdasar pengetahuan yang saya pelajari dan saya dapatkan, Manusa diterapan ku pirang-pirang pangawasana kagungan Allah (Manusia disertai oleh banyak-banyak kekuasaan milik Allah), diantaranya Guru dan Murid.

Pengalaman:
Sering sekali kita menuduh seseorang itu GURU atau MURID, yang terdekat, misalnya saya, saya merasa bahwa saya ini adalah MURID (waktu sekolah dulu) yang hanya akan diberi tahu oleh GURU di sekolah mengenai hal-hal yang saya tidak tahu. Namun yang terjadi, jika saya tidak bertemu dengan Ia(guru di sekolah), dirumah saya disuguhi PR yang dibekal dari Sekolah, dan saya harus mencari sendiri jawaban, "sungguh GURU yang tidak tahu diri" (mungkin itu salah satu ungkapan kejengkelan yang pernah terjadi pada saya waktu itu), karena saya belajar disekolah itu untuk menuntut ilmu pengetahuan dan harapan dari orang tua di rumah yaitu supaya saya tahu segala sesuatu adalah kepada GURU di Sekolah.

Ternyata:
Jika kita tafakuri, Guru sebenar-benarnya ialah guru yang menyertai diri, yang akan terus memberitahu apa-apa yang tidak kita tahu, meskipun kita tidak melihatnya, namun kita sering sekali menikmati ajaran-ajarannya. Guru sebenarnya ialah yang memberi tahu jawaban PR-PR yang dibekal dari sekolah ke rumah. Guru yang sebenarnya ialah Guru yang membantu mendidik diri dimanapun berada, Guru yang sebenarnya Guru yang selalu menyertai kita dimanapun kita berada. Guru yang sebenarnya ialah guru tiada hentinya mendidik tanpa bosan mendidik tanpa minta imbalan sepeserpun dan mengikuti kita kemanapun kita berada. Guru yang sebenarnya tidak membutuhkan makan dan minum, Dll.

Namun:
Kita, yang terapan (disertai) dengan GURU dan MURID, Apakah akan Belajar Pengetahuan yang Baik yang akan menuntun kita ke jalan kebaikan atau Sebaliknya??
Dua Utusan (atas nama Kemuhammadan & atas nama Kesetanan) yang menyertai manusia akan selalu berlomba supaya manusia mengikuti salah satu dari mereka, mereka bertugas sesuai tugas masing-masing.

Kita, yang terapan (disertai) dengan GURU dan MURID, Sudahkah kita bersyukur atas nikmat Guru, Murid juga Pengetahuan yang menyertai kita?

Bisa ditarik kesimpulan:
Guru di sekolah, ialah Guru Sareat/guru secara lahiriah, biasanya seseorang yang menjadi guru masih membutuhkan makan dan minum, karena ia memang Orang atau manusia yang secara alamiah diterapan/disertai berbagai macam SIFAT termasuk SIFAT LAPAR dan SIFAT HAUS.
GURU sebenarnya, ia menyertai siapa saja, juga menyertai seseorang yang menjadi Guru. Karena nya, Kalimat "GURU ialah Pahlawan tanpa Tanda jasa" sangatlah benar.

Oleh karena itu, "Panggihkeun Guru atawa murid nu marengan diri"(indonesia: Temukan Guru atau murid yang menyertai diri). Dan pesan dari Mama yang saya tahu dari saudara sepupu*saya tadi ialah, "lebih baik Jadi SISWA/MURID dari pada mengaku-aku sebagai GURU, karena kalau jadi SISWA mah suka diberitahu hal-hal yang tidak kita ketahui oleh GURU"

Demikian yang saya pelajari, jika kurang berkenan mohon saling koreksi.

04 Februari 2009

Bismillahi sami'il 'alim

Dari yang saya dapat dan saya pelajari.


