Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

04 Januari 2010

Gelar Abdul Jabbar

Dari tulisan yang saya baca pada sebuah thread membuat tertarik untuk menuangkan apa-apa yang didapat. Salah satunya seperti yang dikutip di bawah ini.

Abdul jabbar adalah hamba allah yg gagah perkasa...
kita-kita disini juga termasuk abdul jabbar....

Kalo boleh bertanya, kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya bagaimana, apakah saya dan anda dan semua orang, atau bagaimana?(pertanyaan ini perlu sekali dipertanyakan untuk mempermudah memahami kalimat selanjutnya)

Diasumsikan saja bahwa kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya adalah saya dan anda dan semua orang.

Jika kita merujuk kalimah "Lahaola Walaquwata ilabillahi aliyul adzim"(mohon maaf jika salah nulis transliterasinya), Tidak ada daya dan kekuatan milik saya yang menyertai saya, hanya lah daya dan kekuatan milik Allah lah yang menyertai saya.

Dari ayat tersebut di atas, bisa di ambil petikan, bahwa
- tidak ada daya dan kekuatan selain milik Allah
- saya(atau siapapun atau kita-kita) sangatlah tidak berdaya dan berkekuatan tanpa daya dan kekuatan milik Allah

Pembuktian bahwa kita tidak berdaya dan berkekuatan, jangankan untuk menumbuhkan badan untuk bisa tinggi dan besar, satu helai rambutpun, kita tidak pernah tahu, bagaimana proses membuatnya ataupun menghitamkannya ataupun memutihkannya, yang kita tahu hanyalah pada waktunya kita menghampiri tukang cukur untuk memotong rambut atau mendatangi salon untuk menyemir rambut. atau, pernahkah kita menyadari bahwa sesungguhnya kita ini dilayani 100% oleh kekuasaan Allah?

Ambil contoh saja saya(karena saya yang mengalaminya, kalo orang lain bukan saya yang mengalaminya), Ketika makan saja, saya dibantu oleh sendok, dan sendok diangkat oleh tangan lalu memasukan makanan yang berada disedok ke dalam mulut, lalu dikunyah di dalam mulut oleh gigi dan ditelan melalui tenggorokan, sampai proses itu saja banyak sekali yang melayani saya, seperti sendok, tangan, mulut, gigi, tenggorokan, kunyahan(gerakan di mulut), gerakan pada tangan. lebih jauh dari itu jika flashback, saya tidak perlu berabe membuat sendok, saya hanya tinggal pake sendok yang sudah tersedia di rumah, makanan pun saya tidak usah masak dulu, atau kalaupun harus masak dulu saya dilayani oleh badan ini, alat masak dan bahan masakan untuk memasak. (wuih... gak kehitung pokoknya yang ngelayanin saya hanya untuk proses makan), jika ditelusuri pada proses setelah menelan makanan, saya tidak perlu berabe misahin mana yang bakal dijadikan daging atau darah merah atau darah putih atau kulit atau rambut atau jaringan syaraf atau kuku atau hati atau antibodi atau kotoran dll. pokoknya mah saya terima beres semua, bukan kah itu ciri bukti kalo saya dilayani 100% oleh pangawasana Allah? (Alhamdulillah)

Jika "abdul jabbar ialah hamba allah yg gagah perkasa....", Nah Kita-kita ini siapa sih sebenarnya?? dimana letak gagah perkasa-nya kalo masih 100% dilayani oleh pangawasana Allah ta'alla?

Dari Riwayat yang diriwayatkan oleh salah satu sepuh, Mama Sepuh teu pernah ngaku mun mama teh Abdul Jabbar, malahan mah mun aya nu tos ti mama, di wawadian ku mama sepuh teh kieu "ulah nyebat tos ti Mama atawa tos ti Guru komo deui nyebat tos ti Mama Abdul Jabbar, sebat wae tos ti rerencangan atanapi tos ti wargi"
(Mama Sepuh gak pernah mengaku kalo mama itu Abdul Jabbar, malahan mah kalau ada yang sudah dari Mama, diperingati oleh mama sepuh itu begini "Jangan bilang udah dari Mama atau udah dari Guru apalagi bilang udah dari Mama Abdul Jabbar, bilang saja sudah dari teman atau sudah dari saudara")

Dari cerita di atas, sangat jelas Mama di sebut Mama atau Guru saja gak mau, apalagi disebut dengan gelarnya, pada cerita di atas, Mama menjelaskan sebuah pelajaran yang sangat berharga, menjelaskan bahwa Abdul Jabbar bukanlah Mama, Beliau hanyalah Manusia biasa. Mama ialah Mama, Abdul Jabbar ialah Abdul Jabbar, Namun oleh kehendakNya lah Mama digelari Abdul Jabbar. (ceuk urang sunda mah Teu Hayang-hayang komo embung, teu embung-embung komo hayang, estu sakersaNa kagungan Allah bae Mama kagelaran Abdul Jabbar).

