Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

28 Oktober 2011

Amis teh lain dina Gula wungkul

..bismillahirrohmaanirrohiim..

"Amis teh lain dina gula wungkul"
("manis bukan hanya pada Gula")

Kalimat "AMIS teh lain dina gula wungkul", mun diteuleuman lewih jero, lain ukur ngadongengkeun gula, boh gula bodas atawa gula beureum, sumawona ngadongengkeun madu atawa tiwu.

Kalimat nu siga kalimat eta loba pisan. Saperti "ASIN teh lain dina uyah wungkul", "LADA teh lain dina cengek wungkul", "HASEUM teh lain dina asem wungkul", "HEJO teh lain dina daun wungkul", jeung rea rea deui.

Leuwih ti eta mun dilebarkeun deui, khususna nyangkut paut kana diri pribadi, "PINTER teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "BODO teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "KEDUL teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "RAJIN teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "HARIWANG teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "SIEUN teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", "ADIGUNG KUMULUHUNG teh lain di urang wungkul, dinu sejen ge nyampak", jeung rea rea deui.

Dina belajar netral, urang "balikeun" kalimatna, "PINTER teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "BODO teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "KEDUL teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "RAJIN teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "HARIWANG teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "SIEUN teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak", "ADIGUNG KUMULUHUNG teh lain di batur wungkul, dina diri ge nyampak".

PINTER teh lain di urang jepang wungkul, di Urang Indonesia ge nyampak. Naha bade dianggo naon PINTER nu Alloh nu tumiba ka urang teh?

RAJIN teh lain di urang jepang wungkul, di Urang Indonesia ge nyampak. Naha bade dianggo naon RAJIN nu Alloh nu tumiba ka urang teh?

Mangga diteraskeun bae.. kana BODO sareng saterasna, tafakuraneun pikeun urang masing-masing.

Hal ieu diguar, utamana pikeun pribadi sanes bade mapatahan batur, ngarumasakeun diri loba keneh omeaneun, masih didikeun, binaeun, bejaaneun.

{(B. Indonesia)
"Manis itu tidak hanya dalam Gula"

Kalimat "Manis itu tidak hanya dalam Gula saja", klo difahami lebih dalam lagi, bukan hanya menceritakan gula saja, baik gula putih atau gula merah, begitupula menceritakan madu atau tebu.

Kalimat yang mirip seperti itu cukup banyak. Seperti:

"ASIN itu bukan hanya pada Garam saja",
"Pedas itu bukan hanya pada cabe rawit saja",
"ASAM itu bukan hanya pada buah Asem saja",
"HIJAU itu bukan hanya pada daun saja", dan sebagainya.

Lebih dari itu jika diperluas lagi, khususnya berkaitan dengan diri pribadi,

"PINTER itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai PINTAR / kePINTARan",

"BODOH itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai BODOH / keBODOHan",

"MALAS itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai MALAS / keMALASan",

"RAJIN itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai RAJIN / keRAJINan",

"KHAWATIR itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai KHAWATIR / keKHAWATIRan",

"TAKUT itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai TAKUT / keTAKUTan",

"SOMBONG itu bukan hanya pada diri pribadi saja, diri yang lain pun terdapat/disertai SOMBONG / keSOMBONGan", dan masih banyak lagi.

Dalam pembelajaran netral, kita "balikan" kalimatnya menjadi:,

"PINTER itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai PINTAR / kePINTARan",

"BODOH itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai BODOH / keBODOHan",

"MALAS itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai MALAS / keMALASan",

"RAJIN itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai RAJIN / keRAJINan",

"KHAWATIR itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai KHAWATIR / keKHAWATIRan",

"TAKUT itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai TAKUT / keTAKUTan",

"SOMBONG itu bukan hanya pada diri yang lain, pada diri pribadi pun terdapat/disertai SOMBONG / keSOMBONGan", dan masih banyak lagi.

(adapaun contoh lain seperti:)

PINTER itu tidak hanya pada orang-orang jepang saja, di orang-orang Indonesia-pun disertai PINTAR. Lantas mau dipakai apa PINTAR milik Alloh yang menyertai kita itu?

RAJIN itu tidak hanya pada orang-orang jepang saja, di orang-orang Indonesia-pun disertai RAJIN. Lantas mau dipakai apa RAJIN milik Alloh yang menyertai kita itu?

Silahkan lanjutkan.. pada contoh kalimat BODOH dan sebagainya, itu merupakan salah satu bahan tafakur kita masing-masing.

Hal ini dikemukakan, terutama untuk pribadi, bukan untuk menasihati orang lain, merasakan diri masih banyak yang harus diperbaiki, masih banyak butuh pembelajaran, masih butuh dibina, dan dinasihati.

04 Januari 2010

Gelar Abdul Jabbar

Dari tulisan yang saya baca pada sebuah thread membuat tertarik untuk menuangkan apa-apa yang didapat. Salah satunya seperti yang dikutip di bawah ini.

Abdul jabbar adalah hamba allah yg gagah perkasa...
kita-kita disini juga termasuk abdul jabbar....

Kalo boleh bertanya, kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya bagaimana, apakah saya dan anda dan semua orang, atau bagaimana?(pertanyaan ini perlu sekali dipertanyakan untuk mempermudah memahami kalimat selanjutnya)

Diasumsikan saja bahwa kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya adalah saya dan anda dan semua orang.

Jika kita merujuk kalimah "Lahaola Walaquwata ilabillahi aliyul adzim"(mohon maaf jika salah nulis transliterasinya), Tidak ada daya dan kekuatan milik saya yang menyertai saya, hanya lah daya dan kekuatan milik Allah lah yang menyertai saya.

Dari ayat tersebut di atas, bisa di ambil petikan, bahwa
- tidak ada daya dan kekuatan selain milik Allah
- saya(atau siapapun atau kita-kita) sangatlah tidak berdaya dan berkekuatan tanpa daya dan kekuatan milik Allah

Pembuktian bahwa kita tidak berdaya dan berkekuatan, jangankan untuk menumbuhkan badan untuk bisa tinggi dan besar, satu helai rambutpun, kita tidak pernah tahu, bagaimana proses membuatnya ataupun menghitamkannya ataupun memutihkannya, yang kita tahu hanyalah pada waktunya kita menghampiri tukang cukur untuk memotong rambut atau mendatangi salon untuk menyemir rambut. atau, pernahkah kita menyadari bahwa sesungguhnya kita ini dilayani 100% oleh kekuasaan Allah?

Ambil contoh saja saya(karena saya yang mengalaminya, kalo orang lain bukan saya yang mengalaminya), Ketika makan saja, saya dibantu oleh sendok, dan sendok diangkat oleh tangan lalu memasukan makanan yang berada disedok ke dalam mulut, lalu dikunyah di dalam mulut oleh gigi dan ditelan melalui tenggorokan, sampai proses itu saja banyak sekali yang melayani saya, seperti sendok, tangan, mulut, gigi, tenggorokan, kunyahan(gerakan di mulut), gerakan pada tangan. lebih jauh dari itu jika flashback, saya tidak perlu berabe membuat sendok, saya hanya tinggal pake sendok yang sudah tersedia di rumah, makanan pun saya tidak usah masak dulu, atau kalaupun harus masak dulu saya dilayani oleh badan ini, alat masak dan bahan masakan untuk memasak. (wuih... gak kehitung pokoknya yang ngelayanin saya hanya untuk proses makan), jika ditelusuri pada proses setelah menelan makanan, saya tidak perlu berabe misahin mana yang bakal dijadikan daging atau darah merah atau darah putih atau kulit atau rambut atau jaringan syaraf atau kuku atau hati atau antibodi atau kotoran dll. pokoknya mah saya terima beres semua, bukan kah itu ciri bukti kalo saya dilayani 100% oleh pangawasana Allah? (Alhamdulillah)

Jika "abdul jabbar ialah hamba allah yg gagah perkasa....", Nah Kita-kita ini siapa sih sebenarnya?? dimana letak gagah perkasa-nya kalo masih 100% dilayani oleh pangawasana Allah ta'alla?

