Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

13 Oktober 2009

Ayat AlQur'an yang Menyelamatkan

Suka ada-ada saja yang terlintas dalam diri ketika membaca sebuah statement atau pernyataan dan pertanyaan dari orang lain seperti membaca tulisan dari seorang sahabat yang katanya begini:
Cobi terangkeun ayat mana wae di Al Quran anu bakal nyalametkeun urang....?? jeung saha anu bakal nyalametkeun diri urang.teh.???
di kitab mama sepuh aya sok buka..tah nu gaduh koleksi buku nu lengkap..mangga
Ayat Qur'an anu bakal nyalametkeun nyaeta ayat Qur'an nu teu nyilakakeun.
Mun nu bakal nyalametkeun diri, nya urang pisan. Urang diterapan elmu jeung akal, diterapan budi pamilih. Resep kana pisalameteun atawa picilakaeun? mangga dipilih, di timbang timbang. Resep wungkul kana pisalameteun can tangtu bakal salamet, sabab kudu dipigawe mun hayang salamet mah, eta tata cara pisalameten teh. Carana Kumaha? pan tadi disebutkeun, urang diterapan ku elmu jeung akal, naha dipake naon wae eta elmu jeung akal teh? naha dipake mempelajari kana hukumna Alloh Ta'alla atawa henteu? Sigana... sigana ieu mah... mun saeutikna diajar mah, apal tata carana.
(endone-maneh: Ayat Qur'an yang akan menyelamatkan yaitu ayat Qur'an yang tidak mencelakakan.
Kalo yang akan menyelamatkan Diri, ya Kita. Kita disertai ilmu dan akal, disertai hak memilih. Suka pada yang Menyelamatkan atau yang mencelakakan? Silahkan pilih, ditimbang-timbang. Jika Hanya Suka pada yang menyelamatkan belum tentu akan selamat, sebab harus dikerjakan kalo ingin selamat mah, itu tata cara keselamatan. Gimana caranya? kan tadi disebutkan, Kita disertai ilmu dan akal, Dipakai apa saja ilmu dan akal itu? apakah dipake mempelajari hukum-hukum nya Alloh Ta'alla atau tidak? Kayaknya... ini mah kayaknya... kalau sedikitnya mempelajari mah, akan hapal tata caranya.)

Mun teu kaharti kumaha?

Tertarik pada sebuah pertanyaan dari seorang teman yang katanya:
Betul belajar Al Quran..tidak sesat mun kaharti..mun teu kaharti kumaha..???

Dan saya "tergelitik" untuk menuliskan sesuatu walaupun dengan keterbatasan penguasaan materi :D
Dumasar kana pelajaran nu didapatkeun mah kieu, Nya Mun teu kaharti mah taroskeun deui, Antosan nepi kadongkap eta HARTI/NGARTI. sabab HARTI teh lain DIRI PRIBADI. Mun DIRI PRIBADI eta HARTI, atuh teu kudu tunya tanya deui da geus kaharti. eta cirining diri butuh ku NGARTI atawa HARTI, oge butuh ku nu sejenna deui.
(endone-maneh: Ikutan ah... mohon maaf sebelumnya, berdasakan pada pelajaran yang saya dapatkan, Ya Kalo gak ngerti mah tanyain lagi, Tunggu sampai datangnya NGERTI/PENGERTIAN. Sebab Ngerti bukan Lah DIRI PRIBADI, kalau DIRI PRIBADI adalah NGERTI. ya nggak usah Nanya Lagi karena sudah Mengerti. Itu Ciri DIRI butuh NGERTI/PENGERTIAN, juga Butuh yang lainnya Juga)

Pangalaman yang teralami ku sim kuring, dimana suatu pernyataan teu kaharti/tidak mengerti, suka ditanyakan ulang kepada nara sumber atau seseorang yang diperkirakan mengetahui jawabannya, dimana jawaban masih tidak dimengerti, cukup sudah sampai disitu, namun setiap perbincangan mengenai pertanyaan dan jawaban yang tersebut tadi, akan selalu diingat-ingat / dicatat, dan Alhamdulillah selalu datang itu HARTI/PENGERTIAN, meskipun waktunya tidak tentu, bisa jadi 2 menit atawa 2 jam atawa 2 hari atawa 2 minggu atawa 2 tahun atawa atawa lainnya. yang penting bersyukur, jawaban yang dulu pernah diterima dapat dimengerti pada waktunya.. Amien...