Jika secara kata Abdul Jabbar>> Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa, maka bisa disebut "Abdul Jabbar" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa", "Abdul Jabbar" bukanlah "Mama", namun "Mama" kagelaran/digelari Oleh Kehendak-Nya dengan gelar "Abdul Jabbar", jadi yang "gagah perkasa" bukanlah "Mama" tapi yang "Gagah Perkasa" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya" yang tadi disebutkan yaitu atas Nama "Abdul Jabbar".

Mungkin itu yang saya dapat, mohon maaf jika tidak berkenan.

14 Februari 2009

Guru, Murid dan Saya

Berdasarkan pengalaman yang teralami oleh saya, Saudara sepupu*saya pernah berkata: "Panggihkeun Guru atawa murid nu marengan diri"(indonesia: Temukan Guru atau murid yang menyertai diri).

berdasar pengetahuan yang saya pelajari dan saya dapatkan, Manusa diterapan ku pirang-pirang pangawasana kagungan Allah (Manusia disertai oleh banyak-banyak kekuasaan milik Allah), diantaranya Guru dan Murid.

Pengalaman:
Sering sekali kita menuduh seseorang itu GURU atau MURID, yang terdekat, misalnya saya, saya merasa bahwa saya ini adalah MURID (waktu sekolah dulu) yang hanya akan diberi tahu oleh GURU di sekolah mengenai hal-hal yang saya tidak tahu. Namun yang terjadi, jika saya tidak bertemu dengan Ia(guru di sekolah), dirumah saya disuguhi PR yang dibekal dari Sekolah, dan saya harus mencari sendiri jawaban, "sungguh GURU yang tidak tahu diri" (mungkin itu salah satu ungkapan kejengkelan yang pernah terjadi pada saya waktu itu), karena saya belajar disekolah itu untuk menuntut ilmu pengetahuan dan harapan dari orang tua di rumah yaitu supaya saya tahu segala sesuatu adalah kepada GURU di Sekolah.

Ternyata:
Jika kita tafakuri, Guru sebenar-benarnya ialah guru yang menyertai diri, yang akan terus memberitahu apa-apa yang tidak kita tahu, meskipun kita tidak melihatnya, namun kita sering sekali menikmati ajaran-ajarannya. Guru sebenarnya ialah yang memberi tahu jawaban PR-PR yang dibekal dari sekolah ke rumah. Guru yang sebenarnya ialah Guru yang membantu mendidik diri dimanapun berada, Guru yang sebenarnya Guru yang selalu menyertai kita dimanapun kita berada. Guru yang sebenarnya ialah guru tiada hentinya mendidik tanpa bosan mendidik tanpa minta imbalan sepeserpun dan mengikuti kita kemanapun kita berada. Guru yang sebenarnya tidak membutuhkan makan dan minum, Dll.

Namun:
Kita, yang terapan (disertai) dengan GURU dan MURID, Apakah akan Belajar Pengetahuan yang Baik yang akan menuntun kita ke jalan kebaikan atau Sebaliknya??
Dua Utusan (atas nama Kemuhammadan & atas nama Kesetanan) yang menyertai manusia akan selalu berlomba supaya manusia mengikuti salah satu dari mereka, mereka bertugas sesuai tugas masing-masing.

Kita, yang terapan (disertai) dengan GURU dan MURID, Sudahkah kita bersyukur atas nikmat Guru, Murid juga Pengetahuan yang menyertai kita?

Bisa ditarik kesimpulan:
Guru di sekolah, ialah Guru Sareat/guru secara lahiriah, biasanya seseorang yang menjadi guru masih membutuhkan makan dan minum, karena ia memang Orang atau manusia yang secara alamiah diterapan/disertai berbagai macam SIFAT termasuk SIFAT LAPAR dan SIFAT HAUS.
GURU sebenarnya, ia menyertai siapa saja, juga menyertai seseorang yang menjadi Guru. Karena nya, Kalimat "GURU ialah Pahlawan tanpa Tanda jasa" sangatlah benar.