Dari Riwayat yang diriwayatkan oleh salah satu sepuh, Mama Sepuh teu pernah ngaku mun mama teh Abdul Jabbar, malahan mah mun aya nu tos ti mama, di wawadian ku mama sepuh teh kieu "ulah nyebat tos ti Mama atawa tos ti Guru komo deui nyebat tos ti Mama Abdul Jabbar, sebat wae tos ti rerencangan atanapi tos ti wargi"
(Mama Sepuh gak pernah mengaku kalo mama itu Abdul Jabbar, malahan mah kalau ada yang sudah dari Mama, diperingati oleh mama sepuh itu begini "Jangan bilang udah dari Mama atau udah dari Guru apalagi bilang udah dari Mama Abdul Jabbar, bilang saja sudah dari teman atau sudah dari saudara")

Dari cerita di atas, sangat jelas Mama di sebut Mama atau Guru saja gak mau, apalagi disebut dengan gelarnya, pada cerita di atas, Mama menjelaskan sebuah pelajaran yang sangat berharga, menjelaskan bahwa Abdul Jabbar bukanlah Mama, Beliau hanyalah Manusia biasa. Mama ialah Mama, Abdul Jabbar ialah Abdul Jabbar, Namun oleh kehendakNya lah Mama digelari Abdul Jabbar. (ceuk urang sunda mah Teu Hayang-hayang komo embung, teu embung-embung komo hayang, estu sakersaNa kagungan Allah bae Mama kagelaran Abdul Jabbar).

Jika secara kata Abdul Jabbar>> Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa, maka bisa disebut "Abdul Jabbar" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa", "Abdul Jabbar" bukanlah "Mama", namun "Mama" kagelaran/digelari Oleh Kehendak-Nya dengan gelar "Abdul Jabbar", jadi yang "gagah perkasa" bukanlah "Mama" tapi yang "Gagah Perkasa" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya" yang tadi disebutkan yaitu atas Nama "Abdul Jabbar".

Mungkin itu yang saya dapat, mohon maaf jika tidak berkenan.

14 Oktober 2009

Keadilan dan Kebijaksanaan Hukum

Pernah aya obrolan nu kaalaman ku sim kuring sareng kapi raka sebat bae Aa(nama disamarkan), saur Aa kieu: "Wajar mun urang dianggap sasat, da meureun beda tujuanana, saperti kieu, urang mah tujuan teh rek ka cibiru, jalan ka cibiru ti kiaracondong teh ka beulah wetan, nu sejen mah rek ka Padalarang, mun ti kiaracondong ka padalarang mah jalana ka beulah kulon, atuh wajar mun ku nu rek ka padalarang, urang teh disebut sasat, lantaran arahna ngajauhan padalarang. teu kudu sieun disebut sasat, da jelas urang mah tujuan na oge rek ka cibiru, lain rek ka padalarang, ngan urang teu perlu pipilueun nyebut batur nu rek ka padalarang sasat. Da maranehanana puguh oge nu di tujuna nyaeta padalarang, nya pasti maranehanana indit kakulonkeun ti kiaracondong mah"
(Pernah ada obrolan yang teralami oleh saya dengan kakak sepupu, sebut saja Aa(nama disamarkan), kata Aa begini: "Wajar kalo kita dianggap sesat, karena mungkin berbeda tujuannya, seperti begini, kita mah tujuannya mau ke Cibiru, Jalan ke Cibiru dari Kiaracondong teh ke sebelah Timur, Yang Lain mau ke Padalarang, Kalo dari Kiaracondong ke padalarang mah Jalannya ke sebelah barat, Wajar saja kalo oleh yang mau ke padalarang, kita teh disebut sesat, karena arahnya menjauhi padalarang. Tidak usah takut disebut sesat, karena jelas kita mah tujuannya juga mau ke cibiru, bukan mau ke padalarang, hanya saja kita tidak perlu ikut-ikutan menyebut orang lain yang mau ke padalarang sesat, karena mereka jelas juga yang ditujunya yaitu padalarang, ya pasti mereka pergi ke barat dari kiaracondong mah.")

Masih Aa keneh: "Tah Mun hubunganana jeung Hukum, Urang salaku manusa nu kahukuman ku Hukum Bener jeung Hukum Salah, teu aya hak pikeun nyebutkeun si anu mah sasat, atawa si ieu mah teu sasat, sabab Ngahukuman Sasat jeung Teu Sasat Mah wewenang Hukum, dimana Manusa ngahukuman atuh nyasamaan Hukum, jadi dimana Hukum/AlQur'an di bacakeun eta teh keur sararea, leuwih tiheula nu Macana"
(Masih Aa juga: "Nah Kalo hubungannya dengan Hukum, kita selaku manusia(mahluk) nu terhukumi oleh Hukum benar dan hukum Salah, tidak berhak untuk menyebut si Anu mah Sesat atau si ini mah tidak sesat, sebab menghukumi Sesat dan Tidak Sesat mah wewenang Hukum, dimana Mahluk Manusia menghukumi(seseorang) sama saja menyamai hukum, jadi dimana hukum/A;Qur'an Dibacakan itu untuk banyak/semua orang, lebih dulu yang membacanya(membaca hukum tsb)")

Kuring: "Kumaha Perkara Hukum di pengadilan, Pan Hakim nu memVonis, pan nu jadi hakim teh manusa, naha eta manusa nu jadi hakim sarua jeung nyasamaan hukum teu?"
(Saya: "Bagaimana Perkara Hukum di pengadilan, kan Hakim yang memVonis, kan yang jadi hakim teh manusia, apakah itu manusia yang jadi hakim sama dengan menyamai hukum, gak?"")

Aa: "Pan Hakim mah Jabatan, ngan eta jelema/manusa katerapan eta Gelar/Jabatan, jadi diwenangkeun ngaluarkeun putusan sesuai undang-undang nu berlaku pada umumna, Tapi mun Nu Jadi Hakim, ngagunakeun jabatan Hakimna teu katut undang-undang nu berlaku(mabeulitkeun antara kabutuhan pribadi jeung perkara hukum), eta nujadi hakim oge kahukuman, malahan mah hukumana leuwih beurat batan sejena"
(Aa: "kan Hakim mah Jabatan, hanya orang itu disertai Gelar/Jabatan itu, jadi diwenangkan mengeluarkan putusan sesuai undang-undang yg berlaku pada umumnya, Tapi kalo yang Jadi Hakim, menggunakan jabatan Hakimnya tidak dengan undang-undang yg berlaku(mencampur adukan antara kebutuhan pribadi dengan perkara hukum), itu yg menjadi hakim juga terhukumi, malahan mah hukumanya lebih berat daripada yang lainnya")

Masih Aa keneh: "Jadi kaadilan Hukum mah, teu ponteng kanu koneng teu nineung kanu hideung, dimana nu nyokot hayam teu bebeja, rek ajengan, rek santri, rek hansip, rek jendral, rek cacah rek menak, rek lalaki rek awewe, rek budak, rek kolot ku hukum mah digelaranana oge MALING."
(Masih Aa juga: "Jadi keadilan Hukum mah, Tidak pandang bulu, dimana yang mengambil ayam gak permisi, mau ajengan, mau santri, mau hansip, mau jendral, mau rakyat jelata mau darah biru, mau lelaki mau perempuan, mau anak-anak, mau orang tua oleh hukum mah digelari MALING.")

Masih Aa keneh: "Terus Kabijaksanaan Hukum mah Rek Lalaki, rek awewe, rek budak, rek kolot, rek hansip, rek jendral, rek nu beunghar rek nu teu beunghar, rek nu digawena di DEPKES, rek nu digawena di DEPKEU, rek nu gawena DEPKOLEKTOR, rek nu nganggur, rek nu motorna hiji rek nu motorna sapuluh atawa nu ngan ukur naek ojeg meunang ngalakukeun kahadean(patuh terhadap hukum). kitu bijaksanana hukum teh, teu ngabeubeurat. dimana saja kapan saja setiap saat, moal aya nu nyarek rek migawe kahadean mah"
(Masih Aa juga: "Terus Kebijaksanaan Hukum mah mau Lelaki, mau perempuan, mau anak-anak, mau orang tua, mau hansip, mau jendral, mau yang kaya mau yang gak kaya, mau yang kerjanya di DEPKES, mau yang kerjanya di DEPKEU, mau yang kerjanya DEPKOLEKTOR, mau yang nganggur, mau yang motornya satu mau yang motornya sepuluh atawa yang hanya naik ojek boleh melakukan kabaikan(patuh terhadap hukum). itulah bijaksananya hukum teh, tidak memberatkan. dimana saja kapan saja setiap saat, gak ada yang melarang mau berbuat baik mah")

kitu obrolan, simkuring sareng salah saurang wargi, Mugia carita di luhur aya pulunganeunnana,Hapunten ka sadayana.
(begitulah obrolan, saya dengan salah satu saudara, semoga cerita di atas ada manfaatnya, mohon maaf ke semuanya)

23 Maret 2009

Tasawuf atau Tak Sanggup?