Bismillahi sami'il 'alim

Dari buku peninggalan Mama Sepuh yang pernah saya baca, dijelaskan bahwa:
Bi ismi Allah >>> Ku nyebat Jenengan Allah (Dengan menyebut Nama Allah)

Yaa Sami'u =
He Dzat Nu Kagungan DANGU (Wahai Dzat Yang Memiliki DENGAR/PENDENGARAN)/
He Dzat Nu Nga-DANGU-keun (Wahai Dzat Yang Men-DENGAR-kan)
>>> Nama Allah yang Perkaranya Mendengar

Yaa 'Alimu =
He Dzat Nu Kagungan UNINGA (Wahai Dzat Yang Memiliki TAHU/PENGETAHUAN)
He Dzat Nu Ng-UNINGA-keun (Wahai Dzat Yang Men-TAHU-kan)
>>> Nama Allah yang Perkaranya Mengetahui

Dzat Allah Ta'alla, Dzat Yang Memiliki DENGAR/PENDENGARAN juga Dzat Yang Memiliki

TAHU/PENGETAHUAN. Sifat Mendengar ataupun Sifat Mengetahui menyertai(sunda=tumerap/terap) Mahluk, seperti manusia.

Manusia dibisakan menDENGAR(menikmati pendengaran) Karena DENGAR/PENDENGARAN milik Allah, Manusia dibisakan mengeTAHUi(menikmati pengetahuan) Karena TAHU/PENGETAHUAN milik Allah, dan lain sebagainya.

Dari mulai Nabi Adam AS digelarkan, DENGAR/PENDENGARAN telah menyertainya, hingga sekarang, begitu pula TAHU/PENGETAHUAN.

PENDENGARAN dan PENGETAHUAN milik Allah telah tunduk patuh sebagaimana tugasnya ketika menyertai manusia. PENDENGARAN dan PENGETAHUAN tidak pernah sombong ataupun berteriak "HAi... kami telah membuat manusia mendengar dan Tahu akan hal-hal yang mereka belum tahu.. Aku Hebat Ya!!!".
Sebagai bahan Tafakur, Telah kita gunakan untuk apa PENDENGARAN dan PENGETAHUAN yang menyertai kita? Apa untuk kebaikan atau keburukan?

Itu baru 2 perkara milik Allah. Bagaimana dengan perkara lainnya milik Allah yang menyertai kita? seperti PENGLIHATAN dan MATA, LANGKAH dan KAKI, GENGGAMAN dan TANGAN, PENCIUMAN dan HIDUNG, PIKIRAN dan OTAK, PERASAAN dan HATI, AKAL, KEINGINAN, HARAPAN, SENANG, SEDIH, PINTAR, BODOH, GIAT/RAJIN, MALAS dll. Telah kita gunakan untuk apa? Apa untuk kebaikan atau keburukan?

Demikian Sedikit Sharing apa-apa yang didapat. Semoga bisa menjadi bahan tafakur untuk kita semua, terutama saya pribadi.

21 Januari 2009

Tauhid dengan Bismillah

Berikut Kutipan yang dikutip dari buku yang ditulis oleh Mama H. Amilin. yang disampulnya berjudul "Kitab Tauhid". Buku Aslinya berupa tulisan tangan dengan huruf arab dan basa sunda. berikut transliterasinya kedalam tulisan latin:
ALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘ALAMIN, ASHOLAATU WASSALAMU ‘ALA ASYROFIL AN BIYAA I WAL MURSALIN, SYAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WASHOHBIHI AJMA’IIN, AMMA BA’DU

Tangtos pisan sadayana nu nganut kana agama Islam mah moal aya anu hanteu terang kana kalimah Al Basmallah malihan anu hanteu nganut kana agama Islam ogé, seueur anu terangeun.
(Sangatlah Tentu, semua yang menganut agama Islam tidak ada yang tidak tahu terhadap kalimah Al Basmallah, malahan yang tidak menganut agama islam juga banyak yang mengetahui)

Ari margina kalimah Al Basmallah téh upami bangawan mah, lir ibarat sirahna atawa hulu wowotanana, ngan ari kalimah Al Basmallah mah sirahna kalimah Surat-Surat Al Qur'an. Barang ari Al Qur'an éta poko undang-undang dasar agama Islam, atuh kalimah Al Basmallah téh hulu wowotan agama Islam.
(alasannya kalimah Al Basmallah itu jika diibaratkan Sungai, ibarat Kepala atau Hulu/Sumber sungainya, hanya saja Kalimah Al Basmallah adalah Kepala Kalimah Surat-surat AlQur'an. Dan Al Qur'an itu adalah Pokok Undang-undang Dasar Agama Islam, Jadi Kalimah Al Basmallah itu ialah Sumber Agama Islam)

