Tampilkan postingan dengan label Bismillah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bismillah. Tampilkan semua postingan

13 Oktober 2009

Ayat AlQur'an yang Menyelamatkan

Suka ada-ada saja yang terlintas dalam diri ketika membaca sebuah statement atau pernyataan dan pertanyaan dari orang lain seperti membaca tulisan dari seorang sahabat yang katanya begini:
Cobi terangkeun ayat mana wae di Al Quran anu bakal nyalametkeun urang....?? jeung saha anu bakal nyalametkeun diri urang.teh.???
di kitab mama sepuh aya sok buka..tah nu gaduh koleksi buku nu lengkap..mangga
Ayat Qur'an anu bakal nyalametkeun nyaeta ayat Qur'an nu teu nyilakakeun.
Mun nu bakal nyalametkeun diri, nya urang pisan. Urang diterapan elmu jeung akal, diterapan budi pamilih. Resep kana pisalameteun atawa picilakaeun? mangga dipilih, di timbang timbang. Resep wungkul kana pisalameteun can tangtu bakal salamet, sabab kudu dipigawe mun hayang salamet mah, eta tata cara pisalameten teh. Carana Kumaha? pan tadi disebutkeun, urang diterapan ku elmu jeung akal, naha dipake naon wae eta elmu jeung akal teh? naha dipake mempelajari kana hukumna Alloh Ta'alla atawa henteu? Sigana... sigana ieu mah... mun saeutikna diajar mah, apal tata carana.
(endone-maneh: Ayat Qur'an yang akan menyelamatkan yaitu ayat Qur'an yang tidak mencelakakan.
Kalo yang akan menyelamatkan Diri, ya Kita. Kita disertai ilmu dan akal, disertai hak memilih. Suka pada yang Menyelamatkan atau yang mencelakakan? Silahkan pilih, ditimbang-timbang. Jika Hanya Suka pada yang menyelamatkan belum tentu akan selamat, sebab harus dikerjakan kalo ingin selamat mah, itu tata cara keselamatan. Gimana caranya? kan tadi disebutkan, Kita disertai ilmu dan akal, Dipakai apa saja ilmu dan akal itu? apakah dipake mempelajari hukum-hukum nya Alloh Ta'alla atau tidak? Kayaknya... ini mah kayaknya... kalau sedikitnya mempelajari mah, akan hapal tata caranya.)

12 Oktober 2009

Bismillah dan Perkara dari Nama-nama Allah

Di kutip lagi dari sini

Bismillahirohmannirohiim = Dengan menyebut Nama Allah, Arrohman dan Arrohim.

Jelasnya Yaa Allahu, Yaa Arrohmanu, Yaa Arrohimu ialah Nama-nama Allah.
Arrohmanu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Panjang dari Dunia Sampai Akhirat.
Arrohiimu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Pendek hanya di Dunia saja.

Tinggal Kita, bagaimana mensikapi atau berprilaku, apakah akan berbuat yang melanggar undang-undang/aturan/hukum yang akibatnya bisa panjang juga sampai ke akhirat.

Atau sebaliknya, Berbuat kebaikan yang akibatnya juga sampai ke akhirat.

Nikmat panjang dan nikmat pendek ialah perkara dari jenengan-jenengan Allah nyaeta Arrohmanu dengan Arrohiimu.

Dari pelajaran yang saya dapat, Jenengan-jenengan Allah mah gak artikan, namun makna & perkaranya bisa di pelajari.
Seperti tulisan di atas, atau Yaa 'Alimu maknana He Dzat Nu Kagungan UNINGA (Wahai Dzat Yang Memiliki TAHU/PENGETAHUAN)
He Dzat Nu Ng-UNINGA-keun (Wahai Dzat Yang Men-TAHU-kan)
Yaa 'Alimu ialah Nama Allah yang Perkaranya Mengetahui/Pengetahuan (ada di sini)

Mun ngungkap Dzat Allah mah kasengker ku Dzat Laesya Kamislihi Syae'un, DZat nu teu bisa diperumpamakeun, atawa di sapertikeun. Mangka Hade bisi nyapertikeun atawa ngumpamakeun.

