Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan

04 Januari 2010

Gelar Abdul Jabbar

Dari tulisan yang saya baca pada sebuah thread membuat tertarik untuk menuangkan apa-apa yang didapat. Salah satunya seperti yang dikutip di bawah ini.

Abdul jabbar adalah hamba allah yg gagah perkasa...
kita-kita disini juga termasuk abdul jabbar....

Kalo boleh bertanya, kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya bagaimana, apakah saya dan anda dan semua orang, atau bagaimana?(pertanyaan ini perlu sekali dipertanyakan untuk mempermudah memahami kalimat selanjutnya)

Diasumsikan saja bahwa kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya adalah saya dan anda dan semua orang.

Jika kita merujuk kalimah "Lahaola Walaquwata ilabillahi aliyul adzim"(mohon maaf jika salah nulis transliterasinya), Tidak ada daya dan kekuatan milik saya yang menyertai saya, hanya lah daya dan kekuatan milik Allah lah yang menyertai saya.

Dari ayat tersebut di atas, bisa di ambil petikan, bahwa
- tidak ada daya dan kekuatan selain milik Allah
- saya(atau siapapun atau kita-kita) sangatlah tidak berdaya dan berkekuatan tanpa daya dan kekuatan milik Allah

Pembuktian bahwa kita tidak berdaya dan berkekuatan, jangankan untuk menumbuhkan badan untuk bisa tinggi dan besar, satu helai rambutpun, kita tidak pernah tahu, bagaimana proses membuatnya ataupun menghitamkannya ataupun memutihkannya, yang kita tahu hanyalah pada waktunya kita menghampiri tukang cukur untuk memotong rambut atau mendatangi salon untuk menyemir rambut. atau, pernahkah kita menyadari bahwa sesungguhnya kita ini dilayani 100% oleh kekuasaan Allah?

Ambil contoh saja saya(karena saya yang mengalaminya, kalo orang lain bukan saya yang mengalaminya), Ketika makan saja, saya dibantu oleh sendok, dan sendok diangkat oleh tangan lalu memasukan makanan yang berada disedok ke dalam mulut, lalu dikunyah di dalam mulut oleh gigi dan ditelan melalui tenggorokan, sampai proses itu saja banyak sekali yang melayani saya, seperti sendok, tangan, mulut, gigi, tenggorokan, kunyahan(gerakan di mulut), gerakan pada tangan. lebih jauh dari itu jika flashback, saya tidak perlu berabe membuat sendok, saya hanya tinggal pake sendok yang sudah tersedia di rumah, makanan pun saya tidak usah masak dulu, atau kalaupun harus masak dulu saya dilayani oleh badan ini, alat masak dan bahan masakan untuk memasak. (wuih... gak kehitung pokoknya yang ngelayanin saya hanya untuk proses makan), jika ditelusuri pada proses setelah menelan makanan, saya tidak perlu berabe misahin mana yang bakal dijadikan daging atau darah merah atau darah putih atau kulit atau rambut atau jaringan syaraf atau kuku atau hati atau antibodi atau kotoran dll. pokoknya mah saya terima beres semua, bukan kah itu ciri bukti kalo saya dilayani 100% oleh pangawasana Allah? (Alhamdulillah)

Jika "abdul jabbar ialah hamba allah yg gagah perkasa....", Nah Kita-kita ini siapa sih sebenarnya?? dimana letak gagah perkasa-nya kalo masih 100% dilayani oleh pangawasana Allah ta'alla?

Dari Riwayat yang diriwayatkan oleh salah satu sepuh, Mama Sepuh teu pernah ngaku mun mama teh Abdul Jabbar, malahan mah mun aya nu tos ti mama, di wawadian ku mama sepuh teh kieu "ulah nyebat tos ti Mama atawa tos ti Guru komo deui nyebat tos ti Mama Abdul Jabbar, sebat wae tos ti rerencangan atanapi tos ti wargi"
(Mama Sepuh gak pernah mengaku kalo mama itu Abdul Jabbar, malahan mah kalau ada yang sudah dari Mama, diperingati oleh mama sepuh itu begini "Jangan bilang udah dari Mama atau udah dari Guru apalagi bilang udah dari Mama Abdul Jabbar, bilang saja sudah dari teman atau sudah dari saudara")

Dari cerita di atas, sangat jelas Mama di sebut Mama atau Guru saja gak mau, apalagi disebut dengan gelarnya, pada cerita di atas, Mama menjelaskan sebuah pelajaran yang sangat berharga, menjelaskan bahwa Abdul Jabbar bukanlah Mama, Beliau hanyalah Manusia biasa. Mama ialah Mama, Abdul Jabbar ialah Abdul Jabbar, Namun oleh kehendakNya lah Mama digelari Abdul Jabbar. (ceuk urang sunda mah Teu Hayang-hayang komo embung, teu embung-embung komo hayang, estu sakersaNa kagungan Allah bae Mama kagelaran Abdul Jabbar).