Oleh karena itu, "Panggihkeun Guru atawa murid nu marengan diri"(indonesia: Temukan Guru atau murid yang menyertai diri). Dan pesan dari Mama yang saya tahu dari saudara sepupu*saya tadi ialah, "lebih baik Jadi SISWA/MURID dari pada mengaku-aku sebagai GURU, karena kalau jadi SISWA mah suka diberitahu hal-hal yang tidak kita ketahui oleh GURU"

Demikian yang saya pelajari, jika kurang berkenan mohon saling koreksi.

03 Februari 2009

Kegagahan & Technology

Dari cerita Saudara Sepupu, pada waktu mama sepuh masih ada, mama memang mengajarkan beberapa hal tentang kegagahan, dan memang waktu itu termasuk "masa"nya, di samping sebagai amalan, ada juga beberapa kalimah yang jika diamalkan akan membuat seseorang yang membacanya akan "begini" atau "begitu", dan memang begitu pada waktu itu (ceuk urang sunda mah geus ilaharna nalika harita mah), dan memang pada waktu itu yang berguru pada mama sepuh teh sangat patuh pada apa-apa yang dianjurkan oleh syareat mama. Jadi memang digunakan seperlunya jika diperlukan saja.

Karena pada waktu itu masa penjajahan, ilmu pengetahuan yang syareatnya diajarkan oleh mama itu sangat berguna bagi perjuangan kemerdekaan yang intensitas penggunaannya begitu banyak/sering. Namun setelah masa penjajahan berakhir dan diteruskan masa mempertahankan kemerdekaan (kurang lebih sampai tahun 1965-an), pelajaran kegagahan sudah jarang digunakan (bukan tidak pernah). Pesan dari mama mengenai penggunaan ilmu kegagahan yang saya tahu dari saudara sepupu hanya "Digunakan jika sangat penting" (makna sebenarnya dari kalimat tersebut belum terlalu saya pahami).

Masih nyambung dengan tulisan tadi, saudara sepupu memaknainya begini: Dulu menggunakan ilmu kegagahan karena masa itu masa perjuangan, banyak orang yang berlatih ilmu kegagahan. namun kini masanya teknologi.

  • Jika mau ngasih tau orang dengan jarak yang jauh cukup telepon atau sms.
  • Jika ingin nyampai ke tempat yang jauh dengan waktu singkat gunakan kendaraan seperti sepeda motor, mobil, kapal laut, kapal terbang dll.
Untuk saat ini lebih baik temukan perkara ke-Jabbar-an milik Allah itu apa, nyata sekali PESAWAT TERBANG, MOBIL, MOTOR dll itu termasuk perkara ke-Jabbar-an milik Allah. Nyata sekali, TELEPON, HP, INTERNET, MOBIL, MOTOR dll itu termasuk perkara ke-Jabbar-an milik Allah.


Contoh, Mari kita tafakuri Pesawat terbang, hanya berupa lempengan logam berkolaborasi dengan bongkahan logam yang membentuk mesin pesawat terbang dan mungkin juga dengan air, udara, api dan minyak/bahan bakar bisa terbang dengan dikendarai oleh seorang pilot dan seorang kopilot. Kalau bukan karena Ijin Allah, benda-benda tersebut tidak akan bisa terbang, Jadi Hanya Karena Ke-jabbar-an Milik Allah lah dan Ijin Allah lah, benda tersebut(pesawat terbang) bisa ada dan juga terbang.

Menemukan perkara ke-Jabbar-an milik Allah, merupakan salah satu jalan kita untuk lebih banyak bersyukur.