Lamun anu diajar agama Islam tina kalimah Al Basmallah heula, éta lir ibarat anu mapay bangawan ti girang ka hilirkeun, tangtu moal sasab, moal nyalahan kanu walungan kanu ngamuara, kana éta bangawan.
(Jika Belajar Agama Islam dari Kalimah Al Basmallah terlebih dahulu, itu seperti yang menyusuri Sungai dari Hulu ke Hilir, tentu tidak akan tersesat, tidak akan salah arah ke Sungai yang bermuara ke Sungai itu)

Tapi sabalikna anu mapay bangawan ti hilir kagirangkeun tangtu aya sasabna nyaéta dimana manggih muara, lamun hanteu aya nu nuduhkeun atawa aya nu nuduhkeun ogé dumadak hanteu percaya kanu nuduhkeun, lantaran walungan anu ngamuara téh sarua gedéna jeung bangawan anu dipapay téa atawa leuwih gedé. Atuh jadi kana sasabna baé.
(tapi Sebaliknya, yang menyusuri sungai dari hilir ke hulu, tentu akan tersesat seperti ketika menemukan muara, Jika tidak ada yang menunjukkan atau pun ada yang menunjukkan juga mendadak tidak akan percaya kepada yang menunjukkan jalan, sebab sungai yang bermuara tersebut sama lebarnya dengan Sungai yang disusuri sebelumnya malahan lebih lebar, tentulah Jadi tersesat)

Nya kitu nu diajar agama Islam, nyukcrukna tina hulu wowotanana heula, nyaéta tina kalimah Al Basmallah tangtu moal sasab margi ti girang ka hilirkeun, jadi dina nganyahokeun Tauhid ka Allah Ta'alla téh moal musrik, nyaéta nyasamakeun atawa nyarupakeun Allah Ta'alla jeung mahlukna, saperti itikadna jeung pangucapna nu hanteu nganut agama Islam.
(Begitu Juga yang belajar agama islam, menyusurinya dari hulu/sumbernya dahulu, yaitu dari kalimah Al Basmallah, tentu tidak akan tersesat sebab dari Hulu ke hilir, jadi dalam mengetahui Tauhid Kepada Allah Ta'alla itu tidak akan Musrik, yaitu menyamakan atau menyerupakan Allah Ta'allah dengan mahluk-Nya, Seperti Itikadnya dan Ucapannya yang tidak menganut agama islam)

Dari tulisan kutipan di atas ditegaskan bahwa untuk belajar agama islam, agar dimulai dengan mempelajari Kalimah Al-Basmalah karena merupakan sumber dari agama islam.
Bismillahirohmannirohiim = Dengan menyebut Nama Allah, Arrohman dan Arrohim.

Jelasnya Yaa Allahu, Yaa Arrohmanu, Yaa Arrohimu ialah Nama-nama Allah.
Arrohmanu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Panjang dari Dunia Sampai Akhirat.
Arrohiimu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Pendek hanya di Dunia saja.

Tinggal Kita, bagaimana mensikapi atau berprilaku, apakah akan berbuat yang melanggar undang-undang yang akibatnya bisa panjang juga sampai ke akhirat.

Atau sebaliknya, Berbuat kebaikan yang akibatnya juga sampai ke akhirat.

nb:
Dari pengalaman yang saya alami, setiap saya berkumpul dengan baraya di Bandung, jika membahas suatu topik, pembahasan tidak pernah lepas dari Bismillah, malahan hampir setiap pertemuan, setiap pembahasan, kembali dan kembali lagi pada bismillah, memang apa yang tertulis dalam kitab itu terbukti pada saya.