18 Februari 2009

Ajaran Mama Amilin dan Melebu

Setelah sekian lama tidak menuliskan sebuah postingan di thread, saya merasa tertarik dari pertanyaan seorang teman, "apakah mempelajari dan mengamalkan ajaran Mama Amilin hanya sekadar untuk melebu?", pertanyaan yang luar biasa, mengapa dikatakan luar biasa? karena hal tersebut membuat saya jadi berpikir keras untuk dapat memahaminya dan mengetahui jawaban yang pas dan pantas untuk pertanyaan tersebut. Berikut ialah tulisan yang dipost untuk menanggapi pertanyaan tersebut:
Di kersakeun Melebu atawa henteu, eta mah sanes karep urang, Eta mah teu beunang dihayang-hayang atawa diembung-embung. Ku kersana nu kagungan bae dikersakeun melebu atanapi henteuna mah. Mama kantos nyaurkeun kieu, "Kanggo nu teu dikersakeun melebu teu kedah alit manah, da biasana nu teu dikersakeun mah di ajar kana katerangan(red:Al Qur'an) teh leuwih apik tur soson-soson"
(endone-maneh:)
Dikehendaki melebu atau tidak, itu mah bukan kehendak kita, itu mah tidak dapat diminta atau tidak dapat ditolak, oleh kehendak Yang Maha Memiliki saja dikehendaki melebu atau tidaknya mah. Mama pernah berkata begini "Untuk yang tidak bisa melebu tidak usah berkecil hati, biasanya yang ditidak bisakan mah, belajar Keterangan(red:Al Qur'an) itu lebih apik dan sungguh-sungguh"
Kalimat ajaran Mama Amilin dari pertanyaan di atas tidak luput dari pemikiran, istilah Ajaran Mama Amilin memang timbul baru-baru ini, atau mungkin udah lama, namun yang saya ketahui, istilah itu kurang pas, karena yang mama Amilin sendiri pelajari dan amalkan adalah Ajaran Al Qur'an. Jadi kalo kita mengatakan ini adalah Ajaran Mama Amilin atau Ajaran Mama Amilin Abdul Jabbar, rasanya gimana gituh....??? Sepertinya Ada lagi ajaran baru selain AlQur'an. Padahal Setelah AlQur'an teh Tidak ada lagi yang dapat menggantikannya.

04 Februari 2009

Bismillahi sami'il 'alim

Dari yang saya dapat dan saya pelajari.


Bismillahi sami'il 'alim

Dari buku peninggalan Mama Sepuh yang pernah saya baca, dijelaskan bahwa:
Bi ismi Allah >>> Ku nyebat Jenengan Allah (Dengan menyebut Nama Allah)

Yaa Sami'u =
He Dzat Nu Kagungan DANGU (Wahai Dzat Yang Memiliki DENGAR/PENDENGARAN)/
He Dzat Nu Nga-DANGU-keun (Wahai Dzat Yang Men-DENGAR-kan)
>>> Nama Allah yang Perkaranya Mendengar

Yaa 'Alimu =
He Dzat Nu Kagungan UNINGA (Wahai Dzat Yang Memiliki TAHU/PENGETAHUAN)
He Dzat Nu Ng-UNINGA-keun (Wahai Dzat Yang Men-TAHU-kan)
>>> Nama Allah yang Perkaranya Mengetahui

Dzat Allah Ta'alla, Dzat Yang Memiliki DENGAR/PENDENGARAN juga Dzat Yang Memiliki

TAHU/PENGETAHUAN. Sifat Mendengar ataupun Sifat Mengetahui menyertai(sunda=tumerap/terap) Mahluk, seperti manusia.

Manusia dibisakan menDENGAR(menikmati pendengaran) Karena DENGAR/PENDENGARAN milik Allah, Manusia dibisakan mengeTAHUi(menikmati pengetahuan) Karena TAHU/PENGETAHUAN milik Allah, dan lain sebagainya.

Dari mulai Nabi Adam AS digelarkan, DENGAR/PENDENGARAN telah menyertainya, hingga sekarang, begitu pula TAHU/PENGETAHUAN.

PENDENGARAN dan PENGETAHUAN milik Allah telah tunduk patuh sebagaimana tugasnya ketika menyertai manusia. PENDENGARAN dan PENGETAHUAN tidak pernah sombong ataupun berteriak "HAi... kami telah membuat manusia mendengar dan Tahu akan hal-hal yang mereka belum tahu.. Aku Hebat Ya!!!".
Sebagai bahan Tafakur, Telah kita gunakan untuk apa PENDENGARAN dan PENGETAHUAN yang menyertai kita? Apa untuk kebaikan atau keburukan?