  • Tanpa perlu membuat mobil kita bisa menikmatinya walupun hanya angkot atau taksi.
  • Tanpa perlu membuat sepeda motor kita bisa menikmatinya, meskipun itu hanya sebuah ojek.
  • Bagi yang pernah naik pesawat terbang, tanpa perlu membuat pesawat terbang tanpa perlu membuat tiketnya, tanpa perlu membuat uang untuk membeli tiketnya tanpa perlu belajar mengemudikannya kita bisa menikmatinya.
  • Bagi yang belum pernah naik pesawat terbang, tanpa perlu membuat pesawat terbang kita bisa menikmatinya, meskipun hanya melihatnya. Kalau mama mah dulu dibisakan mencapai jarak yang jauh hanya dalam waktu singkat sendirian, nah saat ini mah kita bisa rame-rame nyampai dengan waktu singkat meskipun jaraknya jauh, yah dengan teknologi pesawat terbang.
Jadi bisa dikatakan bahwa apa yang dilakukan mama waktu dulu dan teknologi pesawat terbang saat ini teh sama-sama perkaranya keJabbaran Milik Allah.

Untuk yang nggak/belum bisa Ilmu kegagahan Tidak usah berkecil hati, bersyukur atas nikmat yang telah Allah nikmatkan, bisa juga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita.
Begitulah kira-kira obrolan saya dengan saudara sepupu.

NB: Ilmu Kegagahan yang dimaksud dijelaskan pula di sini

29 Januari 2009

Sebenarnya Siapa BODOH teh?

BODOH ialah mahluk milik Allah yang menyertai mahluk lainnya yang juga milik Allah seperti menyertai manusia, tapi bukan hanya BODOH yang menyertai Manusia, mahluk milik Allah yang juga menyertai manusia yaitu PINTAR, SEDIH, GEMBIRA, KEINGINAN, HARAPAN, KESAL, RAJIN, GIAT, LUPA dll.(boleh ditambahkan jika berkenan).
Jika BODOH berkata, "Saya ini BODOH", kalimat tersebut sangat PAS, karena yang mengatakan kalimat tersebut ialah BODOH itu sendiri.
Jika Manusia berkata, "Saya ini BODOH", Kalimat tersebut Kurang PAS. Yang PAS menurut pengetahuan yang saya pelajari ialah "Abdi mah diterapan BODO"/"Saya mah disertai BODOH"
Maksudnya teh supaya kita lebih mengenal Anggota Negara badan yang kita tempati.
Jangan sampai kita ini Merasa Kalau : BODOH, PINTAR, SEDIH, GEMBIRA, BAGEUR, BENER, KASEP, GEULIS, CANTIK, GANTENG, KESAL, RAJIN, GIAT, LUPA dll itu adalah SAYA/Abdi
Tetapi: BODOH, PINTAR, SEDIH, GEMBIRA, BAGEUR, BENER, KASEP, GEULIS, CANTIK, GANTENG, KESAL, RAJIN, GIAT, LUPA dll itu menyertai Saya.
Itulah sebabnya pada postingan sebelumnya dibahas tentang Negara Badan.
Masih dari pengetahuan yang saya pelajari dikatakan:BODOH Selamanya BODOH, dari masa nabi adam hingga kini, BODOH tetaplah BODOH, BODOH tidak pernah PINTAR, dan PINTAR tidak pernah BODOH.
PINTAR Selamanya PINTAR, dari masa nabi adam hingga kini, PINTAR tetaplah PINTAR, PINTAR tidak pernah BODOH, dan BODOH tidak pernah PINTAR.
Tapi......Seseorang, Ia disertai PINTAR dan BODOH, kadang-kadang PINTAR kadang-kadang BODOH. Sebentar PINTAR sebentar BODOH. Disebut PINTAR dan BODOH hanya pada Waktunya Terjadi.
Contoh Saya Sendiri: Saya bisa dikatakan sedang PINTAR, jika berbicara tentang mengendarai sepeda motor(maksudnya Bisa mengendarai motor), tapi saya Bisa Dikatakan sedang BODOH, jika disuruh mengendarai Mobil.
Contoh lain: Albert Einstein Katanya seorang yang disertai dengan kejeniusan kata lainnya PINTAR. Tapi mungkin Ia akan disebut sedang mengalami keBODOHan, Jika ia disuruh Berbahasa INDONESIA.
BODOH mengandung makna "Tidak Tahu".
Masih dari pengetahuan yang saya dapat dan saya pelajari, dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW, menggunakan PINTAR dan BODOH yang menyertainya untuk melakukan Amal kebaikan.Bagaimana Menggunakan PINTAR yang menyertainya? Dengan Melaksanakan Apa-apa perintah yang dianjurkan seperti salah satunya memberi sodakoh, atau Zakat, membantu yang kurang dimampukan dari segi materi, Nabi Muhammad SAW akan menggunakan PINTAR milik Allah, yang menyertainya, untuk dapat sungguh-sungguh dalam menjalankannya.
Tapi....Beliau akan menggunakan BODOH, dalam melaksanakan Hal-hal yang dicegah untuk dilakukan. dengan kata lain beliau Tidak melaksanakan hal-hal yang dilarang berdasarkan Hukum yang tentu(ALQur'an).