Berikut sebuah dialog antara Asep dan Warya, Tokoh dalam cerita ini hanya fiktif belaka, nama dan kejadian telah disamarkan atas persetujuan yang bersangkutan: :D, semoga kita mendapat secerca ilmu yang bermanfaat di dunia maupun akhirat.
"Kang, Bagaimana nih keadaan negara kita ini?, sepertinya tambah ke sini malah tambah kacau", tanya Warya kepada kakak sepupunya, Asep.
"Negara yang mana?", Asep balik bertanya.
"Negara kita, Indonesia", jawab Warya. Beberapa waktu Asep temenung mendengar ucapan Warya sambil terus menghisap rokok yang mungkin sudah tinggal dua hisapan lagi.
"Negara kita, yah?", kata Asep dengan nada penuh pertanyaan, sambil tetap menerawang memandangi kepulan asap rokok yang dikepuskannya.
"Iyah, negara kita", kata Warya menegaskan, namun Warya telihat agak bingung melihat kelakuan sepupunya itu.
"Mana sertifikatnya, War?", tanya Asep sambil mematikan api pada rokok yang sudah sangat pendek.
Ditanya begitu Warya tambah bingung, yang tadinya cuma agak bingung sekarang sudah benar-benar bingung.
"Maksudnya, Kang?", tanya Warya. Asep cuma mengangguk-anggukkan kepala lalu mengambil bungkusan rokok keretek dan mengambilnya satu batang, kemudian menyalakannya dan terus melihat ke arah Warya.
"Iyah, mana sertifikatnya?", tanya Asep seperti mempermainkan Warya. Warya hanya termenung.
"Kamu tadi bilang negara kita, sedangkan kata kita sendiri menunjuk terhadap arah kepunyaan atau kata kepemilikan, terus kata negara diikuti kata kita yang berarti negara kepunyaan kita, nah Akang mau tahu, mana sertfikatnya, kalau memang negara itu milik kita?", kata Asep. Warya termenung sebentar.
"Yah enggak ada, Kang, ada juga KTP", kata Warya.
"Eh, tapi Kang maksudnya apaan sih ngomong kayak gitu?", tanya Warya lagi.
"Dalam Agama dijelaskan, bahwa tidak ada satupun milik kita, semuanya hanya milik Allah, termasuk kita. Nah kamu tadi bilang negara kita, sedangkan dari kalimat sebelumnya dapat diketahui bahwa negara Indonesia, atau negara lainpun tetap kepunyaan Allah. Jadi mungkin dalam berbahasa yang harus kita benahi jangan sampai maksud yang kita utarakan berbeda dengan pemahaman yang tiba pada orang lain, tapi bahasa yang keluar dari kita lain juga dengan maksudnya", jelas Asep pada Warya. Warya manggut-manggut tanda mengerti.
"Betul yah Kang, mungkin tadi tuh maksudnya negara yang kita diami yaitu Indonesia, kalau begitu gimana Kang?", tanya Warya.
"Nah kalau gitu tepat, tapi kamu juga lebih baik mengetahui dulu yang lebih kecil dari negara Indonesia yang kamu diami itu. Negara Indonesia itu terlalu luas untuk dipikirkan, sedangkan kita itu bukan aparat pemerintahan negara, nah kalau kita sekarang memikirkan Indonesia apa ada yang menggaji kita, mending jadi anggota DPR yang mikirin negara juga digaji, nah kalau kita?", kata Asep.
"Bukan begitu maksudnya Kang, kita kan sebagai warga negara apa salahnya sih memikirkan negara Indonesia ini, toh kita diami?", tanya Warya.
"Iya Akang ngerti, itu merupakan perhatian dari warga negara yang baik, yang memikirkan negara yang dicintainya, tapi apa itu dapat menjadi kebaikan bagi dirinya. Gimana kalau gini, misalnya sekarang kita ngomongin negara ngalor ngidul, padahal dirumah ada tanggungan, seperti anak dan istri yang harus setiap harinya kita kasih uang yang istilahnya agar dapur tetap ngebul. Nah kita disini ngomong tidak menghasilkan apa-apa, malah uangpun tidak kita dapat, nah jika itu dijadikan perbandingan kita pilih yang mana apa akan ngomongin negara atau kita berusaha dalam mencukupi kebutuhan hidup?" jelas Asep.
"Ya lebih baik bekerja, Kang", jawab Warya.
"Nah itu jelas, kan," komentar Asep."Eh Kang, tadi akang bilang kita lebih baik tau negara yang lebih kecil dari Indonesia, negara mana lagi Kang?, propinsi, kota, kecamatan, kelurahan? yang mana kang?", tanya Warya seperti keheranan.
"Bukan itu, kalau itu mah sudah termasuk pada negara Indonesia, yang ini mah lebih kecil lagi namun lebih leluasa bergeraknya dari pada negara Indonesia sampai-sampai dapat menemui negara-negara yang lain, negara itu adalah Negara badan. Setiap diri dibarengi oleh negara badan, baik kamu, Akang, dan yang lainnya pun dibarengi juga oleh negara badan. Nah sekarang kita berbicara, bertemu karena adanya negara badan, jadi negara badan dan negara badan bertemu, malahan mah bisa langsung ngobrol", Asep menjelaskan pada Warya.
"Tapi Kang, kalau negara mah kan ada penghuninya, kalau negara badan apa saja penghuninya?" Warya terus bertanya.
"Negara badan sangat banyak penghuninya dari mulai anggota tubuh yang terlihat dan yang tidak terlihat, juga yang dirasakan seperti panca indra, tenaga, keinginan, kebutuhan, ketidakinginan, senang, gembira, sedih, rindu dan lainnya lagi yang mungkin sangat banyak dan kita tidak mungkin mengungkapnya dalam satu hari atau mungkin tidak terhitung jumlahnya oleh kita, nah apakah itu sudah kita syukuri? atau jangan-jangan kita baru disadarkan pada hal tersebut, tapi itu lebih baik dari pada yang belum menyadari", tegas Asep sambil tersenyum.
"Nah jika bicara negara Indonesia, sebenarnya Negara Indonesia itu tidak apa-apa, yang apa-apa itu isi dari pada negara Indonesia, tapi kita yakini bahwa hal itu tidak terlepas dari ketentuan kepunyaan Allah, yang lebih penting mah bagaimana setiap negara badan berbuat, bertingkah laku dalam negara yang luas seperti Indonesia, apakah banyak melakukan kebaikan atau kejelekan. Kayaknya mah jika setiap negara badan yang ada di negara Indonesia berbuat baik pasti di Indonesia tidak akan kacau", kata Asep.
"Oh, kesitu toh arahnya", kata Warya sambil tersenyum.
"Wah si Akang, nyampe kesitu yah pemikirannya", kata Warya kagum.
"Jadi War, akang tau akan sesuatu itu ditaukan oleh kehendak Allah, bukan akang tau sesuatu itu sok tau", Asep menjelaskan sambil tetap merokok.Warya tertawa ngakak mendengar ucapan Asep seperti itu. Warya manggut-manggut lagi, kemudian ia tersenyum.
"Kang, kalau kata orang mah akang teh termasuk ahli tasawuf, karena akang berpikiran sampai sejauh itu, yang saya rasa mah jarang diketemukan orang berpikir sampai sejauh itu", kata Warya sambil tetap manggut-manggut.
"Bukan tasawuf akang mah tapi tak sanggup", kata Asep sambil mengepuskan asap rokok yang dihisapnya.
"Wah si akang mah bisa aja. Iya yah, tak sanggup berbuat dosa, bukan begitu kang?" tanya Warya.
"Eh, akang mah tak sanggup itu karena akang ditaukan bahwa sanggup dan tak sanggup itu kepunyaan Allah, akang hanya menikmati saja dari sanggup dan tak sanggup kepunyaan Allah itu", kata Asep.
"Wah wah wah, si Akang", Warya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kang nanti saya mau belajar lagi ah sama Akang", pinta Warya pada Asep.
"Yah, kita sama-sama belajar, untuk menemukan kebenaran dan ketepatan dalam hal kita beribadah", kata Asep singkat.
"Iya yah Kang. Eh Kang saya mau pergi dulu ada urusan yang belum diselesaikan", kata Warya sambil menyodorkan tangan mengajak salaman pada Asep, kemudian keluar rumah dan pergi meninggalkan Asep.
"Asalamu'alaikum", kata Warya.
"Wa'alaikum salam", jawab Asep.