12 Oktober 2009

Bismillah dan Perkara dari Nama-nama Allah

Di kutip lagi dari sini

Bismillahirohmannirohiim = Dengan menyebut Nama Allah, Arrohman dan Arrohim.

Jelasnya Yaa Allahu, Yaa Arrohmanu, Yaa Arrohimu ialah Nama-nama Allah.
Arrohmanu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Panjang dari Dunia Sampai Akhirat.
Arrohiimu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Pendek hanya di Dunia saja.

Tinggal Kita, bagaimana mensikapi atau berprilaku, apakah akan berbuat yang melanggar undang-undang/aturan/hukum yang akibatnya bisa panjang juga sampai ke akhirat.

Atau sebaliknya, Berbuat kebaikan yang akibatnya juga sampai ke akhirat.

Nikmat panjang dan nikmat pendek ialah perkara dari jenengan-jenengan Allah nyaeta Arrohmanu dengan Arrohiimu.

Dari pelajaran yang saya dapat, Jenengan-jenengan Allah mah gak artikan, namun makna & perkaranya bisa di pelajari.
Seperti tulisan di atas, atau Yaa 'Alimu maknana He Dzat Nu Kagungan UNINGA (Wahai Dzat Yang Memiliki TAHU/PENGETAHUAN)
He Dzat Nu Ng-UNINGA-keun (Wahai Dzat Yang Men-TAHU-kan)
Yaa 'Alimu ialah Nama Allah yang Perkaranya Mengetahui/Pengetahuan (ada di sini)

Mun ngungkap Dzat Allah mah kasengker ku Dzat Laesya Kamislihi Syae'un, DZat nu teu bisa diperumpamakeun, atawa di sapertikeun. Mangka Hade bisi nyapertikeun atawa ngumpamakeun.

23 Maret 2009

Tasawuf atau Tak Sanggup?