20 Januari 2009

Amilin dan Abdul Jabbar

Mun ngadangu carios ti pun bapa, nu kantos tepang sareng mama sepuh waktos aya keneh dikieuna. harita pun bapa nuju alit keneh kirang langkung yuswa 11-12 taun, anjeuna ningali yen tamu nu sumping ka teun mama sepuh di lengkong sok seueur, mun saur kapi lanceuk mah, aya nu butuh ku bubutuh, aya oge nu butuh ku pangaweruh. Di caket tempat mama linggih, aya hiji wadah sebut wae baskom, eta baskom ku mama dieusian amplop anu katampi ku mama ti para tamu nu marasihan, eta amplop teh ku mama tara di anggo kanggo ngagindingan anjeuna komo deui kulawargana. estu eta eusi baskom atawa amplop teh ku mama di pasihkeun deui ka tamu nu memang peryogieun nu katawis dina obrolan anu memang tos bagianana, eta margina mama kagelaran "amilin" sanes ka gelaran "ambilin". Gelar Amilin eta sanes gelar Jore-jore. Estu gelar ti kersana Nu Kagungan Gelar, eta mama ka gelaran ku lantaran ngalakonan sakumaha gawena eta Gelar. Matakna Mama kasohorna Mama Amilin, nu osok masihkeun sodakoh ti saha bae ka saha-saha nu tos bagianana.

Kapetik pelajaran dina eta carios, yen urang cobi pisahkeun antawis Mama, gelar Amilin sareng Gelar Abdul Jabbar, eta masing-masing terpisah. Eta ku dua gelar mama kagelaran, sesuai sareng naon-naon anu dilakukeunana. Tah dumugi urang anu simpati ka Mama, tiasa ngalakonan sakumaha lalakon anu kaalaman ku sareat mama .


(Indone-maneh)
Jika mendengar cerita Ayah, yang pernah bertemu dengan mama sepuh semasa dia masih ada. Waktu itu ayah masih kecil kurang lebih berumur 11-12 tahun, dia melihat bahwa tamu yang datang ke mama sepuh di lengkong sangat banyak, kalau kata sepupu mah ata yang butuh sama kebutuhan sehari-hari, ada juga yang butuh dengan pengetahuan. di dekat tempat mama duduk, ada sebuah wadah sebut saja baskom, baskom tersebut oleh mama diisi amplop yang mama terima dari para tamu yang memberikan kepadanya, amplop tersebut oleh mama tidak pernah dipergunakan untuk kesenangan pribadinya apalagi keluarganya. Tetapi isi baskom tersebut atau amplop itu oleh mama di berikan kepada tamu yang memang membutuhkannya yang terlihat dalam pembicaraan sebelumnya dan memang sudah bagiannya, itu sebabnya mama kagelaran "Amilin" bukan kagelaran "Ambilin". Gelar amilin tersebut bukan gelar sembarang gelar, tapi gelar dari kehendak Yang Maha Memiliki Gelar, Mama Kagelaran oleh karena melakukan sesuai pekerjaan gelar tersebut. Oleh sebab itu mama terkenal dengan sebutan Mama Amilin, yang suka memberikan sodakoh dari siapa saja kepada siapasaja yang memang bagiannya.

Terpetik sebuah pelajaran dari cerita tersebut, bahwa kita mencoba memisahkan antara Mama, Gelar Amilin dan Gelar Abdul Jabbar, masing-masih terpisah. Oleh Dua Gelar Tersebut mama Kagelaran, sesuai apa-apa yang dilakukannya. Semoga bagi kita yang simpati kepada MAma, bisa melakukan seperti yang teralami oleh Sareat Mama.

(NB: Kata Saudara mah nama Aslinya teh Mama Iming)

Politikus Ulung

Aya hiji carita ngenaan Mama H. Amilin nu kagelaran Abdul Jabbar, anu ku sim kuring kadangu diriwayatkeun ku kapilanceuk sababiah sim kuring.