20 Januari 2009

Amilin dan Abdul Jabbar

Mun ngadangu carios ti pun bapa, nu kantos tepang sareng mama sepuh waktos aya keneh dikieuna. harita pun bapa nuju alit keneh kirang langkung yuswa 11-12 taun, anjeuna ningali yen tamu nu sumping ka teun mama sepuh di lengkong sok seueur, mun saur kapi lanceuk mah, aya nu butuh ku bubutuh, aya oge nu butuh ku pangaweruh. Di caket tempat mama linggih, aya hiji wadah sebut wae baskom, eta baskom ku mama dieusian amplop anu katampi ku mama ti para tamu nu marasihan, eta amplop teh ku mama tara di anggo kanggo ngagindingan anjeuna komo deui kulawargana. estu eta eusi baskom atawa amplop teh ku mama di pasihkeun deui ka tamu nu memang peryogieun nu katawis dina obrolan anu memang tos bagianana, eta margina mama kagelaran "amilin" sanes ka gelaran "ambilin". Gelar Amilin eta sanes gelar Jore-jore. Estu gelar ti kersana Nu Kagungan Gelar, eta mama ka gelaran ku lantaran ngalakonan sakumaha gawena eta Gelar. Matakna Mama kasohorna Mama Amilin, nu osok masihkeun sodakoh ti saha bae ka saha-saha nu tos bagianana.

Kapetik pelajaran dina eta carios, yen urang cobi pisahkeun antawis Mama, gelar Amilin sareng Gelar Abdul Jabbar, eta masing-masing terpisah. Eta ku dua gelar mama kagelaran, sesuai sareng naon-naon anu dilakukeunana. Tah dumugi urang anu simpati ka Mama, tiasa ngalakonan sakumaha lalakon anu kaalaman ku sareat mama .


(Indone-maneh)
Jika mendengar cerita Ayah, yang pernah bertemu dengan mama sepuh semasa dia masih ada. Waktu itu ayah masih kecil kurang lebih berumur 11-12 tahun, dia melihat bahwa tamu yang datang ke mama sepuh di lengkong sangat banyak, kalau kata sepupu mah ata yang butuh sama kebutuhan sehari-hari, ada juga yang butuh dengan pengetahuan. di dekat tempat mama duduk, ada sebuah wadah sebut saja baskom, baskom tersebut oleh mama diisi amplop yang mama terima dari para tamu yang memberikan kepadanya, amplop tersebut oleh mama tidak pernah dipergunakan untuk kesenangan pribadinya apalagi keluarganya. Tetapi isi baskom tersebut atau amplop itu oleh mama di berikan kepada tamu yang memang membutuhkannya yang terlihat dalam pembicaraan sebelumnya dan memang sudah bagiannya, itu sebabnya mama kagelaran "Amilin" bukan kagelaran "Ambilin". Gelar amilin tersebut bukan gelar sembarang gelar, tapi gelar dari kehendak Yang Maha Memiliki Gelar, Mama Kagelaran oleh karena melakukan sesuai pekerjaan gelar tersebut. Oleh sebab itu mama terkenal dengan sebutan Mama Amilin, yang suka memberikan sodakoh dari siapa saja kepada siapasaja yang memang bagiannya.

Terpetik sebuah pelajaran dari cerita tersebut, bahwa kita mencoba memisahkan antara Mama, Gelar Amilin dan Gelar Abdul Jabbar, masing-masih terpisah. Oleh Dua Gelar Tersebut mama Kagelaran, sesuai apa-apa yang dilakukannya. Semoga bagi kita yang simpati kepada MAma, bisa melakukan seperti yang teralami oleh Sareat Mama.

(NB: Kata Saudara mah nama Aslinya teh Mama Iming)

Politikus Ulung

Aya hiji carita ngenaan Mama H. Amilin nu kagelaran Abdul Jabbar, anu ku sim kuring kadangu diriwayatkeun ku kapilanceuk sababiah sim kuring.