Itu baru 2 perkara milik Allah. Bagaimana dengan perkara lainnya milik Allah yang menyertai kita? seperti PENGLIHATAN dan MATA, LANGKAH dan KAKI, GENGGAMAN dan TANGAN, PENCIUMAN dan HIDUNG, PIKIRAN dan OTAK, PERASAAN dan HATI, AKAL, KEINGINAN, HARAPAN, SENANG, SEDIH, PINTAR, BODOH, GIAT/RAJIN, MALAS dll. Telah kita gunakan untuk apa? Apa untuk kebaikan atau keburukan?

Demikian Sedikit Sharing apa-apa yang didapat. Semoga bisa menjadi bahan tafakur untuk kita semua, terutama saya pribadi.

24 Januari 2009

Bismillah dengan Ikhlas

Ada sepenggal cerita ketika saya masih duduk di bangku sma.

Saya bertanya kepada sepupu*saya, apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan angan-angan, keinginan, harapan dan sebangsanya ketika kita mengucapkan kalimah al-basmalah?
dijawab begini: "mengucapkan kalimah milik Allah yang mana saja kita harus rido ikhlas tanpa pandangan(red:pamrih) apapun hanya menurut perintah Allah saja, namun bila muncul atau tiba/datang angan-angan, keinginan, harapan dan sebangsanya ketika kita mengucapkan kalimah-kalimah milik Allah, itu mah urusan lain lagi, biarkan saja, karena angan-angan, keinginan, harapan dan sebangsanya itu mahluk milik Allah juga."

Contoh: ketika kita akan berpergian, perintah Allah memerintahkan "dalam memulai sesuatu harus dimulai dengan membaca kalimah al-basmallah", namun kadang-kadang muncul angan-angan, keinginan, harapan dan sebangsanya seperti "ah saya baca bismillah dulu supaya selamet di jalan".

kalimat "supaya selamet di jalan" merupakan angan-angan, keinginan, harapan dan sebangsanya, itu mah diluar konteks perintah Allah, lebih baik tidak terlalu dihiraukan karena bisa-bisa Niat yang kita jalankan bukan lagi "Karena menurut pada perintah Allah", tapi "supaya selamat di jalan", kan jadi jauh tuh.

Tapi... ini ada tapinya... Kalau pun ketika dijalan kita diselamatkan, kita akan lebih bersyukur.
kebaikan-demi kebaikan kita tempuh, dari mulai niat membaca albasmallah, yang karena perintah Allah yg memerintahkan dan bersyukur atas nikmat selamat yang kita nikmati setelahnya.

Berbeda dengan yang niatnya "Supaya selamat di jalan", ketika diperjalanan ia celaka, yang akhirnya menyalahkan "Kalimah ini gak ampuh, saya baca tapi tetep saja saya celaka".
Kejelekan-demi kejelekan terjadi, nambah nambah dosa wae..


21 Januari 2009

Tauhid dengan Bismillah

Berikut Kutipan yang dikutip dari buku yang ditulis oleh Mama H. Amilin. yang disampulnya berjudul "Kitab Tauhid". Buku Aslinya berupa tulisan tangan dengan huruf arab dan basa sunda. berikut transliterasinya kedalam tulisan latin:
ALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘ALAMIN, ASHOLAATU WASSALAMU ‘ALA ASYROFIL AN BIYAA I WAL MURSALIN, SYAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WASHOHBIHI AJMA’IIN, AMMA BA’DU

Tangtos pisan sadayana nu nganut kana agama Islam mah moal aya anu hanteu terang kana kalimah Al Basmallah malihan anu hanteu nganut kana agama Islam ogé, seueur anu terangeun.
(Sangatlah Tentu, semua yang menganut agama Islam tidak ada yang tidak tahu terhadap kalimah Al Basmallah, malahan yang tidak menganut agama islam juga banyak yang mengetahui)