Berikut sebuah dialog antara Asep dan Warya, Tokoh dalam cerita ini hanya fiktif belaka, nama dan kejadian telah disamarkan atas persetujuan yang bersangkutan: :D, semoga kita mendapat secerca ilmu yang bermanfaat di dunia maupun akhirat.
"Kang, Bagaimana nih keadaan negara kita ini?, sepertinya tambah ke sini malah tambah kacau", tanya Warya kepada kakak sepupunya, Asep.
"Negara yang mana?", Asep balik bertanya.
"Negara kita, Indonesia", jawab Warya. Beberapa waktu Asep temenung mendengar ucapan Warya sambil terus menghisap rokok yang mungkin sudah tinggal dua hisapan lagi.
"Negara kita, yah?", kata Asep dengan nada penuh pertanyaan, sambil tetap menerawang memandangi kepulan asap rokok yang dikepuskannya.
"Iyah, negara kita", kata Warya menegaskan, namun Warya telihat agak bingung melihat kelakuan sepupunya itu.
"Mana sertifikatnya, War?", tanya Asep sambil mematikan api pada rokok yang sudah sangat pendek.
Ditanya begitu Warya tambah bingung, yang tadinya cuma agak bingung sekarang sudah benar-benar bingung.
"Maksudnya, Kang?", tanya Warya. Asep cuma mengangguk-anggukkan kepala lalu mengambil bungkusan rokok keretek dan mengambilnya satu batang, kemudian menyalakannya dan terus melihat ke arah Warya.
"Iyah, mana sertifikatnya?", tanya Asep seperti mempermainkan Warya. Warya hanya termenung.
"Kamu tadi bilang negara kita, sedangkan kata kita sendiri menunjuk terhadap arah kepunyaan atau kata kepemilikan, terus kata negara diikuti kata kita yang berarti negara kepunyaan kita, nah Akang mau tahu, mana sertfikatnya, kalau memang negara itu milik kita?", kata Asep. Warya termenung sebentar.
"Yah enggak ada, Kang, ada juga KTP", kata Warya.
"Eh, tapi Kang maksudnya apaan sih ngomong kayak gitu?", tanya Warya lagi.
"Dalam Agama dijelaskan, bahwa tidak ada satupun milik kita, semuanya hanya milik Allah, termasuk kita. Nah kamu tadi bilang negara kita, sedangkan dari kalimat sebelumnya dapat diketahui bahwa negara Indonesia, atau negara lainpun tetap kepunyaan Allah. Jadi mungkin dalam berbahasa yang harus kita benahi jangan sampai maksud yang kita utarakan berbeda dengan pemahaman yang tiba pada orang lain, tapi bahasa yang keluar dari kita lain juga dengan maksudnya", jelas Asep pada Warya. Warya manggut-manggut tanda mengerti.
"Betul yah Kang, mungkin tadi tuh maksudnya negara yang kita diami yaitu Indonesia, kalau begitu gimana Kang?", tanya Warya.
"Nah kalau gitu tepat, tapi kamu juga lebih baik mengetahui dulu yang lebih kecil dari negara Indonesia yang kamu diami itu. Negara Indonesia itu terlalu luas untuk dipikirkan, sedangkan kita itu bukan aparat pemerintahan negara, nah kalau kita sekarang memikirkan Indonesia apa ada yang menggaji kita, mending jadi anggota DPR yang mikirin negara juga digaji, nah kalau kita?", kata Asep.
"Bukan begitu maksudnya Kang, kita kan sebagai warga negara apa salahnya sih memikirkan negara Indonesia ini, toh kita diami?", tanya Warya.
"Iya Akang ngerti, itu merupakan perhatian dari warga negara yang baik, yang memikirkan negara yang dicintainya, tapi apa itu dapat menjadi kebaikan bagi dirinya. Gimana kalau gini, misalnya sekarang kita ngomongin negara ngalor ngidul, padahal dirumah ada tanggungan, seperti anak dan istri yang harus setiap harinya kita kasih uang yang istilahnya agar dapur tetap ngebul. Nah kita disini ngomong tidak menghasilkan apa-apa, malah uangpun tidak kita dapat, nah jika itu dijadikan perbandingan kita pilih yang mana apa akan ngomongin negara atau kita berusaha dalam mencukupi kebutuhan hidup?" jelas Asep.