18 Februari 2009

Tak Sanggup

Tak Sanggup berkata-kata, tanpa daya dan kekuatan milik Allah.
Tak Sanggup berfikir, tanpa daya dan kekuatan milik Allah.
Tak Sanggup berbuat baik, tanpa daya dan kekuatan milik Allah.
Tak Sanggup beramal sholeh, tanpa daya dan kekuatan milik Allah.
dan...
Tak Sanggup berbuat jahat, dengan daya dan kekuatan milik Allah.
dan...
lain-lain......

Lahaola Walakuwata ilabillahi aliyul adzim

14 Februari 2009

Guru, Murid dan Saya

Berdasarkan pengalaman yang teralami oleh saya, Saudara sepupu*saya pernah berkata: "Panggihkeun Guru atawa murid nu marengan diri"(indonesia: Temukan Guru atau murid yang menyertai diri).

berdasar pengetahuan yang saya pelajari dan saya dapatkan, Manusa diterapan ku pirang-pirang pangawasana kagungan Allah (Manusia disertai oleh banyak-banyak kekuasaan milik Allah), diantaranya Guru dan Murid.

Pengalaman:
Sering sekali kita menuduh seseorang itu GURU atau MURID, yang terdekat, misalnya saya, saya merasa bahwa saya ini adalah MURID (waktu sekolah dulu) yang hanya akan diberi tahu oleh GURU di sekolah mengenai hal-hal yang saya tidak tahu. Namun yang terjadi, jika saya tidak bertemu dengan Ia(guru di sekolah), dirumah saya disuguhi PR yang dibekal dari Sekolah, dan saya harus mencari sendiri jawaban, "sungguh GURU yang tidak tahu diri" (mungkin itu salah satu ungkapan kejengkelan yang pernah terjadi pada saya waktu itu), karena saya belajar disekolah itu untuk menuntut ilmu pengetahuan dan harapan dari orang tua di rumah yaitu supaya saya tahu segala sesuatu adalah kepada GURU di Sekolah.

Ternyata:
Jika kita tafakuri, Guru sebenar-benarnya ialah guru yang menyertai diri, yang akan terus memberitahu apa-apa yang tidak kita tahu, meskipun kita tidak melihatnya, namun kita sering sekali menikmati ajaran-ajarannya. Guru sebenarnya ialah yang memberi tahu jawaban PR-PR yang dibekal dari sekolah ke rumah. Guru yang sebenarnya ialah Guru yang membantu mendidik diri dimanapun berada, Guru yang sebenarnya Guru yang selalu menyertai kita dimanapun kita berada. Guru yang sebenarnya ialah guru tiada hentinya mendidik tanpa bosan mendidik tanpa minta imbalan sepeserpun dan mengikuti kita kemanapun kita berada. Guru yang sebenarnya tidak membutuhkan makan dan minum, Dll.

Namun:
Kita, yang terapan (disertai) dengan GURU dan MURID, Apakah akan Belajar Pengetahuan yang Baik yang akan menuntun kita ke jalan kebaikan atau Sebaliknya??
Dua Utusan (atas nama Kemuhammadan & atas nama Kesetanan) yang menyertai manusia akan selalu berlomba supaya manusia mengikuti salah satu dari mereka, mereka bertugas sesuai tugas masing-masing.

Kita, yang terapan (disertai) dengan GURU dan MURID, Sudahkah kita bersyukur atas nikmat Guru, Murid juga Pengetahuan yang menyertai kita?

Bisa ditarik kesimpulan:
Guru di sekolah, ialah Guru Sareat/guru secara lahiriah, biasanya seseorang yang menjadi guru masih membutuhkan makan dan minum, karena ia memang Orang atau manusia yang secara alamiah diterapan/disertai berbagai macam SIFAT termasuk SIFAT LAPAR dan SIFAT HAUS.
GURU sebenarnya, ia menyertai siapa saja, juga menyertai seseorang yang menjadi Guru. Karena nya, Kalimat "GURU ialah Pahlawan tanpa Tanda jasa" sangatlah benar.

Oleh karena itu, "Panggihkeun Guru atawa murid nu marengan diri"(indonesia: Temukan Guru atau murid yang menyertai diri). Dan pesan dari Mama yang saya tahu dari saudara sepupu*saya tadi ialah, "lebih baik Jadi SISWA/MURID dari pada mengaku-aku sebagai GURU, karena kalau jadi SISWA mah suka diberitahu hal-hal yang tidak kita ketahui oleh GURU"

Demikian yang saya pelajari, jika kurang berkenan mohon saling koreksi.

04 Februari 2009

Bismillahi sami'il 'alim

Dari yang saya dapat dan saya pelajari.


Bismillahi sami'il 'alim

Dari buku peninggalan Mama Sepuh yang pernah saya baca, dijelaskan bahwa:
Bi ismi Allah >>> Ku nyebat Jenengan Allah (Dengan menyebut Nama Allah)

Yaa Sami'u =
He Dzat Nu Kagungan DANGU (Wahai Dzat Yang Memiliki DENGAR/PENDENGARAN)/
He Dzat Nu Nga-DANGU-keun (Wahai Dzat Yang Men-DENGAR-kan)
>>> Nama Allah yang Perkaranya Mendengar

Yaa 'Alimu =
He Dzat Nu Kagungan UNINGA (Wahai Dzat Yang Memiliki TAHU/PENGETAHUAN)
He Dzat Nu Ng-UNINGA-keun (Wahai Dzat Yang Men-TAHU-kan)
>>> Nama Allah yang Perkaranya Mengetahui

Dzat Allah Ta'alla, Dzat Yang Memiliki DENGAR/PENDENGARAN juga Dzat Yang Memiliki

TAHU/PENGETAHUAN. Sifat Mendengar ataupun Sifat Mengetahui menyertai(sunda=tumerap/terap) Mahluk, seperti manusia.

Manusia dibisakan menDENGAR(menikmati pendengaran) Karena DENGAR/PENDENGARAN milik Allah, Manusia dibisakan mengeTAHUi(menikmati pengetahuan) Karena TAHU/PENGETAHUAN milik Allah, dan lain sebagainya.

Dari mulai Nabi Adam AS digelarkan, DENGAR/PENDENGARAN telah menyertainya, hingga sekarang, begitu pula TAHU/PENGETAHUAN.

PENDENGARAN dan PENGETAHUAN milik Allah telah tunduk patuh sebagaimana tugasnya ketika menyertai manusia. PENDENGARAN dan PENGETAHUAN tidak pernah sombong ataupun berteriak "HAi... kami telah membuat manusia mendengar dan Tahu akan hal-hal yang mereka belum tahu.. Aku Hebat Ya!!!".
Sebagai bahan Tafakur, Telah kita gunakan untuk apa PENDENGARAN dan PENGETAHUAN yang menyertai kita? Apa untuk kebaikan atau keburukan?

Itu baru 2 perkara milik Allah. Bagaimana dengan perkara lainnya milik Allah yang menyertai kita? seperti PENGLIHATAN dan MATA, LANGKAH dan KAKI, GENGGAMAN dan TANGAN, PENCIUMAN dan HIDUNG, PIKIRAN dan OTAK, PERASAAN dan HATI, AKAL, KEINGINAN, HARAPAN, SENANG, SEDIH, PINTAR, BODOH, GIAT/RAJIN, MALAS dll. Telah kita gunakan untuk apa? Apa untuk kebaikan atau keburukan?

Demikian Sedikit Sharing apa-apa yang didapat. Semoga bisa menjadi bahan tafakur untuk kita semua, terutama saya pribadi.

03 Februari 2009

Kegagahan & Technology

Dari cerita Saudara Sepupu, pada waktu mama sepuh masih ada, mama memang mengajarkan beberapa hal tentang kegagahan, dan memang waktu itu termasuk "masa"nya, di samping sebagai amalan, ada juga beberapa kalimah yang jika diamalkan akan membuat seseorang yang membacanya akan "begini" atau "begitu", dan memang begitu pada waktu itu (ceuk urang sunda mah geus ilaharna nalika harita mah), dan memang pada waktu itu yang berguru pada mama sepuh teh sangat patuh pada apa-apa yang dianjurkan oleh syareat mama. Jadi memang digunakan seperlunya jika diperlukan saja.

Karena pada waktu itu masa penjajahan, ilmu pengetahuan yang syareatnya diajarkan oleh mama itu sangat berguna bagi perjuangan kemerdekaan yang intensitas penggunaannya begitu banyak/sering. Namun setelah masa penjajahan berakhir dan diteruskan masa mempertahankan kemerdekaan (kurang lebih sampai tahun 1965-an), pelajaran kegagahan sudah jarang digunakan (bukan tidak pernah). Pesan dari mama mengenai penggunaan ilmu kegagahan yang saya tahu dari saudara sepupu hanya "Digunakan jika sangat penting" (makna sebenarnya dari kalimat tersebut belum terlalu saya pahami).