Jika secara kata Abdul Jabbar>> Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa, maka bisa disebut "Abdul Jabbar" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa", "Abdul Jabbar" bukanlah "Mama", namun "Mama" kagelaran/digelari Oleh Kehendak-Nya dengan gelar "Abdul Jabbar", jadi yang "gagah perkasa" bukanlah "Mama" tapi yang "Gagah Perkasa" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya" yang tadi disebutkan yaitu atas Nama "Abdul Jabbar".

Mungkin itu yang saya dapat, mohon maaf jika tidak berkenan.

14 Februari 2009

Guru, Murid dan Saya

Berdasarkan pengalaman yang teralami oleh saya, Saudara sepupu*saya pernah berkata: "Panggihkeun Guru atawa murid nu marengan diri"(indonesia: Temukan Guru atau murid yang menyertai diri).

berdasar pengetahuan yang saya pelajari dan saya dapatkan, Manusa diterapan ku pirang-pirang pangawasana kagungan Allah (Manusia disertai oleh banyak-banyak kekuasaan milik Allah), diantaranya Guru dan Murid.

Pengalaman:
Sering sekali kita menuduh seseorang itu GURU atau MURID, yang terdekat, misalnya saya, saya merasa bahwa saya ini adalah MURID (waktu sekolah dulu) yang hanya akan diberi tahu oleh GURU di sekolah mengenai hal-hal yang saya tidak tahu. Namun yang terjadi, jika saya tidak bertemu dengan Ia(guru di sekolah), dirumah saya disuguhi PR yang dibekal dari Sekolah, dan saya harus mencari sendiri jawaban, "sungguh GURU yang tidak tahu diri" (mungkin itu salah satu ungkapan kejengkelan yang pernah terjadi pada saya waktu itu), karena saya belajar disekolah itu untuk menuntut ilmu pengetahuan dan harapan dari orang tua di rumah yaitu supaya saya tahu segala sesuatu adalah kepada GURU di Sekolah.

Ternyata:
Jika kita tafakuri, Guru sebenar-benarnya ialah guru yang menyertai diri, yang akan terus memberitahu apa-apa yang tidak kita tahu, meskipun kita tidak melihatnya, namun kita sering sekali menikmati ajaran-ajarannya. Guru sebenarnya ialah yang memberi tahu jawaban PR-PR yang dibekal dari sekolah ke rumah. Guru yang sebenarnya ialah Guru yang membantu mendidik diri dimanapun berada, Guru yang sebenarnya Guru yang selalu menyertai kita dimanapun kita berada. Guru yang sebenarnya ialah guru tiada hentinya mendidik tanpa bosan mendidik tanpa minta imbalan sepeserpun dan mengikuti kita kemanapun kita berada. Guru yang sebenarnya tidak membutuhkan makan dan minum, Dll.

Namun:
Kita, yang terapan (disertai) dengan GURU dan MURID, Apakah akan Belajar Pengetahuan yang Baik yang akan menuntun kita ke jalan kebaikan atau Sebaliknya??
Dua Utusan (atas nama Kemuhammadan & atas nama Kesetanan) yang menyertai manusia akan selalu berlomba supaya manusia mengikuti salah satu dari mereka, mereka bertugas sesuai tugas masing-masing.

Kita, yang terapan (disertai) dengan GURU dan MURID, Sudahkah kita bersyukur atas nikmat Guru, Murid juga Pengetahuan yang menyertai kita?

Bisa ditarik kesimpulan:
Guru di sekolah, ialah Guru Sareat/guru secara lahiriah, biasanya seseorang yang menjadi guru masih membutuhkan makan dan minum, karena ia memang Orang atau manusia yang secara alamiah diterapan/disertai berbagai macam SIFAT termasuk SIFAT LAPAR dan SIFAT HAUS.
GURU sebenarnya, ia menyertai siapa saja, juga menyertai seseorang yang menjadi Guru. Karena nya, Kalimat "GURU ialah Pahlawan tanpa Tanda jasa" sangatlah benar.

Oleh karena itu, "Panggihkeun Guru atawa murid nu marengan diri"(indonesia: Temukan Guru atau murid yang menyertai diri). Dan pesan dari Mama yang saya tahu dari saudara sepupu*saya tadi ialah, "lebih baik Jadi SISWA/MURID dari pada mengaku-aku sebagai GURU, karena kalau jadi SISWA mah suka diberitahu hal-hal yang tidak kita ketahui oleh GURU"

Demikian yang saya pelajari, jika kurang berkenan mohon saling koreksi.