"Ya lebih baik bekerja, Kang", jawab Warya.
"Nah itu jelas, kan," komentar Asep."Eh Kang, tadi akang bilang kita lebih baik tau negara yang lebih kecil dari Indonesia, negara mana lagi Kang?, propinsi, kota, kecamatan, kelurahan? yang mana kang?", tanya Warya seperti keheranan.
"Bukan itu, kalau itu mah sudah termasuk pada negara Indonesia, yang ini mah lebih kecil lagi namun lebih leluasa bergeraknya dari pada negara Indonesia sampai-sampai dapat menemui negara-negara yang lain, negara itu adalah Negara badan. Setiap diri dibarengi oleh negara badan, baik kamu, Akang, dan yang lainnya pun dibarengi juga oleh negara badan. Nah sekarang kita berbicara, bertemu karena adanya negara badan, jadi negara badan dan negara badan bertemu, malahan mah bisa langsung ngobrol", Asep menjelaskan pada Warya.
"Tapi Kang, kalau negara mah kan ada penghuninya, kalau negara badan apa saja penghuninya?" Warya terus bertanya.
"Negara badan sangat banyak penghuninya dari mulai anggota tubuh yang terlihat dan yang tidak terlihat, juga yang dirasakan seperti panca indra, tenaga, keinginan, kebutuhan, ketidakinginan, senang, gembira, sedih, rindu dan lainnya lagi yang mungkin sangat banyak dan kita tidak mungkin mengungkapnya dalam satu hari atau mungkin tidak terhitung jumlahnya oleh kita, nah apakah itu sudah kita syukuri? atau jangan-jangan kita baru disadarkan pada hal tersebut, tapi itu lebih baik dari pada yang belum menyadari", tegas Asep sambil tersenyum.
"Nah jika bicara negara Indonesia, sebenarnya Negara Indonesia itu tidak apa-apa, yang apa-apa itu isi dari pada negara Indonesia, tapi kita yakini bahwa hal itu tidak terlepas dari ketentuan kepunyaan Allah, yang lebih penting mah bagaimana setiap negara badan berbuat, bertingkah laku dalam negara yang luas seperti Indonesia, apakah banyak melakukan kebaikan atau kejelekan. Kayaknya mah jika setiap negara badan yang ada di negara Indonesia berbuat baik pasti di Indonesia tidak akan kacau", kata Asep.
"Oh, kesitu toh arahnya", kata Warya sambil tersenyum.
"Wah si Akang, nyampe kesitu yah pemikirannya", kata Warya kagum.
"Jadi War, akang tau akan sesuatu itu ditaukan oleh kehendak Allah, bukan akang tau sesuatu itu sok tau", Asep menjelaskan sambil tetap merokok.Warya tertawa ngakak mendengar ucapan Asep seperti itu. Warya manggut-manggut lagi, kemudian ia tersenyum.
"Kang, kalau kata orang mah akang teh termasuk ahli tasawuf, karena akang berpikiran sampai sejauh itu, yang saya rasa mah jarang diketemukan orang berpikir sampai sejauh itu", kata Warya sambil tetap manggut-manggut.
"Bukan tasawuf akang mah tapi tak sanggup", kata Asep sambil mengepuskan asap rokok yang dihisapnya.
"Wah si akang mah bisa aja. Iya yah, tak sanggup berbuat dosa, bukan begitu kang?" tanya Warya.
"Eh, akang mah tak sanggup itu karena akang ditaukan bahwa sanggup dan tak sanggup itu kepunyaan Allah, akang hanya menikmati saja dari sanggup dan tak sanggup kepunyaan Allah itu", kata Asep.
"Wah wah wah, si Akang", Warya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kang nanti saya mau belajar lagi ah sama Akang", pinta Warya pada Asep.
"Yah, kita sama-sama belajar, untuk menemukan kebenaran dan ketepatan dalam hal kita beribadah", kata Asep singkat.
"Iya yah Kang. Eh Kang saya mau pergi dulu ada urusan yang belum diselesaikan", kata Warya sambil menyodorkan tangan mengajak salaman pada Asep, kemudian keluar rumah dan pergi meninggalkan Asep.
"Asalamu'alaikum", kata Warya.
"Wa'alaikum salam", jawab Asep.