Masih nyambung dengan tulisan tadi, saudara sepupu memaknainya begini: Dulu menggunakan ilmu kegagahan karena masa itu masa perjuangan, banyak orang yang berlatih ilmu kegagahan. namun kini masanya teknologi.

  • Jika mau ngasih tau orang dengan jarak yang jauh cukup telepon atau sms.
  • Jika ingin nyampai ke tempat yang jauh dengan waktu singkat gunakan kendaraan seperti sepeda motor, mobil, kapal laut, kapal terbang dll.
Untuk saat ini lebih baik temukan perkara ke-Jabbar-an milik Allah itu apa, nyata sekali PESAWAT TERBANG, MOBIL, MOTOR dll itu termasuk perkara ke-Jabbar-an milik Allah. Nyata sekali, TELEPON, HP, INTERNET, MOBIL, MOTOR dll itu termasuk perkara ke-Jabbar-an milik Allah.


Contoh, Mari kita tafakuri Pesawat terbang, hanya berupa lempengan logam berkolaborasi dengan bongkahan logam yang membentuk mesin pesawat terbang dan mungkin juga dengan air, udara, api dan minyak/bahan bakar bisa terbang dengan dikendarai oleh seorang pilot dan seorang kopilot. Kalau bukan karena Ijin Allah, benda-benda tersebut tidak akan bisa terbang, Jadi Hanya Karena Ke-jabbar-an Milik Allah lah dan Ijin Allah lah, benda tersebut(pesawat terbang) bisa ada dan juga terbang.

Menemukan perkara ke-Jabbar-an milik Allah, merupakan salah satu jalan kita untuk lebih banyak bersyukur.

  • Tanpa perlu membuat mobil kita bisa menikmatinya walupun hanya angkot atau taksi.
  • Tanpa perlu membuat sepeda motor kita bisa menikmatinya, meskipun itu hanya sebuah ojek.
  • Bagi yang pernah naik pesawat terbang, tanpa perlu membuat pesawat terbang tanpa perlu membuat tiketnya, tanpa perlu membuat uang untuk membeli tiketnya tanpa perlu belajar mengemudikannya kita bisa menikmatinya.
  • Bagi yang belum pernah naik pesawat terbang, tanpa perlu membuat pesawat terbang kita bisa menikmatinya, meskipun hanya melihatnya. Kalau mama mah dulu dibisakan mencapai jarak yang jauh hanya dalam waktu singkat sendirian, nah saat ini mah kita bisa rame-rame nyampai dengan waktu singkat meskipun jaraknya jauh, yah dengan teknologi pesawat terbang.
Jadi bisa dikatakan bahwa apa yang dilakukan mama waktu dulu dan teknologi pesawat terbang saat ini teh sama-sama perkaranya keJabbaran Milik Allah.

Untuk yang nggak/belum bisa Ilmu kegagahan Tidak usah berkecil hati, bersyukur atas nikmat yang telah Allah nikmatkan, bisa juga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita.
Begitulah kira-kira obrolan saya dengan saudara sepupu.

NB: Ilmu Kegagahan yang dimaksud dijelaskan pula di sini

29 Januari 2009

Sebenarnya Siapa BODOH teh?

BODOH ialah mahluk milik Allah yang menyertai mahluk lainnya yang juga milik Allah seperti menyertai manusia, tapi bukan hanya BODOH yang menyertai Manusia, mahluk milik Allah yang juga menyertai manusia yaitu PINTAR, SEDIH, GEMBIRA, KEINGINAN, HARAPAN, KESAL, RAJIN, GIAT, LUPA dll.(boleh ditambahkan jika berkenan).
Jika BODOH berkata, "Saya ini BODOH", kalimat tersebut sangat PAS, karena yang mengatakan kalimat tersebut ialah BODOH itu sendiri.
Jika Manusia berkata, "Saya ini BODOH", Kalimat tersebut Kurang PAS. Yang PAS menurut pengetahuan yang saya pelajari ialah "Abdi mah diterapan BODO"/"Saya mah disertai BODOH"
Maksudnya teh supaya kita lebih mengenal Anggota Negara badan yang kita tempati.
Jangan sampai kita ini Merasa Kalau : BODOH, PINTAR, SEDIH, GEMBIRA, BAGEUR, BENER, KASEP, GEULIS, CANTIK, GANTENG, KESAL, RAJIN, GIAT, LUPA dll itu adalah SAYA/Abdi
Tetapi: BODOH, PINTAR, SEDIH, GEMBIRA, BAGEUR, BENER, KASEP, GEULIS, CANTIK, GANTENG, KESAL, RAJIN, GIAT, LUPA dll itu menyertai Saya.
Itulah sebabnya pada postingan sebelumnya dibahas tentang Negara Badan.
Masih dari pengetahuan yang saya pelajari dikatakan:BODOH Selamanya BODOH, dari masa nabi adam hingga kini, BODOH tetaplah BODOH, BODOH tidak pernah PINTAR, dan PINTAR tidak pernah BODOH.
PINTAR Selamanya PINTAR, dari masa nabi adam hingga kini, PINTAR tetaplah PINTAR, PINTAR tidak pernah BODOH, dan BODOH tidak pernah PINTAR.
Tapi......Seseorang, Ia disertai PINTAR dan BODOH, kadang-kadang PINTAR kadang-kadang BODOH. Sebentar PINTAR sebentar BODOH. Disebut PINTAR dan BODOH hanya pada Waktunya Terjadi.
Contoh Saya Sendiri: Saya bisa dikatakan sedang PINTAR, jika berbicara tentang mengendarai sepeda motor(maksudnya Bisa mengendarai motor), tapi saya Bisa Dikatakan sedang BODOH, jika disuruh mengendarai Mobil.
Contoh lain: Albert Einstein Katanya seorang yang disertai dengan kejeniusan kata lainnya PINTAR. Tapi mungkin Ia akan disebut sedang mengalami keBODOHan, Jika ia disuruh Berbahasa INDONESIA.
BODOH mengandung makna "Tidak Tahu".
Masih dari pengetahuan yang saya dapat dan saya pelajari, dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW, menggunakan PINTAR dan BODOH yang menyertainya untuk melakukan Amal kebaikan.Bagaimana Menggunakan PINTAR yang menyertainya? Dengan Melaksanakan Apa-apa perintah yang dianjurkan seperti salah satunya memberi sodakoh, atau Zakat, membantu yang kurang dimampukan dari segi materi, Nabi Muhammad SAW akan menggunakan PINTAR milik Allah, yang menyertainya, untuk dapat sungguh-sungguh dalam menjalankannya.
Tapi....Beliau akan menggunakan BODOH, dalam melaksanakan Hal-hal yang dicegah untuk dilakukan. dengan kata lain beliau Tidak melaksanakan hal-hal yang dilarang berdasarkan Hukum yang tentu(ALQur'an).

Mohon Maaf Jika Tidak Berkenan.

Waktu itu di forum ada seseorang menuliskan sebuah postingan yang bertanya perihal postingan yang saya post waktu itu. berikut kutipannya

maaf, bukan mengkritik..hanya berusaha memetik hikmah mutiara yg terkandung dari pernyataan akang...
agar org awam bodoh seperti saya dapat mengerti tingkat ketinggian pemahaman ini
mohon penjabarannya ..


waktu itu dibalas begini:

kutipan diatas sengaja di bold, maksudnya mau bertanya tapi jangan tersinggung ya, Anda ini bodoh atau manusia atau apa ???

Dari pengetahuan yang saya dapat dan saya pelajari, Baldatun Toyibatun Warobbun Ghofur.
Baldatun = Negara Badan
Toyibatun = Baik/Bagus
Warobbun Ghofur= dengan Pengampunan Tuhan(sunda:Pangeran).

Jelasnya: Jika Negara Badan banyak melakukan Kebaikan akan dekat dengan pengampunan Allah (ini juga bisa mengandung makna Sebaliknya, Negara Badan Yang banyak Melakukan Kesesatan akan jauh dengan pengampunan Allah)

Kaitannya dengan kutipan di atas, Atas nama Negara terdiri dari beberapa komponen yang membentuknya, begitu juga negara badan, terdiri dari mata dengan penglihatannya, hidung dengan penciumannya, lidah dengan pengecapnya, kulit dengan perabanya, tangan dengan genggamannya, kaki dengan langkahnya, otak dengan pikirannya, dan berbagai macam organ tubuh dengan berbagai fungsinya, begitu pula keinginan, harapan, pintar, bodoh, takut, sedih, gembira, senang dan masih banyak lagi penghuni negara badan, dan jangan sampai terlewat, "saya"/"abdi" pun merupakan salah satu komponen negara, bahkan "saya"/"abdi" lebih berperan dan bertanggung jawab atas apa-apa yang terjadi di negara badan tersebut.