Kieu caritana:
Hiji waktos dihiji tempat aya hiji awewe anu pagaweana kurang hade, sebut wae ku jaman kiwari mah PSK, manehna geus sababaraha peuting teu "beubeunangan", manehna menang info "cenah mun hayang payu deui mah datang wae ka teun Mama Amilin", nya, eta awewe teh ngagugu kana omongan eta teh. manehna ngajugjug ka padumukan mama Amilin di daerah lengkong bandung, pas panggih manehna nyaritakeun naon-naon anu tumiba ka manehna, yen manehna ampir sabaraha peuting "Dagang"na tiiseun. Mama ngan ukur ngadangukeun. beres eta awewe nyarita, mama ngasongkeun tulisan kalimah "Bismillahhirohmaniirohim" bari nyarita "yeuh nyai, paragi meh heneuteun, aos bae 13 kali samemeh damel, 13 kali samemeh kulem". eta awewe atoheun di asongan eta kalimah. isukna manehna ngalakonan naon-naon anu di obrolkeun samemehna.

sababara poe tiharita, eta awewe datang deui ka mama amilin, manehna nyaritakeun deui pangalaman nu tiba ka manehna, yen cenah samulihna ti mama, manehna ngalakukeun nu diucapkeun ku mama, tapi bororaah haneuteun, malah mah taya nu ngalieuk-lieuk acan ka manehna, manehna sababara poe ieu jadi sering kapikiran, "naha bet kieu?","salah kitu nu dilakonan teh?", "Salah meureun", jeung loba-loba deui pikiran anu ahirna manehna tobat tina kalakuan nu teu saluyu jeung hukum. Mama ngan ukur gumujeung bari nyarios "Alhamdulillah, nyai, pitulung eta teh, bagja... barokahna bae".

Dina carita diluhur, ka petik ku simkuring yen mama teh "Politikus Ulung", teu make panyarek, teu nganggo sosorongot boh popolotot, tapi ngangge basa sareng budi pekerti nu luhur, saha bae tiasa kengeng hidayah ku kersana anu Kagungan arurang.


(indone-maneh)
ada sebuah cerita tentang Mama H. Amilin yang bergelar Abdul Jabbar, yang Saya dengar dan diriwayatkan oleh saudara sepupu*saya:

Begini ceritanya:
Suatu hari di sebuah tempat ada seorang perempuan yang kerjanya kurang baik, sebut saja pada jaman sekarang dengan sebutan PSK, ia sudah beberapa malam tidak dapat pelanggan, Dia mendapat informasi "Jika ingin Laku lagi mah datang saja ke mama Amilin", Ya, perempuan tersebut nurut saja pada ucapan itu, dia pergi ke rumah mama Amilin di daerah lengkong bandung, ketika bertemu dia bercerita apa yang ia alami, bahwa ia hampir beberapa malam "Dagang"nya gak laku. Mama hanya mendengarkan. Setelah perempuan itu selesai bercerita, mama menyerahkan tulisan kalimah "Bismillahhirohmaniirohim" sambil berkata "Nih Nyai, untuk supaya rame, baca saja 13 kali sebelum bekerja dan 13 kali sebelum tidur", perempuan tersebut gembira disodori kalimah tersebut. besoknya ia mulai melaksanakan apa-apa yang dibicarakan sebelumnya.

Beberapa hari setelah itu, perempuan tersebut datang lagi ke mama Amilin, ia menceritakan lagi pengalaman yang ia alami, bahwa sepulang dari mama, ia melakukan sesuai ucapan dari mama, tapi bukannya rame/laku, malahan tidak ada satupun yang mau menoleh kepadanya, beberapa hari itu selalu terpikir "Kenapa begini?", "Salahkan yang saya lakukan ini?", "kemungkinan Salah"
dan banyak lagi pikiran yang akhirnya ia bertobat dari kelakuan yang tidak sejalur dengan hukum. Mama Hanya tersenyum sambil berkata "Alhamdulillah, nyai, pertolongan itu teh, bahagia... barokahNya saja".

Dari cerita di atas, terpetik pelajaran oleh saya pribadi bahwa mama seorang "Politikus Ulung", tanpa Melarang, tanpa Memaksa dan marah, tetapi dengan bahasa dan budi pekerti yang Luhur, siapa saja bisa mendapat Hidayah oleh Kehendak Yang Maha Memiliki Kita semua.