21 Januari 2009

Tauhid dengan Bismillah

Berikut Kutipan yang dikutip dari buku yang ditulis oleh Mama H. Amilin. yang disampulnya berjudul "Kitab Tauhid". Buku Aslinya berupa tulisan tangan dengan huruf arab dan basa sunda. berikut transliterasinya kedalam tulisan latin:
ALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘ALAMIN, ASHOLAATU WASSALAMU ‘ALA ASYROFIL AN BIYAA I WAL MURSALIN, SYAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WASHOHBIHI AJMA’IIN, AMMA BA’DU

Tangtos pisan sadayana nu nganut kana agama Islam mah moal aya anu hanteu terang kana kalimah Al Basmallah malihan anu hanteu nganut kana agama Islam ogé, seueur anu terangeun.
(Sangatlah Tentu, semua yang menganut agama Islam tidak ada yang tidak tahu terhadap kalimah Al Basmallah, malahan yang tidak menganut agama islam juga banyak yang mengetahui)

Ari margina kalimah Al Basmallah téh upami bangawan mah, lir ibarat sirahna atawa hulu wowotanana, ngan ari kalimah Al Basmallah mah sirahna kalimah Surat-Surat Al Qur'an. Barang ari Al Qur'an éta poko undang-undang dasar agama Islam, atuh kalimah Al Basmallah téh hulu wowotan agama Islam.
(alasannya kalimah Al Basmallah itu jika diibaratkan Sungai, ibarat Kepala atau Hulu/Sumber sungainya, hanya saja Kalimah Al Basmallah adalah Kepala Kalimah Surat-surat AlQur'an. Dan Al Qur'an itu adalah Pokok Undang-undang Dasar Agama Islam, Jadi Kalimah Al Basmallah itu ialah Sumber Agama Islam)

Lamun anu diajar agama Islam tina kalimah Al Basmallah heula, éta lir ibarat anu mapay bangawan ti girang ka hilirkeun, tangtu moal sasab, moal nyalahan kanu walungan kanu ngamuara, kana éta bangawan.
(Jika Belajar Agama Islam dari Kalimah Al Basmallah terlebih dahulu, itu seperti yang menyusuri Sungai dari Hulu ke Hilir, tentu tidak akan tersesat, tidak akan salah arah ke Sungai yang bermuara ke Sungai itu)

Tapi sabalikna anu mapay bangawan ti hilir kagirangkeun tangtu aya sasabna nyaéta dimana manggih muara, lamun hanteu aya nu nuduhkeun atawa aya nu nuduhkeun ogé dumadak hanteu percaya kanu nuduhkeun, lantaran walungan anu ngamuara téh sarua gedéna jeung bangawan anu dipapay téa atawa leuwih gedé. Atuh jadi kana sasabna baé.
(tapi Sebaliknya, yang menyusuri sungai dari hilir ke hulu, tentu akan tersesat seperti ketika menemukan muara, Jika tidak ada yang menunjukkan atau pun ada yang menunjukkan juga mendadak tidak akan percaya kepada yang menunjukkan jalan, sebab sungai yang bermuara tersebut sama lebarnya dengan Sungai yang disusuri sebelumnya malahan lebih lebar, tentulah Jadi tersesat)

Nya kitu nu diajar agama Islam, nyukcrukna tina hulu wowotanana heula, nyaéta tina kalimah Al Basmallah tangtu moal sasab margi ti girang ka hilirkeun, jadi dina nganyahokeun Tauhid ka Allah Ta'alla téh moal musrik, nyaéta nyasamakeun atawa nyarupakeun Allah Ta'alla jeung mahlukna, saperti itikadna jeung pangucapna nu hanteu nganut agama Islam.
(Begitu Juga yang belajar agama islam, menyusurinya dari hulu/sumbernya dahulu, yaitu dari kalimah Al Basmallah, tentu tidak akan tersesat sebab dari Hulu ke hilir, jadi dalam mengetahui Tauhid Kepada Allah Ta'alla itu tidak akan Musrik, yaitu menyamakan atau menyerupakan Allah Ta'allah dengan mahluk-Nya, Seperti Itikadnya dan Ucapannya yang tidak menganut agama islam)

Dari tulisan kutipan di atas ditegaskan bahwa untuk belajar agama islam, agar dimulai dengan mempelajari Kalimah Al-Basmalah karena merupakan sumber dari agama islam.
Bismillahirohmannirohiim = Dengan menyebut Nama Allah, Arrohman dan Arrohim.