Jadi jika mengatakan Saya bodoh, mungkin jika "bodoh" yang berkata sangatlah pas, tapi jika saya yang berkata, patut dipertanyakan saya ini apa? bodoh atau apa ya???

Kemudian postingan dari saya dibalas lagi, namun ada yang mengganjal, sepertinya orang tersebut tidak terima dengan pertanyaan yang diwarnai merah di atas dan balik bertanya tentang kesopanan yang saya lakukan ketika bertanya mengenai pertanyaan tersebut. Dan ia memutuskan untuk tidak bertanya lagi ataupun berkomentar di thread tersebut dan jadi penonton saja.

Pertanyaan yang diwarnai merah di atas, dimaksudkan untuk membuka cara pikir/cara pandang terhadap diri, dan diawali dengan tulisan "Jangan Tersinggung ya" dimaksudkan agar pertanyaan tersebut tidak dimasukan kedalam hati, tidak dimaksudkan untuk menyudutkan atau merendahkan seseorang, apalagi merendahkan diri*sendiri dengan kalimat org awam bodoh seperti saya. Semua Mahluk kedudukannya sama jika dihadapkan pada aturan hukum yang tentu(red:Al Qur'an), tidak ada yang rendah ataupun tinggi, yang membedakannya hanya Amal perbuatan yang dilakukannya. Merendahkan Diri*sendiri, bisa dikatakan Tidak mensyukuri apa-apa yang telah dikaruniakan kepada diri. Merendah boleh-boleh saja, tetapi sebaiknya merendah tidak pada tingkatan Kufur Nikmat. Dalam Berbahasa kenali dulu arti dan makna kata dan kalimat, karena jika mengenal hanya sebagian kecil isi Alinea yang dibentuk oleh beberapa kalimat, pemahaman dan pengetahuan akan kalimat tersebut, bisa-bisa terasa menyinggung yang bisa-bisa juga menutup diri untuk mengenal lebih dalam maksud dan tujuan yang sebenarnya.

Berikut balasan yang saya post di thread tersebut untuk meminta maaf jika pertanyaan "tersebut" menimbulkan perbedaan persepsi.

nb: tadinya saya mau memberikan kunci, tapi karena kuncinya seperti pemukul bedug, kayaknya saya dianggap mau memukul. Eh jadi lari tuh orang..... Duh..... Maaf ya jika tidak berkenan..... Jangan Lari dong..... Sori kuncinya kegedean.

28 Januari 2009

Bodoh Karena Apa?

Ada yang bertanya begini:
"kebodohan manusia apakah karena kesalahan Allah SWT ?"
Bingung Juga jawabnya.
Malah muncul pertanyaan dalam diri "Bagaimana Jika begini?"

"keBODOHan manusia karena BODOH milik Allah SWT"
"kePINTARan manusia karena PINTAR milik Allah SWT"
"keLUPAan manusia karena LUPA milik Allah SWT"
"keRAJINan manusia karena RAJIN milik Allah SWT"
"keCANTIKn manusia karena CANTIK milik Allah SWT"
"keTELEDORan manusia karena TELEDOR milik Allah SWT"
"keSALAHANan manusia karena SALAH milik Allah SWT"
"keBAIKan manusia karena BAIK milik Allah SWT"
DLL..

mmmmmm...????

24 Januari 2009

Bismillah dengan Ikhlas

Ada sepenggal cerita ketika saya masih duduk di bangku sma.

Saya bertanya kepada sepupu*saya, apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan angan-angan, keinginan, harapan dan sebangsanya ketika kita mengucapkan kalimah al-basmalah?
dijawab begini: "mengucapkan kalimah milik Allah yang mana saja kita harus rido ikhlas tanpa pandangan(red:pamrih) apapun hanya menurut perintah Allah saja, namun bila muncul atau tiba/datang angan-angan, keinginan, harapan dan sebangsanya ketika kita mengucapkan kalimah-kalimah milik Allah, itu mah urusan lain lagi, biarkan saja, karena angan-angan, keinginan, harapan dan sebangsanya itu mahluk milik Allah juga."

Contoh: ketika kita akan berpergian, perintah Allah memerintahkan "dalam memulai sesuatu harus dimulai dengan membaca kalimah al-basmallah", namun kadang-kadang muncul angan-angan, keinginan, harapan dan sebangsanya seperti "ah saya baca bismillah dulu supaya selamet di jalan".

kalimat "supaya selamet di jalan" merupakan angan-angan, keinginan, harapan dan sebangsanya, itu mah diluar konteks perintah Allah, lebih baik tidak terlalu dihiraukan karena bisa-bisa Niat yang kita jalankan bukan lagi "Karena menurut pada perintah Allah", tapi "supaya selamat di jalan", kan jadi jauh tuh.

Tapi... ini ada tapinya... Kalau pun ketika dijalan kita diselamatkan, kita akan lebih bersyukur.
kebaikan-demi kebaikan kita tempuh, dari mulai niat membaca albasmallah, yang karena perintah Allah yg memerintahkan dan bersyukur atas nikmat selamat yang kita nikmati setelahnya.

Berbeda dengan yang niatnya "Supaya selamat di jalan", ketika diperjalanan ia celaka, yang akhirnya menyalahkan "Kalimah ini gak ampuh, saya baca tapi tetep saja saya celaka".
Kejelekan-demi kejelekan terjadi, nambah nambah dosa wae..


21 Januari 2009

Tauhid dengan Bismillah

Berikut Kutipan yang dikutip dari buku yang ditulis oleh Mama H. Amilin. yang disampulnya berjudul "Kitab Tauhid". Buku Aslinya berupa tulisan tangan dengan huruf arab dan basa sunda. berikut transliterasinya kedalam tulisan latin:
ALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘ALAMIN, ASHOLAATU WASSALAMU ‘ALA ASYROFIL AN BIYAA I WAL MURSALIN, SYAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WASHOHBIHI AJMA’IIN, AMMA BA’DU

Tangtos pisan sadayana nu nganut kana agama Islam mah moal aya anu hanteu terang kana kalimah Al Basmallah malihan anu hanteu nganut kana agama Islam ogé, seueur anu terangeun.
(Sangatlah Tentu, semua yang menganut agama Islam tidak ada yang tidak tahu terhadap kalimah Al Basmallah, malahan yang tidak menganut agama islam juga banyak yang mengetahui)

Ari margina kalimah Al Basmallah téh upami bangawan mah, lir ibarat sirahna atawa hulu wowotanana, ngan ari kalimah Al Basmallah mah sirahna kalimah Surat-Surat Al Qur'an. Barang ari Al Qur'an éta poko undang-undang dasar agama Islam, atuh kalimah Al Basmallah téh hulu wowotan agama Islam.
(alasannya kalimah Al Basmallah itu jika diibaratkan Sungai, ibarat Kepala atau Hulu/Sumber sungainya, hanya saja Kalimah Al Basmallah adalah Kepala Kalimah Surat-surat AlQur'an. Dan Al Qur'an itu adalah Pokok Undang-undang Dasar Agama Islam, Jadi Kalimah Al Basmallah itu ialah Sumber Agama Islam)

Lamun anu diajar agama Islam tina kalimah Al Basmallah heula, éta lir ibarat anu mapay bangawan ti girang ka hilirkeun, tangtu moal sasab, moal nyalahan kanu walungan kanu ngamuara, kana éta bangawan.
(Jika Belajar Agama Islam dari Kalimah Al Basmallah terlebih dahulu, itu seperti yang menyusuri Sungai dari Hulu ke Hilir, tentu tidak akan tersesat, tidak akan salah arah ke Sungai yang bermuara ke Sungai itu)

Tapi sabalikna anu mapay bangawan ti hilir kagirangkeun tangtu aya sasabna nyaéta dimana manggih muara, lamun hanteu aya nu nuduhkeun atawa aya nu nuduhkeun ogé dumadak hanteu percaya kanu nuduhkeun, lantaran walungan anu ngamuara téh sarua gedéna jeung bangawan anu dipapay téa atawa leuwih gedé. Atuh jadi kana sasabna baé.
(tapi Sebaliknya, yang menyusuri sungai dari hilir ke hulu, tentu akan tersesat seperti ketika menemukan muara, Jika tidak ada yang menunjukkan atau pun ada yang menunjukkan juga mendadak tidak akan percaya kepada yang menunjukkan jalan, sebab sungai yang bermuara tersebut sama lebarnya dengan Sungai yang disusuri sebelumnya malahan lebih lebar, tentulah Jadi tersesat)