Ari margina kalimah Al Basmallah téh upami bangawan mah, lir ibarat sirahna atawa hulu wowotanana, ngan ari kalimah Al Basmallah mah sirahna kalimah Surat-Surat Al Qur'an. Barang ari Al Qur'an éta poko undang-undang dasar agama Islam, atuh kalimah Al Basmallah téh hulu wowotan agama Islam.
(alasannya kalimah Al Basmallah itu jika diibaratkan Sungai, ibarat Kepala atau Hulu/Sumber sungainya, hanya saja Kalimah Al Basmallah adalah Kepala Kalimah Surat-surat AlQur'an. Dan Al Qur'an itu adalah Pokok Undang-undang Dasar Agama Islam, Jadi Kalimah Al Basmallah itu ialah Sumber Agama Islam)

Lamun anu diajar agama Islam tina kalimah Al Basmallah heula, éta lir ibarat anu mapay bangawan ti girang ka hilirkeun, tangtu moal sasab, moal nyalahan kanu walungan kanu ngamuara, kana éta bangawan.
(Jika Belajar Agama Islam dari Kalimah Al Basmallah terlebih dahulu, itu seperti yang menyusuri Sungai dari Hulu ke Hilir, tentu tidak akan tersesat, tidak akan salah arah ke Sungai yang bermuara ke Sungai itu)

Tapi sabalikna anu mapay bangawan ti hilir kagirangkeun tangtu aya sasabna nyaéta dimana manggih muara, lamun hanteu aya nu nuduhkeun atawa aya nu nuduhkeun ogé dumadak hanteu percaya kanu nuduhkeun, lantaran walungan anu ngamuara téh sarua gedéna jeung bangawan anu dipapay téa atawa leuwih gedé. Atuh jadi kana sasabna baé.
(tapi Sebaliknya, yang menyusuri sungai dari hilir ke hulu, tentu akan tersesat seperti ketika menemukan muara, Jika tidak ada yang menunjukkan atau pun ada yang menunjukkan juga mendadak tidak akan percaya kepada yang menunjukkan jalan, sebab sungai yang bermuara tersebut sama lebarnya dengan Sungai yang disusuri sebelumnya malahan lebih lebar, tentulah Jadi tersesat)

Nya kitu nu diajar agama Islam, nyukcrukna tina hulu wowotanana heula, nyaéta tina kalimah Al Basmallah tangtu moal sasab margi ti girang ka hilirkeun, jadi dina nganyahokeun Tauhid ka Allah Ta'alla téh moal musrik, nyaéta nyasamakeun atawa nyarupakeun Allah Ta'alla jeung mahlukna, saperti itikadna jeung pangucapna nu hanteu nganut agama Islam.
(Begitu Juga yang belajar agama islam, menyusurinya dari hulu/sumbernya dahulu, yaitu dari kalimah Al Basmallah, tentu tidak akan tersesat sebab dari Hulu ke hilir, jadi dalam mengetahui Tauhid Kepada Allah Ta'alla itu tidak akan Musrik, yaitu menyamakan atau menyerupakan Allah Ta'allah dengan mahluk-Nya, Seperti Itikadnya dan Ucapannya yang tidak menganut agama islam)

Dari tulisan kutipan di atas ditegaskan bahwa untuk belajar agama islam, agar dimulai dengan mempelajari Kalimah Al-Basmalah karena merupakan sumber dari agama islam.
Bismillahirohmannirohiim = Dengan menyebut Nama Allah, Arrohman dan Arrohim.

Jelasnya Yaa Allahu, Yaa Arrohmanu, Yaa Arrohimu ialah Nama-nama Allah.
Arrohmanu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Panjang dari Dunia Sampai Akhirat.
Arrohiimu ialah Salah satu Nama Allah, Yang perkaranya Yaitu Nikmat Pendek hanya di Dunia saja.

Tinggal Kita, bagaimana mensikapi atau berprilaku, apakah akan berbuat yang melanggar undang-undang yang akibatnya bisa panjang juga sampai ke akhirat.

Atau sebaliknya, Berbuat kebaikan yang akibatnya juga sampai ke akhirat.

nb:
Dari pengalaman yang saya alami, setiap saya berkumpul dengan baraya di Bandung, jika membahas suatu topik, pembahasan tidak pernah lepas dari Bismillah, malahan hampir setiap pertemuan, setiap pembahasan, kembali dan kembali lagi pada bismillah, memang apa yang tertulis dalam kitab itu terbukti pada saya.