Jelasnya Yaa Allahu, Yaa Arrohmanu, Yaa Arrohimu ialah Nama-nama Allah.
Arrohmanu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Panjang dari Dunia Sampai Akhirat.
Arrohiimu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Pendek hanya di Dunia saja.

Tinggal Kita, bagaimana mensikapi atau berprilaku, apakah akan berbuat yang melanggar undang-undang yang akibatnya bisa panjang juga sampai ke akhirat.

Atau sebaliknya, Berbuat kebaikan yang akibatnya juga sampai ke akhirat.

nb:
Dari pengalaman yang saya alami, setiap saya berkumpul dengan baraya di Bandung, jika membahas suatu topik, pembahasan tidak pernah lepas dari Bismillah, malahan hampir setiap pertemuan, setiap pembahasan, kembali dan kembali lagi pada bismillah, memang apa yang tertulis dalam kitab itu terbukti pada saya.

27 November 2007

Agama Melawan Kemiskinan?,Hmmm..

Ada Sebuah artikel yang pernah saya baca di sebuah blog dengan judul "Agama Melawan Kemiskinan".

Selain menarik untuk di baca menarik juga untuk dipikirkan, khususnya dari Judulnya.
AGAMA MELAWAN KEMISKINAN.

Hmmmm....

"bagaimana Agama melawan kemiskinan?"

"menggunakan apa agama ketika melawan kemiskinan?"

"salah apa kemiskinan, sampai-sampai agama harus melawan?"

"Siapa sih "Agama" dan "kemiskinan" itu? sampai-sampai harus ada yang melawan dan yang dilawan?"


Apakah lebih baik jika kita bertanya:

"Bagaimana dalam beragama, kita sebagai mahluk milik Allah mengatasi kemiskinan yang menyertai kita?"

Nabi Muhammad SAW dalam ajaran yang diterangkannya:
"Lahaola Walakuwata ilabillahi aliyil adzim"
"Tidak ada daya dan kekuatan milik saya, melainkan daya dan kekuatan milik Allah lah daya dan kekuatan yang menyertai saya".

Dari pelajaran ini di dapat bahwa nabi Muhammad, secara keasliannya merasa tidak memiliki apa-apa (kemiskinan). namun bukan berarti ia tidak menikmati banyaknya rezeki/harta yang dirizkikan kepadanya.

coba bandingkan, lebih baik mana?
- disertai harta yang banyak tapi menikmati *tidak memiliki apa-apa*, karena meyakini bahwa segala sesuatu itu milik Allah SWT. dan menikmati keuntungan dengan *menyadari benar* bahwa dengan tidak mengakui bahwa harta adalah milik *saya* menjadi *tidak angkuh* karena harta banyak yang menyertai.

- Tidak disertai harta banyak, dan merasakan bahwa kemiskinan adalah miliknya, dan merasakan ketidak bahagiaan karena *ketidak banyakan* harta yang menyertainya. (sedangkan jelas sekali bahwa *kemiskinan* ialah mahluk milik Allah yang menyertai mahluk lainnya)

Kemiskinan dan kekayaan ialah mahluk milik Allah, yang menyertai mahluk lain yang merupakan mahluk Allah juga. Manusia yang disertai Akal dan ilmu pengetahuan, ada baiknya berpikir,

"Bagaimana cara mengatasi kemiskinan?"

Supaya netral:

"Bagaimana cara mengatasi kekayaan?"

... menurut pada undang-undang milik Allah yang telah ditentukan (AlQur'an) agar menambah amal kebaikan bagi kita?

Mungkinkah?
- Mulailah dari diri sendiri.
- Mulailah dari hal kecil (supaya netral>> atau besar)
- Mulailah saat ini (karena sesuatu yang telah terlewat tidak akan pernah bisa kembali lagi pada saat sebelumnya)

03 November 2007

Pertanyaan seputar Aliran agama dan Fatwa

Aliran sesat

Akhir-akhir ini di Indonesia digegerkan berbagai berita mengenai "aliran sesat", yang difatwa SESAT oleh MUI(Majelis Ulama Indonesia). Baru-baru ini muncul aliran-aliran yang mengatasnamakan ISLAM, seperti AlQiyadah alislamiah, Alqur'an suci, bahkan ada yang menyebutkan bahwa JIL (Jaringan Islam Liberal) pun SESAT.