Nya kitu nu diajar agama Islam, nyukcrukna tina hulu wowotanana heula, nyaéta tina kalimah Al Basmallah tangtu moal sasab margi ti girang ka hilirkeun, jadi dina nganyahokeun Tauhid ka Allah Ta'alla téh moal musrik, nyaéta nyasamakeun atawa nyarupakeun Allah Ta'alla jeung mahlukna, saperti itikadna jeung pangucapna nu hanteu nganut agama Islam.
(Begitu Juga yang belajar agama islam, menyusurinya dari hulu/sumbernya dahulu, yaitu dari kalimah Al Basmallah, tentu tidak akan tersesat sebab dari Hulu ke hilir, jadi dalam mengetahui Tauhid Kepada Allah Ta'alla itu tidak akan Musrik, yaitu menyamakan atau menyerupakan Allah Ta'allah dengan mahluk-Nya, Seperti Itikadnya dan Ucapannya yang tidak menganut agama islam)

Dari tulisan kutipan di atas ditegaskan bahwa untuk belajar agama islam, agar dimulai dengan mempelajari Kalimah Al-Basmalah karena merupakan sumber dari agama islam.
Bismillahirohmannirohiim = Dengan menyebut Nama Allah, Arrohman dan Arrohim.

Jelasnya Yaa Allahu, Yaa Arrohmanu, Yaa Arrohimu ialah Nama-nama Allah.
Arrohmanu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Panjang dari Dunia Sampai Akhirat.
Arrohiimu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Pendek hanya di Dunia saja.

Tinggal Kita, bagaimana mensikapi atau berprilaku, apakah akan berbuat yang melanggar undang-undang yang akibatnya bisa panjang juga sampai ke akhirat.

Atau sebaliknya, Berbuat kebaikan yang akibatnya juga sampai ke akhirat.

nb:
Dari pengalaman yang saya alami, setiap saya berkumpul dengan baraya di Bandung, jika membahas suatu topik, pembahasan tidak pernah lepas dari Bismillah, malahan hampir setiap pertemuan, setiap pembahasan, kembali dan kembali lagi pada bismillah, memang apa yang tertulis dalam kitab itu terbukti pada saya.

06 Juli 2008

Kutipan mengenai KeTauhidan

Sedikit kutipan mengenai hal "ketauhidan dalam ajaran atas nama islam"

Dzat Allah ialah dzat mutlak, "Dzat Laesa Kamislihi sae'un" Dzat yang tidak bisa diperumpamakan atau dipersamakan. Dalam surat Al Ikhlas, dikatakan bahwa tidak satupun yang menyamai-Nya. Dzat Allah ialah yang memiliki Semua mahluk baik yang di langit maupun di Bumi (Q.S Anissa,126).

"Ada" ataupun "Tidak Ada" ialah milik Allah SWT, bagaimana mungkin Allah dikenai Sifat Milik Allah??,
sedangkan dikatakan bahwa "Dzat Allah ialah Dzat yang tidak bisa diperumpamakan atau dipersamakan.", jika kita mempersamakan Dzat Allah dengan Dzat MAhluk, apa sebutannya untuk yang mempersamakan Dzat Allah tersebut??

"Ada" ataupun "Tidak Ada" ialah milik Allah SWT yang menyertai Mahluk-mahluk Lainnya, seperti mahluk yang disebut jasad manusia disertai oleh sifat "ADA" karena terlihat oleh pandangan, dan teraba oleh rabaan, sedangkan "pandangan/penglihatan" disertai oleh sifat "tidak ada" karena tidak terlihat dan tidak teraba, namun ternikmati oleh yang menikmatinya(seperti oleh atas nama manusia)

Jika ada pertanyaan, "apakah Allah itu Ada atau tidak??", bagaimana menjawabnya?? sedangkan Dzat Allah yang memiliki mahluk dengan Sebutan "Ada" dan "tidak Ada"??

Tadi disebutkan bahwa Dzat Allah lah yang memiliki semua mahluk di Bumi dan di langit, Apa sebutannya bagi seseorang yang mengambil alih kepemilikan dengan menyebut bahwa ia memiliki Allah/TUHAN??? dengan mengatakan "bahwa Tuhan saya berbeda dengan Tuhan anda" sedangkan ia sendiri Adalah mahluk Milik Allah yang disertai dengan daya dan kekuatan milik Allah?? dan apa sebutannya bagi yang mengambil Alih kepemilikan dengan menyebut bahwa surga adalah miliknya, sedangkan ia dan surga ialah milik Allah??

pada Surat AlIkhlas menjelaskan
"Katakan (oleh kamu Muhammad): Allah Itu Satu (Nama)"
penjelasannya: ALLAH ialah satu nama dzat yang pasti ada namanya.
satu disini menyebutkan terhadap nama, bukan kepada Dzat Allah, karena dzat Allah tidak dikenai sifat bilangan baik satu ataupun banyak, minus ataupun nol, Dzat Allah ialah yang memiliki sifat bilangan. sifat bilangan tiba pada mahluknya.
contoh sifat satu tiba pada mahluk Allah yang bernama Matahari, namun sifat banyak tiba pada mahluk seperti manusia.

masih pada Surat AlIkhlas diterangkan
"Tidak ada satupun yang dapat menyamainya", jelas sekali dalam ayat lain pada penjelasan alQur'an disebutkan "Dzat Laesa Kamislihi Sae un", Dzat yang tidak bisa diperumpamakan/dipersamakan. Jadi Dzat Allah tidak dikenai oleh sifat - sifat milik Allah. Sifat-sifat milik Allah menyertai mahluk-mahluk Allah.

masih penjelasan AlQur'an,
"Wa La tafakaru fil kholqi wala tatafakaru fil Kholiqi"
jangan berfikir bagaimana Allah, tatapi berpikirlah tentang apa-apa yang sudah dijadikanNya.

Berpikir bagaimana Allah, tidaklah akan terpikir, segala sesuatu yang berpikir mengenai bagaimana Allah tentulah akan melenceng karena segala macam pikiran (baik ataupun buruk) adalah milik Allah.

Sok ah... kumaha tah??

27 November 2007

Agama Melawan Kemiskinan?,Hmmm..

Ada Sebuah artikel yang pernah saya baca di sebuah blog dengan judul "Agama Melawan Kemiskinan".

Selain menarik untuk di baca menarik juga untuk dipikirkan, khususnya dari Judulnya.
AGAMA MELAWAN KEMISKINAN.

Hmmmm....

"bagaimana Agama melawan kemiskinan?"

"menggunakan apa agama ketika melawan kemiskinan?"

"salah apa kemiskinan, sampai-sampai agama harus melawan?"

"Siapa sih "Agama" dan "kemiskinan" itu? sampai-sampai harus ada yang melawan dan yang dilawan?"


Apakah lebih baik jika kita bertanya:

"Bagaimana dalam beragama, kita sebagai mahluk milik Allah mengatasi kemiskinan yang menyertai kita?"

Nabi Muhammad SAW dalam ajaran yang diterangkannya:
"Lahaola Walakuwata ilabillahi aliyil adzim"
"Tidak ada daya dan kekuatan milik saya, melainkan daya dan kekuatan milik Allah lah daya dan kekuatan yang menyertai saya".

Dari pelajaran ini di dapat bahwa nabi Muhammad, secara keasliannya merasa tidak memiliki apa-apa (kemiskinan). namun bukan berarti ia tidak menikmati banyaknya rezeki/harta yang dirizkikan kepadanya.

coba bandingkan, lebih baik mana?
- disertai harta yang banyak tapi menikmati *tidak memiliki apa-apa*, karena meyakini bahwa segala sesuatu itu milik Allah SWT. dan menikmati keuntungan dengan *menyadari benar* bahwa dengan tidak mengakui bahwa harta adalah milik *saya* menjadi *tidak angkuh* karena harta banyak yang menyertai.

- Tidak disertai harta banyak, dan merasakan bahwa kemiskinan adalah miliknya, dan merasakan ketidak bahagiaan karena *ketidak banyakan* harta yang menyertainya. (sedangkan jelas sekali bahwa *kemiskinan* ialah mahluk milik Allah yang menyertai mahluk lainnya)

Kemiskinan dan kekayaan ialah mahluk milik Allah, yang menyertai mahluk lain yang merupakan mahluk Allah juga. Manusia yang disertai Akal dan ilmu pengetahuan, ada baiknya berpikir,

"Bagaimana cara mengatasi kemiskinan?"