Kieu caritana:
Hiji waktos dihiji tempat aya hiji awewe anu pagaweana kurang hade, sebut wae ku jaman kiwari mah PSK, manehna geus sababaraha peuting teu "beubeunangan", manehna menang info "cenah mun hayang payu deui mah datang wae ka teun Mama Amilin", nya, eta awewe teh ngagugu kana omongan eta teh. manehna ngajugjug ka padumukan mama Amilin di daerah lengkong bandung, pas panggih manehna nyaritakeun naon-naon anu tumiba ka manehna, yen manehna ampir sabaraha peuting "Dagang"na tiiseun. Mama ngan ukur ngadangukeun. beres eta awewe nyarita, mama ngasongkeun tulisan kalimah "Bismillahhirohmaniirohim" bari nyarita "yeuh nyai, paragi meh heneuteun, aos bae 13 kali samemeh damel, 13 kali samemeh kulem". eta awewe atoheun di asongan eta kalimah. isukna manehna ngalakonan naon-naon anu di obrolkeun samemehna.

sababara poe tiharita, eta awewe datang deui ka mama amilin, manehna nyaritakeun deui pangalaman nu tiba ka manehna, yen cenah samulihna ti mama, manehna ngalakukeun nu diucapkeun ku mama, tapi bororaah haneuteun, malah mah taya nu ngalieuk-lieuk acan ka manehna, manehna sababara poe ieu jadi sering kapikiran, "naha bet kieu?","salah kitu nu dilakonan teh?", "Salah meureun", jeung loba-loba deui pikiran anu ahirna manehna tobat tina kalakuan nu teu saluyu jeung hukum. Mama ngan ukur gumujeung bari nyarios "Alhamdulillah, nyai, pitulung eta teh, bagja... barokahna bae".

Dina carita diluhur, ka petik ku simkuring yen mama teh "Politikus Ulung", teu make panyarek, teu nganggo sosorongot boh popolotot, tapi ngangge basa sareng budi pekerti nu luhur, saha bae tiasa kengeng hidayah ku kersana anu Kagungan arurang.


(indone-maneh)
ada sebuah cerita tentang Mama H. Amilin yang bergelar Abdul Jabbar, yang Saya dengar dan diriwayatkan oleh saudara sepupu*saya:

Begini ceritanya:
Suatu hari di sebuah tempat ada seorang perempuan yang kerjanya kurang baik, sebut saja pada jaman sekarang dengan sebutan PSK, ia sudah beberapa malam tidak dapat pelanggan, Dia mendapat informasi "Jika ingin Laku lagi mah datang saja ke mama Amilin", Ya, perempuan tersebut nurut saja pada ucapan itu, dia pergi ke rumah mama Amilin di daerah lengkong bandung, ketika bertemu dia bercerita apa yang ia alami, bahwa ia hampir beberapa malam "Dagang"nya gak laku. Mama hanya mendengarkan. Setelah perempuan itu selesai bercerita, mama menyerahkan tulisan kalimah "Bismillahhirohmaniirohim" sambil berkata "Nih Nyai, untuk supaya rame, baca saja 13 kali sebelum bekerja dan 13 kali sebelum tidur", perempuan tersebut gembira disodori kalimah tersebut. besoknya ia mulai melaksanakan apa-apa yang dibicarakan sebelumnya.

Beberapa hari setelah itu, perempuan tersebut datang lagi ke mama Amilin, ia menceritakan lagi pengalaman yang ia alami, bahwa sepulang dari mama, ia melakukan sesuai ucapan dari mama, tapi bukannya rame/laku, malahan tidak ada satupun yang mau menoleh kepadanya, beberapa hari itu selalu terpikir "Kenapa begini?", "Salahkan yang saya lakukan ini?", "kemungkinan Salah"
dan banyak lagi pikiran yang akhirnya ia bertobat dari kelakuan yang tidak sejalur dengan hukum. Mama Hanya tersenyum sambil berkata "Alhamdulillah, nyai, pertolongan itu teh, bahagia... barokahNya saja".

Dari cerita di atas, terpetik pelajaran oleh saya pribadi bahwa mama seorang "Politikus Ulung", tanpa Melarang, tanpa Memaksa dan marah, tetapi dengan bahasa dan budi pekerti yang Luhur, siapa saja bisa mendapat Hidayah oleh Kehendak Yang Maha Memiliki Kita semua.