Sebelumnya ada baiknya menyimak pertanyaan-pertanyaan seperti berikut:

APA pengertian ISLAM?
ISLAM ialah salah satu nama ALLAH, jelasnya AL-ISLAMU, perkara tentang Nama Allah AL-ISLAMU yaitu selamat dan saling menyelamatkan.

Bagaimana dengan Agama yang disebut Agama Islam?
Agama Islam merupakan Agama yang didasari keislaman, selamat dan saling menyelamatkan.

BAGAIMANA pelaksanaan keislaman?
keterangan AlQur'an menjelaskan, "Tidak ada paksaan dalam agama islam", pelaksanaannya ialah dengan mengikuti perintah milik Allah yang tertulis dalam AlQur'an.

PANTASKAH kita sebagai manusia yang diperintah untuk melakukan Kebaikan oleh perintah milik Allah , memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan sesuai perintah Allah tersebut?

Keterangan AlQur'an menerangkan "Dzat laesa Kamislihi Sae'un">>Dzat yang tidak bisa diserupakan atau dipersamakan.
Apakah bisa dikatagorikan "mempersamaakan" jika kita Memerintahkan kembali kepada orang lain apa-apa Perintah milik Allah?
Menurut AlQur'an, mempersamakan Dzat Allah dengan "sesuatu"(yang merupakan milik Allah) termasuk pada Dosa musyrik (Dosa besar yang tidak akan diampuni).

Pantasnya kita sebagai manusia yang diperintah untuk melakukan Kebaikan oleh perintah milik Allah ialah dengan melaksanakannya.

Nabi Muhammad tidak pernah memerintahkan orang lain untuk berbuat baik ataupun berbuat jahat, namun ia hanya menjelaskan ("nabi"=yang menjelaskan) bagaimana perbuatan baik menurut keterangan AlQuran dan perbuatan jahat/buruk menurut keterangan AlQur'an.

PANTASKAH saya mengaku beragama Islam?
Sepantasnya bagi setiap manusia yang berkenan untuk memperbanyak amal kebaikan ialah dengan melaksanakan apa-apa dilandasi dengan keislaman.

Berkaitan dengan isu mengenai Aliran sesat yang marak belakangan ini, bagaimana sebagai pribadi mensikapinya??
Ajaran atasnama ke-Islam-an mengajarkan sikap netral dan tidak fanatik terhadap ajaran apapun, karena pada hakekatnya semua / segala sesuatu merupakan milik ALLAH, sesuai dengan keterangan AlQur'an bahwa Tujuh lapis langit beserta isinya dan Tujuh petala bumi beserta isinya ialah milik Allah. Apa-apa yang terjadi pada setiap orang, mulai dari kedip mata, hembusan napas kemudian keinginan, harapan dan lain-lain, bahkan keyakinan, semuanya merupakan milik Allah.

Yang terjadi pada setiap orang merupakan sebuah ketentuan milik Allah. Setiap manusia di sertai dengan "hak memilih", hak memilih yang menyertai para penganut agama tidak bisa dipaksakan oleh orang lain pada orang lain, hanya orang tersebutlah yang akan memilih, ia akan memilih untuk menjalankan ajaran agama "A" atau "B" atau "C".

Apa daya saya, ketika orang lain melaksanakan peribadatan sesuai keyakinan yang menyertainya. ??
Apa hak saya, melarang-larang orang lain ketika melaksanakan peribadatan sesuai keyakinan yang menyertainya. ??
NAbi Muhammad mengajarkan "LAHAOLA WALAQUWATA ILABILAHI ALIYUL ADZIM">> "Tidak ada daya dan kekuatan milik saya, melainkan daya dan kekuatan milik Allah lah daya dan kekuatan yang menyertai saya".