Supaya netral:

"Bagaimana cara mengatasi kekayaan?"

... menurut pada undang-undang milik Allah yang telah ditentukan (AlQur'an) agar menambah amal kebaikan bagi kita?

Mungkinkah?
- Mulailah dari diri sendiri.
- Mulailah dari hal kecil (supaya netral>> atau besar)
- Mulailah saat ini (karena sesuatu yang telah terlewat tidak akan pernah bisa kembali lagi pada saat sebelumnya)

03 November 2007

Pertanyaan seputar Aliran agama dan Fatwa

Aliran sesat

Akhir-akhir ini di Indonesia digegerkan berbagai berita mengenai "aliran sesat", yang difatwa SESAT oleh MUI(Majelis Ulama Indonesia). Baru-baru ini muncul aliran-aliran yang mengatasnamakan ISLAM, seperti AlQiyadah alislamiah, Alqur'an suci, bahkan ada yang menyebutkan bahwa JIL (Jaringan Islam Liberal) pun SESAT.

Sebelumnya ada baiknya menyimak pertanyaan-pertanyaan seperti berikut:

APA pengertian ISLAM?
ISLAM ialah salah satu nama ALLAH, jelasnya AL-ISLAMU, perkara tentang Nama Allah AL-ISLAMU yaitu selamat dan saling menyelamatkan.

Bagaimana dengan Agama yang disebut Agama Islam?
Agama Islam merupakan Agama yang didasari keislaman, selamat dan saling menyelamatkan.

BAGAIMANA pelaksanaan keislaman?
keterangan AlQur'an menjelaskan, "Tidak ada paksaan dalam agama islam", pelaksanaannya ialah dengan mengikuti perintah milik Allah yang tertulis dalam AlQur'an.

PANTASKAH kita sebagai manusia yang diperintah untuk melakukan Kebaikan oleh perintah milik Allah , memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan sesuai perintah Allah tersebut?

Keterangan AlQur'an menerangkan "Dzat laesa Kamislihi Sae'un">>Dzat yang tidak bisa diserupakan atau dipersamakan.
Apakah bisa dikatagorikan "mempersamaakan" jika kita Memerintahkan kembali kepada orang lain apa-apa Perintah milik Allah?
Menurut AlQur'an, mempersamakan Dzat Allah dengan "sesuatu"(yang merupakan milik Allah) termasuk pada Dosa musyrik (Dosa besar yang tidak akan diampuni).

Pantasnya kita sebagai manusia yang diperintah untuk melakukan Kebaikan oleh perintah milik Allah ialah dengan melaksanakannya.

Nabi Muhammad tidak pernah memerintahkan orang lain untuk berbuat baik ataupun berbuat jahat, namun ia hanya menjelaskan ("nabi"=yang menjelaskan) bagaimana perbuatan baik menurut keterangan AlQuran dan perbuatan jahat/buruk menurut keterangan AlQur'an.

PANTASKAH saya mengaku beragama Islam?
Sepantasnya bagi setiap manusia yang berkenan untuk memperbanyak amal kebaikan ialah dengan melaksanakan apa-apa dilandasi dengan keislaman.

Berkaitan dengan isu mengenai Aliran sesat yang marak belakangan ini, bagaimana sebagai pribadi mensikapinya??
Ajaran atasnama ke-Islam-an mengajarkan sikap netral dan tidak fanatik terhadap ajaran apapun, karena pada hakekatnya semua / segala sesuatu merupakan milik ALLAH, sesuai dengan keterangan AlQur'an bahwa Tujuh lapis langit beserta isinya dan Tujuh petala bumi beserta isinya ialah milik Allah. Apa-apa yang terjadi pada setiap orang, mulai dari kedip mata, hembusan napas kemudian keinginan, harapan dan lain-lain, bahkan keyakinan, semuanya merupakan milik Allah.

Yang terjadi pada setiap orang merupakan sebuah ketentuan milik Allah. Setiap manusia di sertai dengan "hak memilih", hak memilih yang menyertai para penganut agama tidak bisa dipaksakan oleh orang lain pada orang lain, hanya orang tersebutlah yang akan memilih, ia akan memilih untuk menjalankan ajaran agama "A" atau "B" atau "C".

Apa daya saya, ketika orang lain melaksanakan peribadatan sesuai keyakinan yang menyertainya. ??
Apa hak saya, melarang-larang orang lain ketika melaksanakan peribadatan sesuai keyakinan yang menyertainya. ??
NAbi Muhammad mengajarkan "LAHAOLA WALAQUWATA ILABILAHI ALIYUL ADZIM">> "Tidak ada daya dan kekuatan milik saya, melainkan daya dan kekuatan milik Allah lah daya dan kekuatan yang menyertai saya".

Menyadari diri pribadi tidak berdaya dan berkekuatan jika tidak disertai daya dan kekuatan milik Allah, maka akan lebih arif dan bijaksana mensikapi segala sesuatu terjadi dimuka bumi ini.

Keyakinan yang terjadi pada diri dan orang lain ialah sama-sama keyakinan milik Allah, apakah akan merugikan bagi diri jika menghormati orang lain (mahluk lain) yang juga milik Allah?

Pada mahluk lain seperti binatang, lingkungan, hutan, dan Bumi yang dipijak ini, semua orang sangat peduli dan sangat menyanginya, (yang notabene: mahluk-mahluk tersebut belum jelas apa agamanya), tapi mengapa dengan sesama manusia, sering terjadi permusuhan akibat perbedaan keyakinan?? pantaskah perbuatan demikian terkatagori KEISLAMAN?

APAKAH boleh seseorang/ lembaga/ perkumpulan mem-FATWA orang/lembaga/perkumpulan lainnya?
Boleh-boleh saja, tapi apakah arif dan bijaksan langkah tersebut? dasarnya apa?
Dan objektifkah seseorang/ lembaga/ perkumpulan tersebut dalam mengeluarkan fatwa?
Penjurian yang dilakukan seseorang/ lembaga/ perkumpulan biasanya subjektif, mungkin karena hubungan keluarga, atau karena takut, penilaian bisa diubah-ubah seenaknya.

Contoh:
Sebuah kelompok yang mengatasnamakan islam, bertindak "kurang" simpatik pada bulan ramadhan, dengan mendatangi warung-warung makan yang buka pada siang hari, malahan ada yang bertindak sampai merusak. Padahal dibalik itu,
- ada banyak orang yang menunggu orang tuanya yang pulang berdagang untuk membawa rezeki dari hasil berdagang tersebut.
- tidak semua orang berpuasa pada waktu bulan ramadhan.(biasanya orang sakit, wanita yang sedang haid, anak-anak yang tidak puasa, orang yang dalam perjalanan dll.)
- para pedagang itu sedang melakukan ikhtiar dalam menempuh mendapatkan rizki milik Allah.

Pertanyaannya, apakah pantas kelompok yang mengatasnamakan islam tersebut disebut kelompok yang berlandaskan keislaman?
**Jika pantas, apakah dibenarkan oleh ajaran atas nama islam, untuk merusak, menghalangi orang lain untuk berusaha?

**Jika tidak pantas, pantas disebut apa kelompok tersebut? apakah pantas disebut dengan aliran sesat?

Bagaimana tindakan yang dilakukan oleh seseorang/ lembaga/ perkumpulan lain, yang "katanya" biasa mengeluarkan Fatwa terhadap kelompok yang mengatasnamakan islam tersebut?

Entah karena saudara, atau karena takut, atau mungkin karena merasa itulah ajaran atas nama islam yang mereka pelajari, sehingga terjadi proses subjektif terhadap sesuatu?

Penjurian pada sesuatu hanya Hukum(AlQur'an)lah yang menjuri baik/buruknya sesuatu itu dilakukan. Dengan mengeluarkan Fatwa, bisa diartikan seseorang/ lembaga/ perkumpulan menyaingi Hukum yang sudah tentu.

Jika Arif dan bijaksana yang dilakukan, mungkin akan menyatakan bahwa sebaiknya mempelajari ajaran atas nama islam lebih teliti lagi. Dan gali lebih dalam lagi kandungan isi AlQur'an, karena Ilmu milik Allah Ta'ala tidak hanya yang ada sampai detik ini, melainkan tidak terukur oleh hitungan dan tanpa batas ruang dan waktu.