Menyadari diri pribadi tidak berdaya dan berkekuatan jika tidak disertai daya dan kekuatan milik Allah, maka akan lebih arif dan bijaksana mensikapi segala sesuatu terjadi dimuka bumi ini.

Keyakinan yang terjadi pada diri dan orang lain ialah sama-sama keyakinan milik Allah, apakah akan merugikan bagi diri jika menghormati orang lain (mahluk lain) yang juga milik Allah?

Pada mahluk lain seperti binatang, lingkungan, hutan, dan Bumi yang dipijak ini, semua orang sangat peduli dan sangat menyanginya, (yang notabene: mahluk-mahluk tersebut belum jelas apa agamanya), tapi mengapa dengan sesama manusia, sering terjadi permusuhan akibat perbedaan keyakinan?? pantaskah perbuatan demikian terkatagori KEISLAMAN?

APAKAH boleh seseorang/ lembaga/ perkumpulan mem-FATWA orang/lembaga/perkumpulan lainnya?
Boleh-boleh saja, tapi apakah arif dan bijaksan langkah tersebut? dasarnya apa?
Dan objektifkah seseorang/ lembaga/ perkumpulan tersebut dalam mengeluarkan fatwa?
Penjurian yang dilakukan seseorang/ lembaga/ perkumpulan biasanya subjektif, mungkin karena hubungan keluarga, atau karena takut, penilaian bisa diubah-ubah seenaknya.

Contoh:
Sebuah kelompok yang mengatasnamakan islam, bertindak "kurang" simpatik pada bulan ramadhan, dengan mendatangi warung-warung makan yang buka pada siang hari, malahan ada yang bertindak sampai merusak. Padahal dibalik itu,
- ada banyak orang yang menunggu orang tuanya yang pulang berdagang untuk membawa rezeki dari hasil berdagang tersebut.
- tidak semua orang berpuasa pada waktu bulan ramadhan.(biasanya orang sakit, wanita yang sedang haid, anak-anak yang tidak puasa, orang yang dalam perjalanan dll.)
- para pedagang itu sedang melakukan ikhtiar dalam menempuh mendapatkan rizki milik Allah.

Pertanyaannya, apakah pantas kelompok yang mengatasnamakan islam tersebut disebut kelompok yang berlandaskan keislaman?
**Jika pantas, apakah dibenarkan oleh ajaran atas nama islam, untuk merusak, menghalangi orang lain untuk berusaha?

**Jika tidak pantas, pantas disebut apa kelompok tersebut? apakah pantas disebut dengan aliran sesat?

Bagaimana tindakan yang dilakukan oleh seseorang/ lembaga/ perkumpulan lain, yang "katanya" biasa mengeluarkan Fatwa terhadap kelompok yang mengatasnamakan islam tersebut?

Entah karena saudara, atau karena takut, atau mungkin karena merasa itulah ajaran atas nama islam yang mereka pelajari, sehingga terjadi proses subjektif terhadap sesuatu?

Penjurian pada sesuatu hanya Hukum(AlQur'an)lah yang menjuri baik/buruknya sesuatu itu dilakukan. Dengan mengeluarkan Fatwa, bisa diartikan seseorang/ lembaga/ perkumpulan menyaingi Hukum yang sudah tentu.

Jika Arif dan bijaksana yang dilakukan, mungkin akan menyatakan bahwa sebaiknya mempelajari ajaran atas nama islam lebih teliti lagi. Dan gali lebih dalam lagi kandungan isi AlQur'an, karena Ilmu milik Allah Ta'ala tidak hanya yang ada sampai detik ini, melainkan tidak terukur oleh hitungan dan tanpa batas ruang dan waktu.